Skip to content
Republik Gondour – Relift Media

Republik Gondour

Sekarang satu hal aneh berkembang—sejenis perlombaan, yang sasarannya adalah kuasa pilih! Tadinya seseorang dihormati hanya berdasarkan bilangan uang yang dia miliki, kini kemuliaannya diukur dengan jumlah hak suara yang dia pegang.


Segera setelah aku belajar bicara bahasa ini sedikit, aku jadi sangat tertarik pada masyarakat dan sistem pemerintah­annya.

Aku mendapati bangsa ini mulanya mencoba hak pilih universal yang murni dan sederhana, tapi kemudian membuang bentuk tersebut lantaran hasilnya tidak memuaskan. Itu terkesan menyerahkan seluruh kekuasaan ke tangan kelas-kelas jahil dan non-pembayar pajak; dan terpaksa jabatan-jabatan penting diisi dari kelas-kelas ini juga.

Sebuah obat dicari. Masyarakat percaya mereka sudah menemukannya; bukan dalam penghancuran hak pilih universal, tapi dalam perluasannya. Itu ide ganjil, dan cerdik. Kalian tentu paham, konstitusi memberi setiap orang sebuah hak suara; oleh karenanya suara tersebut adalah hak pribadi, dan tidak bisa direnggut. Tapi konstitusi tidak mengatakan individu-individu tertentu tidak bakal diberi dua hak suara, atau sepuluh! Maka sebuah klausa amandemen disisipkan diam-diam; klausa yang mengesahkan perluasaan hak pilih dalam kasus-kasus tertentu yang akan diperinci oleh undang-undang. Usulan untuk “membatasi” hak pilih bisa melahirkan masalah seketika itu juga; usulan untuk “memperluas”-nya mengandung aspek menyenangkan. Tapi tentu saja koran-koran mulai curiga: dan kemudian itu ketahuan! Namun ternyata untuk sekali-kalinya—dan untuk pertama kalinya dalam sejarah republik ini—harta, karakter, dan akal bisa memegang pengaruh politik; untuk sekali-kalinya, uang, kebajikan, dan kecerdasan menaruh perhatian vital dan bulat pada persoalan politik; untuk sekali-kalinya kekuatan-kekuat­an ini pergi ke “pemilu-pemilu pendahuluan” dengan senjata lengkap; untuk sekali-kalinya orang-orang terbaik di negeri ini dimajukan sebagai kandidat untuk parlemen bersangkutan yang urusannya adalah memperluas hak pilih. Paruh terberat dari pers cepat-cepat menggabung kekuatan dengan gerakan baru ini, dan sisa paruh lainnya mencerca proposal “peng­hancuran kebebasan” lapisan dasar masyarakat, kelas memerintah dari komunitas selama ini.

Kemenangannya total. Undang-undang baru disusun dan disahkan. Di bawahnya, setiap warga negara, betapapun miskin atau jahil, memiliki satu hak suara, jadi hak pilih universal masih berkuasa; tapi jika seseorang menguasai pendidikan sekolah umum yang bagus dan tak punya uang, dia memiliki dua hak suara; pendidikan sekolah tinggi memberinya empat hak suara; jika dia punya harta juga, sampai senilai tiga ribu ‘saco’, dia memegang satu hak suara tambahan; untuk setiap lima ribu ‘saco’ yang dia tambahkan pada hartanya, dia berhak atas satu hak suara lagi; pendidikan universitas memberi sembilan hak suara pada seseorang, sekalipun dia tak punya harta. Maka dari itu, mengingat pengetahuan lebih lazim dan lebih mudah diperoleh dibanding kekayaan, orang-orang ber­pendidikan menjadi pengawas yang bajik atas orang-orang kaya, sebab mereka bisa mengalahkan suara orang-orang ini. Pengetahuan biasanya beriringan dengan kelurusan, pandang­an luas, dan perikemanusiaan; jadi para pemilih berpenge­tahuan, yang memegang keseimbangan kekuasaan, menjadi pelindung siaga dan efisien untuk tingkat masyarakat bawah yang besar.

Dan sekarang satu hal aneh berkembang—sejenis perlomba­an, yang sasarannya adalah kuasa pilih! Tadinya seseorang dihormati hanya berdasarkan bilangan uang yang dia miliki, kini kemuliaannya diukur dengan jumlah hak suara yang dia pegang. Seseorang dengan satu hak suara saja nyata-nyata hormat pada tetangganya yang memegang tiga hak suara. Dan jika dia di atas rata-rata, dia nyata-nyata energik dalam tekad­nya untuk memperoleh tiga hak suara. Semangat perlombaan ini menyerbu semua tataran. Hak-hak suara berbasis modal lazimnya disebut hak suara “fana”, sebab mereka bisa hilang; hak-hak suara berbasis pengetahuan disebut “abadi”, sebab mereka permanen, dan, oleh karena karakternya yang biasanya tak dapat binasa, mereka wajar saja lebih berharga dibanding jenis yang satu lagi. Aku bilang “biasanya”, lantaran hak-hak suara ini tidak sepenuhnya tak dapat binasa, karena bisa saja ditangguhkan oleh penyakit jiwa.

Judul asli : The Curious Republic of Gondour ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Republik Gondour

  • Unduh

    Republik Gondour

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2020)

No comments

Post a Comment