Skip to content
Terang Bulan – Relift Media

Terang Bulan

Dia merasa itu bukan terang bulan biasa, bukan pula malam biasa, dan sesaat dia terbaring mengantuk dengan bujukan ganjil ini dalam benaknya. Pemikiran demi pemikiran terus bergabung bagai makhluk yang berbisik hangat dalam bayang-bayang.


Suatu kali ada seorang pria kecil yang dibuatkan satu setel pakaian indah oleh ibunya. Warnanya hijau dan emas dan ditenun sedemikiran rupa sampai aku tak bisa lukiskan betapa lembut dan bagusnya, dan dasi bulu-bulu jingga diikatkan di bawah dagu. Kancing-kancing barunya bersinar bagai bintang. Dia bangga dan senang dengan setelannya bukan main, dan berdiri di depan cermin panjang saat pertama kali mengena­kannya; saking takjub dan gembira, dia hampir tak sanggup berpaling.

Dia ingin memakainya ke mana-mana dan memamerkannya kepada semua jenis orang. Dia memikirkan kembali semua tempat yang pernah dia kunjungi dan semua lokasi yang pernah dia dengar, dan mencoba membayangkan bagaimana rasanya kalau dia pergi sekarang ke lokasi-lokasi dan tempat-tempat itu sambil memakai setelan gemerlapnya, dan dia ingin pergi seketika menuju panjangnya rumput dan teriknya matahari padang rumput sambil memakainya. Hanya untuk memakainya! Tapi ibunya bilang, “Tidak.” Ibunya bilang dia harus menjaga baik-baik setelannya, sebab dia takkan pernah mendapatkan yang lain yang hampir sebagus itu; dia harus menyimpannya dan menyimpannya dan hanya memakainya pada kesempatan langka dan besar. Itu setelan untuk pernikahannya, kata ibunya. Dan ibunya mengambil kancing-kancingnya dan membelitnya dengan kertas tisu karena takut kecerahannya akan ternoda, dan melampirkan pelindung kecil pada manset dan siku dan bagian-bagian di mana setelannya kemungkinan bisa lecet. Dia membenci dan menolak benda-benda ini, tapi apa boleh buat? Dan lama-lama peringatan dan bujukan ibunya berhasil dan dia setuju untuk melepas setelan indahnya dan melipatnya dengan rapi dan menyimpannya. Seakan-akan dia menyerahkannya lagi. Tapi dia selalu terpikir mengenakannya dan kesempatan maha penting ketika suatu hari kelak itu dikenakan tanpa pelindung manset dan siku, tanpa kertas tisu pada kancing, utuh dan naim, tanpa peduli, indah bukan main.

Suatu malam saat dia memimpikannya, sesuai kebiasaan­nya, dia bermimpi mencopot kertas tisu dari salah satu kancing dan mendapati kecerahannya sedikit pudar, dan itu membuat dia sangat sengsara dalam mimpinya. Dia memoles kancing pudar itu dan memolesnya, dan itu justru bertambah kusam. Dia bangun dan terbaring memikirkan kecerahan yang sedikit kusam dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau, ketika kesempatan besar itu (apapun itu) tiba, satu kancingnya ternyata sangat-sangat kurang berkilau segar seperti semula, dan untuk berhari-hari pemikiran ini terus bersamanya, menyengsarakan. Dan ketika kemudian ibunya mengizinkan dia memakai setelannya, dia tergoda dan nyaris tunduk pada godaan untuk sekadar meraba satu potong kecil kertas tisu dan memeriksa apakah kancing-kancingnya tetap secerah dulu.

Dia berjalan luwes dalam perjalanannya ke gereja sambil dipenuhi keinginan liar ini. Pembaca perlu tahu bahwa ibunya memang mengizinkannya, sambil mewanti-wanti, untuk memakai setelan itu sekali-sekali, misalnya di hari Minggu, bolak-balik gereja, saat tak ada ancaman hujan, tak ada debu atau apapun yang bisa merusaknya, dengan kancing-kancing­nya tertutup dan pelindung-pelindungnya terlampir dan payung di tangan untuk menaunginya kalau ada sinar matahari yang terlalu kuat untuk warna-warnanya. Dan selalu, sehabis kesempatan demikian, dia menyikatnya dan melipatnya dengan sangat apik sebagaimana diajarkan ibunya, lalu menyimpannya lagi.

Nah semua pembatasan yang dibuat ibunya ini dia patuhi, selalu dia patuhi, sampai pada suatu malam yang aneh dia bangun dan melihat terang bulan bersinar di luar jendelanya. Dia merasa itu bukan terang bulan biasa, bukan pula malam biasa, dan sesaat dia terbaring mengantuk dengan bujukan ganjil ini dalam benaknya. Pemikiran demi pemikiran terus bergabung bagai makhluk yang berbisik hangat dalam bayang-bayang. Lantas dia duduk tegak di ranjang kecilnya tiba-tiba, siap-siaga, dengan jantung berdegup kencang dan tubuh gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tekadnya sudah bulat. Dia tahu sekarang, dia akan memakai setelannya seperti seharusnya. Dia tak punya keraguan dalam hal ini. Dia khawatir, amat khawatir, tapi gembira, gembira.

Judul asli : A Moonlight Fable ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment