Skip to content
Pangeran Cendana Bapak Korea – Relift Media

Pangeran Cendana Bapak Korea

Putera Sang Agung di Kayangan meminta kepada ayahnya sebuah kerajaan bumi untuk diperintah. Senang dengan permintaannya, sang Penguasa Kayangan memutuskan menghadiahi puteranya Tanah Punggung Naga, yang orang-orang sebut Korea.


Empat anak kecil hidup di rumah Tn. Kim, dua perempuan dan dua laki-laki. Nama mereka adalah Bunga Persik dan Mutiara, Tenaga Delapan Lipat dan Naga. Naga adalah si sulung, anak laki-laki. Nenek Kim sangat gemar berdongeng untuk mereka tentang para pahlawan dan peri negeri indah mereka.

Suatu malam saat pulang dari kantornya di gedung Pemerintah, Papa Kim membawa dua buku kecil, yang dia berikan pada Nenek. Satu adalah almanak kecil yang, dalam sampul merah, hijau, biru cerah, terlihat seceria tumpukan keik dan gula-gula yang dibuat ketika orang-orang menikah; setiap orang tahu betapa kaya warnanya kue kering dan permen untuk teman-teman pengantin di pesta pernikahan Korea.

Buku kecil kedua memuat arahan yang diedarkan oleh Menteri Upacara Kerajaan untuk perayaan festival demi meng­hormati Pangeran Leluhur, Yang Mulia Cendana, Bapak Korea. Dua kali setahun di Kota Ping Yang mereka mengadakan sesajen daging dan makanan lain demi menghormatinya, tapi selalu dalam keadaan tak dimasak.

“Siapa Yang Mulia Cendana?” tanya Bunga Persik, anak gadis yang lebih tua.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Yongi (Naga), si sulung.

“Biar Nenek ceritakan,” kata Nenek, sementara mereka mengemong di sekelilingnya di atas karpet kertas minyak di atas cerobong utama di ujung ruangan di mana hawanya paling hangat; waktu itu awal Desember dan angin menderu di luar.

“Nah, Nenek juga akan cerita kenapa beruang baik dan harimau jahat,” kata Nenek. “Jadi, mulanya:

“Dahulu kala, sebelum ada orang-orang berbudi di Tanah Fajar, dan tidak ada manusia selain orang-orang liar tak tahu adat, bertemulah seekor beruang dan seekor harimau. Di lereng selatan Gunung Kepala Putih Tua di hutan. Hewan-hewan liar ini tidak puas dengan jenis manusia yang sudah ada di bumi, dan mereka ingin yang lebih baik. Mereka berpikir, kalau mereka bisa menjadi manusia, mereka akan bisa meningkatkan kualitas. Maka binatang-binatang patriotik ini, beruang dan harimau, sepakat untuk pergi ke hadapan Hananim, Sang Agung Langit dan Bumi, dan meminta-Nya untuk segera mengubah wujud dan jenis mereka; atau setidaknya mem­beritahu mereka bagaimana melakukannya.

“Tapi di mana menemukan-Nya—itulah pertanyaannya. Jadi mereka menundukkkan kepala sebagai tanda sopan-santun, merentangkan cakar, dan menunggu lama, berharap mendapat pencerahan soal itu.

“Lalu sebuah Suara berkata lantang, ‘Makanlah seikat bawang putih dan tinggallah di sebuah gua selama dua puluh satu hari. Jika kalian lakukan itu, kalian akan menjadi manusia.’

“Maka mereka merangkak ke dalam gua gelap, mengunyah bawang putih, dan pergi tidur.

“Di gua itu dingin dan suram dan karena tak ada yang bisa diburu atau dimakan, harimau jadi lelah. Hari demi hari dia bermuram durja, menggeram, menderam, dan bertingkah kasar kepada rekannya. Tapi beruang tahan dengan cercaan harimau.

“Akhirnya pada hari kesebelas, si harimau, melihat tak ada tanda-tanda belangnya hilang atau bulunya, cakarnya, atau ekornya gugur, dan tak tampak prospek tumbuhnya jari tangan dan jari kaki, memutuskan untuk menyerah dari usaha menjadi manusia. Dia lompat ke luar gua dan langsung pergi berburu di hutan, kembali ke kehidupan lamanya.

“Sementara si beruang, dengan sabar mengulum cakarnya, menunggu sampai dua puluh satu hari berlalu. Lalu jangat berbulu dan cakarnya meluruh, seperti mantel. Hidung dan kupingnya tiba-tiba memendek dan ia berdiri tegak—seorang perempuan sempurna.

“Berjalan ke luar gua, makhluk baru itu duduk di samping sebuah anak sungai, dan pada air murni itu dia menyaksikan betapa jelita dirinya. Di sana dia menunggu untuk melihat apa yang bakal terjadi selanjutnya.

“Sekitar waktu itu, sementara hal-hal ini berlangsung di dunia bawah, urusan penting sedang terjadi di langit. Whanung, Putera Sang Agung di Kayangan, meminta kepada ayahnya sebuah kerajaan bumi untuk diperintah. Senang dengan permintaannya, sang Penguasa Kayangan memutuskan menghadiahi puteranya Tanah Punggung Naga, yang orang-orang sebut Korea.

Judul asli : Prince Sandalwood, The Father of Korea ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Pangeran Cendana Bapak Korea

  • Unduh

    Pangeran Cendana Bapak Korea

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2020)

No comments

Post a Comment