Skip to content
Invasi China – Relift Media

Invasi China

Wabah itu menghantam mereka semua. Itu bukan satu wabah, bukan pula dua wabah; itu adalah sejumlah wabah. Setiap bentuk kematian yang menular menguntit ke seantero negeri. Terlambat sudah pemerintah China memahami makna persiapan kolosal.


Pada tahun 1976, masalah antara dunia dan China mencapai puncaknya. Gara-gara inilah perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Amerika Ke-2 ditunda. Banyak rencana lain dari bangsa-bangsa di bumi jadi runyam dan ditunda untuk alasan yang sama. Dunia terbangun agak tiba-tiba oleh bahayanya; padahal selama lebih dari 70 tahun, tanpa disadari, urusan telah terbentuk ke arah ini.

Tahun 1904 secara logis menandai dimulainya perkem­bangan yang, 70 tahun kemudian, membawa kekhawatiran ke seluruh dunia. Perang Jepang-Rusia terjadi pada 1904, dan para sejarawan di masa itu mencatat dengan serius bahwa peristiwa tersebut menandai masuknya Jepang ke dalam pengakuan bangsa-bangsa. Padahal sebetulnya itu menandai bangunnya China. Kebangunan ini, yang lama diharapkan, dulu dianggap sudah tak mungkin. Bangsa-bangsa Barat sudah coba mem­bangunkan China, dan mereka gagal. Karena optimisme bawaan dan egotisme ras mereka, mereka simpulkan tugas ini mustahil, bahwa China takkan pernah bangun.

Yang tidak mereka perhitungkan adalah ini: bahwa di antara mereka dan China tidak ada bahasa psikologis bersama. Proses-proses pemikiran mereka berbeda sampai ke akar-akarnya. Tidak ada kosakata intim. Pikiran Barat mempenetrasi pikiran China tidak jauh, ketika ia mendapati dirinya berada dalam labirin tak terukur. Pikiran China mempenetrasi pikiran Barat tidak jauh pula, ketika ia membentur tembok kosong dan tak terpahami. Itu semua soal bahasa. Tidak ada cara untuk mengkomunikasikan ide-ide Barat kepada pikiran China. China tetap tidur. Pencapaian dan kemajuan materil Barat adalah buku tertutup baginya; pun Barat tidak bisa membuka buku itu. Jauh di belakang dan di dalam struktur kesadaran, dalam pikiran—katakanlah—ras penutur bahasa Inggris, ada kapasitas untuk tergetar oleh kata-kata Saxon pendek; jauh di belakang dan di dalam struktur kesadaran pikiran China ada kapasitas untuk tergetar oleh hieroglifnya sendiri; tapi pikiran China tidak bisa tergetar oleh kata-kata Saxon pendek; tidak pula pikiran penutur bahasa Inggris tergetar oleh hieroglif. Kain pikiran mereka satu sama lain ditenun dari bahan berbeda total. Mereka saling asing secara mental. Jadi pencapaian dan kemajuan materil Barat tidak membuat penyok pada tidur mulus China.

Datang Jepang dan kemenangannya atas Rusia pada 1904. Kini Jepang ras sinting dan paradoks di antara bangsa-bangsa Timur. Yang aneh, Jepang mau menerima semua yang Barat tawarkan. Jepang dengan tangkas mengasimilasi ide-ide Barat, dan mencernanya, dan dengan begitu cakap menerapkannya sampai tahu-tahu ia meledak, bersenjata lengkap, sebuah kekuatan dunia. Tidak ada penjelasan untuk keterbukaan khas Jepang ini terhadap budaya asing Barat. Mungkin boleh dijelaskan seperti olahraga biologis dalam kerajaan binatang.

Setelah dengan telak mengalahkan Kekaisaran Rusia yang besar, Jepang segera mulai memimpikan kekaisaran kolosal untuk dirinya sendiri. Korea ia jadikan lumbung dan koloni; privilese traktat dan diplomasi licik memberinya monopoli Manchuria. Tapi Jepang tidak puas. Ia mengarahkan matanya pada China. Di sana terhampar teritori luas, dan di dalam teritori itu ada simpanan terbesar besi dan batu bara—tulang punggung peradaban industri—di dunia. Mempertimbangkan sumber daya alam, faktor besar lain dalam industri adalah tenaga kerja. Di dalam teritori itu ada populasi 400.000.000 jiwa—seperempat dari total populasi bumi waktu itu. Lebih lanjut, bangsa China adalah pekerja unggul, sementara filosofi (atau agama) fatalistik mereka dan susunan syaraf mereka yang tak emosional membentuk mereka menjadi tentara hebat—jika dikelola dengan benar. Tak usah dikatakan, Jepang bersiap menyediakan pengelolaan itu.

Tapi yang terutama, dari sudutpandang Jepang, bangsa China adalah ras serumpun. Teka-teki karakter China bagi Barat bukanlah teka-teki bagi Jepang. Kita tak pernah bisa belajar atau berharap untuk memahami sebagaimana Jepang memahami. Proses-proses mental mereka sama. Jepang berpikir dengan simbol-simbol pemikiran yang sama seperti China, dan mereka berpikir dalam alur khas yang sama. Ke dalam pikiran China, Jepang terus melenggang ke mana kita terintangi oleh hambatan ketidakpahaman. Mereka mengambil belokan yang tidak bisa kita lihat, memutari hambatan, dan lenyap dari pandangan dalam percabangan pikiran China ke mana kita tidak bisa mengikuti. Mereka bersaudara. Pada zaman dulu, yang satu meminjam bahasa tertulis milik yang lain, dan bergenerasi-generasi tak terbilang sebelum itu, mereka mencabang dari leluhur Mongol bersama. Telah terjadi perubahan, perbedaan, yang disebabkan oleh beragam kondisi dan infusi darah lain; tapi jauh di dasar intisari mereka, terpilin ke dalam urat-urat mereka, ada warisan bersama, kesamaan jenis yang belum terhapus oleh waktu.

Maka Jepang mengambil tanggungjawab pengelolaan China. Pada tahun-tahun setelah perang dengan Rusia, para agennya mengerubungi Kekaisaran China. Seribu mil di luar pos misi terakhir para insinyur dan mata-matanya banting tulang, berpakaian seperti kuli, menyamar sebagai pedagang keliling atau pendeta Buddha misionaris, mencatat tenaga-kuda setiap air terjun, situs-situs paling mungkin untuk pabrik, ketinggian gunung-gunung dan celah-celah, keunggulan dan kelemahan strategis, kekayaan lembah-lembah pertanian, jumlah sapi jantan di suatu distrik atau jumlah buruh yang bisa dikumpulkan melalui pewamilan paksa. Tak pernah ada sensus sedemikian rupa, dan itu tak bisa dilakukan oleh orang-orang selain bangsa Jepang yang gigih, telaten, patriotis.

Judul asli : The Unparalleled Invasion ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, February 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment