
Pria itu menatap psikiater. “Apa kau akan percaya kalau kuceritakan padamu?” “Aku akan terima setiap bagian ceritamu dengan pemikiran bahwa kau yakin sedang menceritakan yang sebenarnya.” “Hanya itu yang kumau,” bisik Thompson. “Andai saja setiap orang yang kuajak bicara di masa lalu melakukannya, andai saja mereka sekadar mencoba memeriksa ceritaku, mungkin ini tak bakal terjadi. Tapi mereka selalu berpikir aku orang sakit, dan tidak ada yang mau menerima pernyataanku soal cacing-cacing itu. “Aku anggap pernikahanku bahagia. Paling tidak sebahagia kebanyakan pria. Kau tahu, ada banyak konflik antara jenis-jenis kelamin, dan ada sedikit perbedaan pendapat antara aku dan Ny. Thompson. Tapi tidak cukup untuk menimbulkan kesulitan serius. Kau mau ingat itu? Bahwa kami tidak banyak bertengkar? “Kira-kira setahun lalu kesehatan isteriku mulai memberiku alasan besar untuk cemas. Dia mulai lemah. Kalau kau pria berkeluarga, Dokter, kau tahu selalu ada kekhawatiran tentang kesehatan isterimu. Kau jadi terbiasa hidup dengan seorang wanita, ada dia yang melakukan hal-hal untukmu, menemanimu ke mana-mana, dan kau berpikir bagaimana hidupmu jadinya kalau dia sakit dan mati. Mungkin fakta bahwa kau tidak tenang soal masa depan membuatmu membesar-besarkan pentingnya gejala-gejala isterimu. “Pokoknya dia jadi sakit, mulai batuk parah dan kehilangan berat badan. Aku bicara padanya soal itu dan bahkan membeli sebotol suplemen zat besi di toko obat dan menyuruh dia meminumnya. Dia meminumnya untuk menyenangkanku, tapi dia takkan pernah mengakui bahwa dirinya sakit. Dia bilang kurus itu modis dan batuk itu cuma kegelisahan. “Dia tak mau menemui dokter. Saat kubicarakan pada ibunya, wanita itu cuma menertawakanku; dia bilang, kalau aku coba membuat Lizzie sedikit lebih bahagia, dia akan segera gemuk. Nyatanya, tak seorangpun di antara keluarga kami atau teman-teman kami merasa ada yang tak beres dengan Ny. Thompson, jadi aku berhenti membahas itu. “Tentu saja itu tidak mudah buatku, cara dia batuk di malam hari, dan begitu seringnya dia tetap terjaga. Aku bekerja keras di siang hari dan kehilangan banyak tidur bukanlah hal mudah. Akhirnya aku terpaksa minta izin padanya untuk tidur di kamar tamu. “Itu pun tidak banyak membantu. Aku bisa dengar batuknya, dan ketika dia betul-betul tertidur, aku harus berjinjit ke kamarnya dan memeriksa apa dia baik-baik saja. Batuknya begitu mengganggu sampai-sampai saat dia tidak batuk aku jadi lebih khawatir karena kupikir terjadi sesuatu padanya.
Judul asli | : | Dead Woman<i=1D00nGSFZcY9_9sl0cUgFEMo9i-VvxII8 178KB>Dead Woman (1934) |
Pengarang | : | David H. Keller |
Penerbit | : | Relift Media, Oktober 2019 |
Genre | : | Keluarga |
Kategori | : | Fiksi, Cerpen |