Skip to content
Maut di Malam Pengantin – Relift Media

Maut di Malam Pengantin

Saat melihat bintik-bintik gelap yang muncul pada kulitnya, aku tahu dia pasti diracun, jadi aku menengok ke dalam teko; tehnya sudah berubah menjadi zat kental hitam. Maka aku tahu racunnya ada di situ.


Sementara itu, kerumunan besar berkumpul di luar pengadilan. Kabar bahwa pembunuh Desa Enam Mil sudah tertangkap, dan sudah mengakui kejahatannya, telah menyebar cepat ke seantero kota. Semua orang lantang memuji Hakim Dee atas penyelesaian kasus rumit ini, sehingga memberi kedamaian pada arwah kedua korban.

Sekelompok kecil pria dan wanita menerobos kerumunan, dan kini berdiri dekat pintu ruang sidang. Sebagian menangis, yang lain berteriak bahwa telah terjadi kejahatan keji, dan yang lain lagi protes bahwa seseorang sedang dituduh secara palsu.

Hakim Dee menyuruh Ma Joong supaya meminta mereka menghentikan semua keributan itu secepatnya, dan membawa hanya pihak pengadu ke depan mahkamah. Yang lain harus menunggu di pintu.

Rupanya ada dua pengadu, seorang nyonya paruh baya, dan seorang tuan sepuh terkemuka dengan rambut beruban. Ketika mereka berdua berlutut di depan mahkamah, Hakim Dee berkata: “Masing-masing sebutkan nama kalian, dan rumuskan aduannya dengan jelas.”

Si nyonya angkat bicara lebih dulu, berkata:

“Nama orang rendah ini adalah Lee. Aku janda dari men­diang Sarjana Seni Lee Dsai-goong, yang dulu mengajar di Sekolah Studi Klasik, di Kelenteng Konfusius kota ini. Usai wafatnya, dia meninggalkan anak perempuan tunggal, bernama Lee-goo. Tahun lalu dia genap delapan belas tahun. Melalui perantaraan salah seorang ningrat lokal, dia ditunangkan dengan Hua Wen-djun, putera dari Yang Mulia Sarjana Senior Hua Guo-hsiang, pensiunan prefek. Kemarin telah ditetapkan sebagai hari pernikahan. Arak-arakan pengantin berangkat dari rumahku ke mansion Tn. Hua. Siapa angka puteriku yang malang tiba-tiba mati pada malam pertama dia tinggal di rumah mempelai pria? Begitu kabar buruk ini sampai padaku pagi ini, aku bergegas ke mansion Hua dan di sana menemukan mayat puteriku tergeletak di ranjang pengantin, penuh dengan bintik-bintik biru, sementara darah bertetesan dari ‘ketujuh lubang’. Mengingat fakta-fakta ini tak salah lagi menunjukkan seseorang telah membunuhnya dengan memberi racun, aku lekas kemari untuk melapor, memohon Yang Mulia supaya membalaskan kezaliman yang dilakukan terhadap gadis tak berdosa ini, dan ibunya, yang kini sebatang kara di dunia, kerampokan harapan dan tumpuan satu-satunya.”

Usai berbicara demikian, dia mulai menangis getir. Hakim Dee mengucapkan beberapa kata murah hati untuk menghibur­nya, dan lantas menyapa si tuan sepuh: “Aku menduga kau Tn. Hua Guo-hsiang?”

“Aku memang Sarjana Senior Hua Guo-hsiang,” jawab tuan sepuh itu.

“Bagaimana mungkin,” kata Hakim Dee, “hal buruk seperti itu terjadi di rumahmu? Orang dengan pengalaman dan pengetahuan sepertimu harusnya tahu cara menjaga rumahnya tetap beres. Apa kau memerintah rumahtanggamu dengan begitu lalai hingga seorang penjahat bisa tinggal di sana tanpa gangguan?”

“Rumahtanggaku,” kata Tn. Hua dengan penuh martabat, “adalah rumahtangga di mana kebajikan-kebajikan kuno dihormati. Puteraku Wen-djun, walau masih muda, sedang mempersiapkan diri untuk ujian sastra pertama. Aku sudah membesarkannya dalam penghormatan terhadap ritus-ritus sakral dan aturan-aturan kesopanan.

“Kemarin petang, sejumlah besar tamu berkumpul untuk upacara pernikahan di ruang penerimaan di kediamanku yang sederhana. Setelah upacara ini dilangsungkan sebagaimana mestinya, sekelompok pemuda mengiringi pasangan ke kamar pengantin, mulai menggoda kedua pengantin baru. Aku bergabung dalam kegembiraan khalayak, dan suasana sukacita dan bahagia pertanda baik menyelimuti. Namun, di antara para pemuda itu, ada seseorang bernama Kandidat Hoo Dso-bin, rekan mahasiswa puteraku, dan salah satu teman terbaiknya. Ketika Kandidat Hoo melihat kecantikan mempelai anakku, dia pasti jadi cemburu, sebab kelakuannya sangat tak senonoh. Dia menggoda puteraku dan mempelainya secara tak sopan, mem­buat komentar-komentar tak patut, dan tidak mau meninggal­kan mereka berdua barang sebentar. Karena waktu itu sudah cukup larut, aku berpikir sudah saatnya meninggalkan kamar pengantin, jadi kuajak semua pemuda itu ke perpustakaan, dan meminum beberapa gilir anggur di sana. Pemuda-pemuda itu bertingkah baik dan menerima ajakanku, dengan syarat pengantin pria menghabiskan tiga gelas anggur pertama untuk menghormati mereka. Hanya Kandidat Hoo yang dengan keras kepala menolak meninggalkan pasangan muda itu; dia bilang kesenangan baru saja dimulai. Aku jadi marah dan mendam­pratnya, kubilang itu perilaku tak patut. Dia lantas mengamuk, dia mengataiku orang kolot tua bangka, dan berkata dengan nada mengancam bahwa sebelum malam berakhir, aku akan menyesalinya. Yang lain-lain berpikir ini cuma gurauan, dan setelah kelakar penghabisan, mereka semua ikut denganku ke perpustakaan, menyeret Kandidat Hoo bersama mereka. Siapa sangka Hoo ini sungguh-sungguh, dan sebelum meninggalkan kamar pengantin, termotivasi oleh entah dendam lama apa, membubuhkan racun ke dalam teko yang bertengger di samping ranjang pengantin? Puteraku untungnya tidak meminum teh itu, tapi mempelainya minum secangkir sebelum tidur. Ketika jam malam ketiga berbunyi, dia mengeluh isi perutnya sakit hebat. Kami semua cepat-cepat ke kamar, dan melihat dia kesakitan, dipanggillah seorang dokter. Celaka, saat dokter tiba, gadis muda ini, secantik giok berukir dan selembut bunga berkuncup, telah tiada. Maka dari itu, pagi ini, aku, Sarjana Senior Hua Guo-hsiang, berlutut di depan mimbar Yang Mulia, dan melaporkan bahwa menantu perempuanku telah dibunuh secara kotor oleh Kandidat Sastra Hoo Dso-bin, memohon kepada Yang Mulia untuk memastikan keadilan ditegakkan.”

Judul asli : Judge Dee: The Poisoned Bride
狄公案
()
Pengarang :
Seri : Hakim Dee
Penerbit : Relift Media, August 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Maut di Malam Pengantin

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2020)

No comments

Post a Comment