Skip to content
Rahasia Tembok China – Relift Media

Rahasia Tembok China

Aku membayangkan kepemimpinan telah eksis sejak dahulu kala, bersama keputusan untuk mengkonstruksi tembok. Kaum utara polos yakin merekalah penyebabnya; kaisar terpuji dan polos yakin dialah yang memberi perintah.


Tembok Besar China dirampungkan di lokasinya yang paling utara. Pekerjaan konstruksi bergerak naik dari tenggara dan baratdaya dan bertemu di titik ini. Sistem pembangunan berseksi ini juga diikuti pada skala kecil dalam dua laskar besar pekerja, laskar timur dan laskar barat. Itu dilaksanakan dengan cara berikut: regu-regu yang terdiri dari 20 pekerja dibentuk, masing-masing mengambil tanggung­jawab atas satu seksi tembok, panjangnya sekitar 500 meter. Regu sebelah lantas membangun tembok yang sama panjang­nya hingga menjumpai yang pertama. Tapi sesudah itu, ketika seksi-seksi tersebut terhubung sepenuhnya, konstruksi tidak dilanjutkan lebih jauh lagi di ujung seksi 1.000 meter ini. Alih-alih, regu-regu pekerja ini diangkut lagi untuk membangun tembok di wilayah berbeda. Tentu saja, dengan metode ini muncul banyak lowong besar, yang ditutup secara bertahap dan lambat, banyak dari mereka baru ditutup setelah ada laporan bahwa pembangunan tembok selesai. Bahkan, konon ada lowong-lowong yang tak pernah dibanguni sama sekali, walau itu cuma pernyataan yang boleh jadi termasuk di antara banyak legenda berkenaan dengan struktur tersebut dan yang, setidak­nya bagi perorangan, mustahil untuk dibuktikan dengan mata kepala mereka sendiri dan menurut standar mereka sendiri, lantaran begitu besarnya struktur itu.

Nah, sekilas orang mungkin berpikir, akan lebih meng­untungkan dalam segala hal jika kita membangun tembok secara bersambung, atau setidaknya bersambung dalam dua seksi utama. Sebab tembok itu dikonsep sebagai perlindungan dari kaum utara, sebagaimana diumumkan dan diketahui secara universal. Tapi bagaimana bisa perlindungan diberikan oleh tembok yang tidak dibangun bersambung? Malah, bukan saja tembok seperti itu tidak bisa melindungi, strukturnya sendiri senantiasa dalam bahaya. Bagian-bagian tembok yang dibiar­kan terlantar di wilayah-wilayah sepi selalu dapat dihancurkan dengan mudah oleh kaum nomaden, terutama oleh mereka yang kala itu, karena risau akan pembangunan tembok, berpindah-pindah tempat tinggal dengan kecepatan luar biasa seperti belalang, sehingga boleh jadi memiliki penglihatan lebih utuh terhadap perkembangan konstruksinya dibanding kami, orang-orang yang membangunnya. Akan tetapi, memang tak ada cara lain untuk melakukan konstruksinya kecuali begitu. Dalam rangka memahami ini, orang harus memper­timbangkan hal berikut: tembok akan menjadi perlindungan selama berabad-abad; jadi, prasyarat esensial untuk penger­jaannya adalah konstruksi secermat mungkin, penggunaan kearifan arsitektural dari segala zaman dan kelompok, dan rasa tanggungjawab pribadi yang langgeng dalam diri para pembangun. Tentu saja, untuk tugas-tugas lebih sederhana, orang bisa saja memakai buruh harian jahil dari masyarakat umum—pria, wanita, dan anak-anak yang menawarkan jasa demi uang banyak. Tapi pengawasan empat buruh harian sekalipun butuh seorang insan berpengetahuan, seorang pakar berpendidikan dalam bidang konstruksi, seseorang yang mampu merasakan simpati di dalam lubuk hatinya atas apa yang dipertaruhkan di sini. Dan semakin tinggi tantangan, semakin besar tuntutan. Dan orang-orang semacam itu memang tersedia—meski jumlahnya tidak berlimpah-ruah, yang bisa saja diserap habis oleh konstruksi ini, tapi setidaknya banyak.

Pekerjaan ini tidak dijalankan secara serampangan. 50 tahun sebelum dimulainya konstruksi, diumumkan ke seluruh wilayah China yang akan terkurung dalam tembok tersebut bahwa arsitektur dan khususnya pertukangan batu adalah bidang pengetahuan paling penting, dan segala bidang lain diakui hanya sejauh memiliki sangkut-paut dengan keduanya. Aku masih ingat betul bagaimana, sewaktu masih anak-anak yang baru bisa jalan, kami berdiri di taman kecil milik guru kami dan disuruh mengkonstruksi sejenis tembok dari kerikil, dan bagaimana guru kami menyingsat mantel dan berlari menabrak tembok itu, tentu saja semua jadi ambruk, dan lantas mengomeli kami habis-habisan atas rapuhnya konstruksi kami, sampai-sampai kami berlarian ke segala arah sambil memekik pada orangtua kami. Satu kejadian kecil, tapi mengindikasikan semangat zaman itu.

Judul asli : The Great Wall of China
Beim Bau der Chinesischen Mauer
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, March 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Rahasia Tembok China

  • Unduh

    Rahasia Tembok China

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2020)

No comments

Post a Comment