Skip to content
Pasien 926 – Relift Media

Pasien 926

Jauh sebelum kau lahir, ada banyak orang abnormal di dunia ini. Sebagian dikurung di rumah-rumah sakit jiwa, yang lain berkeliaran bebas di masyarakat. Banyak dari mereka adalah pelukis, penulis, musisi, aktor, dan apa yang kala itu disebut penemu.


Arang berpijar merah céri pada mangkok pipa cerutu Dr. Penhurst. Dia menghembuskan asap tembakau kelabu dan mengamatinya hanyut dalam kepulan malas di antara matanya dan berkas arsip di atas meja. Lama-kelamaan dia mengipasi asap dan kembali memelototi judul pada sampul berkas.

Pasien 926.

Dia membuka berkas dan memelototi laporan teliti dan tebal itu dengan tak percaya.

“Fantastis!” katanya lantang kepada gua hampa kantornya, sementara matanya mengamati satu halaman.

Dia sudah baca kasus-kasus seperti itu di sekolah medis. Tapi itu sejarah. Kasus tercatat terakhir adalah empat puluh tahun silam—di akhir 1980-an, kalau dia tak salah ingat.

Dia pelajari laporan itu dengan cermat—membaca dan membacanya lagi.

“Betul-betul fantastis!” ulangnya.

Dia menekan tombol kristal pada panel kendali utama di pinggir mejanya.

“Suruh masuk pasien 926,” katanya kepada meja.

“Baik, pak,” jawab sebuah suara feminin dan efisien.

Penhurst melepas pipa dari mulutnya dan memandangi mangkok pipa sambil merenung. Tentu saja, dia putuskan, itu masih terjadi di beberapa masyarakat terpencil Amerika Selatan, Afrika, dan barangkali pulau-pulau Pasifik. Tapi di sana pun para misionaris sudah memberantas kebanyakannya.

Mesin-mesin menderum dan pintu menyorong ke dalam dinding. Penhurst berputar di kursi. Sosok rapuh seorang anak lelaki dibingkai rangka pintu, dibalut seragam sekolah kuning satu potong berukuran dua kali terlalu besar untuknya. Angka biru pada dada kerempengnya mengindikasikan dia anak kelas lima.

“Masuklah, 926,” kata Penhurst.

Anak itu bimbang, akhirnya melangkah ke dalam. Pintu menderu tertutup di belakangnya.

“Masuk, masuk,” ulang Penhurst. “Kau boleh duduk di kursi itu.” Dia menunjuk kursi lengan besar di sisi lain meja. Anak itu menyeberangi ruangan dan memanjat ke atas kursi. Dia duduk diam, memperhatikan dokter.

Penhurst cepat-cepat membaca kembali laporan dalam arsip, kadang mencuri pandang pada si pasien. Akhirnya dia mendongak.

“Kau suka sekolah, 926?” tanyanya.

“Ya, pak,” jawab 926 dengan suara lemah.

“Kau lebih suka layar teletutor atau sesi konseling pribadi dengan—siapa namanya?”

“Nona Sedgewick,” sampai anak itu. “Aku paling suka bicara dengan Nona Sedgewick.”

Dr. Penhurst menengok lagi pada laporan. Nona Sedgewick pasti sudah menyadarinya jauh lebih awal. Entah dia konsuler yang tak cakap, atau sengaja tidak melaporkan gejala. Gejala-gejala itu tetap ada hingga disadari oleh kedua orangtuanya ketika 926 pulang berlibur.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya pada anak itu.

“Segala macam.”

“Bisa kau ingat sesuatu yang kalian bahas belakangan?”

“Cerita-cerita peri.”

“Peri—?”

“Dia cerita tentang Rumpelstiltskin.’

“Rumpel-apa?”

Rumpelstiltskin. Kau tahu, ada orang kerdil ini—”

Sementara suara bocah itu terus mendengung, Dr. Penhurst memadatkan tembakau ke dalam pipanya dengan jari. Tak ada yang salah membahas sastra kuno, pikirnya, asalkan itu dipisahkan dari kenyataan. Dia menggunakan pemantik meja­nya pada pipa. Lidah api kuning menjilat naik dan turun selagi dia mengisap.

Judul asli : Patient 926 ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment