Skip to content
Gadis Kenalanku – Relift Media

Gadis Kenalanku

Kulihat seorang gadis sedang berdiri di sana, tenggelam dalam kolam senjakala musim gugur. Aku tak bisa lihat apa yang sedang dia lakukan, selain berdiri menyandar pada pagar balkon, merekatkan jagat raya.


Di akhir tahun pertama kuliahku, 1936 silam, aku gagal dengan kelima mata kuliah. Gagal dengan tiga dari lima mata kuliah sudah membuatku layak melapor untuk undangan kuliah di perguruan tinggi lain pada musim gugur itu. Tapi orang-orang dalam kategori tiga-dari-lima ini kadang harus menunggu di luar kantor Dekan selama dua jam. Orang-orang dalam kelompokku—yang sebagian ada kencan penting di New York malam itu juga—tidak menunggu sekejap pun. Kebanyakan orang dalam kelompokku suka segalanya berjalan gesit.

Perguruan tinggi tempatku kuliah rupanya tidak sekadar mengirim nilai kuliah mahasiswa ke rumah, tapi lebih suka menembakkannya dari sejenis senapan. Ketika aku pulang ke New York, kepala pembantu pun terlihat diwanti-wanti dan memusuhi. Itu malam yang buruk secara keseluruhan. Dengan tenang ayah menyampaikan pendidikan formalku secara formal telah berakhir. Sedikit-banyak, aku ingin minta percobaan di sekolah musim panas atau semacamnya. Tapi tidak. Karena satu alasan: ibuku ada di ruangan, dan dia terus-terusan bilang bahwa seharusnya aku mendatangi penasehat fakultas lebih rutin, bahwa untuk itulah ada penasehat fakultas. Ini adalah jenis obrolan yang membuatku ingin pergi langsung ke Rainbow Room bersama teman. Bagaimanapun, karena satu hal membawa kepada hal lain, saat datang momen akrab untuk memajukan janji rapuh bahwa aku akan mencurahkan tenaga dan pikiran, kubiarkan itu lewat begitu saja.

Walau ayah mengumumkan malam itu juga bahwa dia akan memasukkanku langsung ke dalam perusahaannya, aku merasa yakin akan ada hal menarik selama sekurangnya satu pekan. Aku tahu, perlu renungan mendalam dan konstruktif dari pihak ayah untuk memikirkan cara memasukkanku ke dalam firma di siang bolong—aku langsung membuat tidak nyaman para partner-nya.

Aku sedikit terperanjat, empat atau lima malam kemudian, ketika ayah tiba-tiba bertanya di tengah makan malam apakah aku bersedia pergi ke Eropa untuk belajar dua bahasa yang bisa dimanfaatkan oleh firmanya. Pertama ke Wina dan kemudian mungkin ke Paris, katanya tanpa merinci.

Aku jawab ide itu terdengar bagus. Aku sedang putus dengan seorang gadis di Seventy-Fourth Street. Dan aku mengaitkan Wina dengan gondola. Gondola rasanya tidak terlalu buruk.

Beberapa minggu kemudian, Juli 1936, aku berlayar menuju Eropa. Foto pasporku, mungkin layak disebutkan, mirip persis denganku. Pada usia 18, aku pemilik tinggi 6 kaki 2 inchi, berat 119 pon dengan pakaian terpasang, dan perokok berat. Aku berpikir, andai Werther-nya Goethe dan semua dukacitanya ditempatkan di atas geladak jalan-jalan S.S. Rex di sisiku dan semua dukacitaku, dia akan terlihat, kalau dibandingkan, seperti pelawak rendah.

Kapal masuk dok di Naples, dan dari sana aku naik kereta ke Wina. Aku hampir turun di Venesia saat tahu siapa pemilik gondola-gondola itu, tapi justru dua orang di kompartemenku turun—aku sudah menanti terlalu lama untuk kesempatan mengangkat kaki, gondola atau bukan.

Tentu saja, aturan setibanya-Anda-di-Wina sudah dirumus­kan sebelum kapal berlayar dari New York. Aturan untuk ikut pelajaran bahasa sekurangnya tiga jam per hari; aturan untuk tidak terlalu ramah dengan orang-orang yang memanfaatkan orang lain, terutama anak muda; aturan untuk tidak membelanjakan uang seperti pelaut mabuk; aturan untuk mengenakan pakaian yang dengan itu orang tidak akan terkena radang paru; dan seterusnya. Tapi setelah kira-kira satu bulan di Wina, aku sudah mengatasi hampir semua itu: aku ikut pelajaran bahasa Jerman tiga jam setiap hari—dari seorang nona muda luar biasa yang kujumpai di lounge Grand Hotel. Aku menemukan, di salah satu distrik terpencil, sebuah tempat yang lebih murah daripada Grand Hotel—trem tidak sampai ke sana lewat jam sepuluh malam, tapi taksi ya. Aku berpakaian hangat—aku beli sendiri tiga topi Tyrolea wol murni. Aku ber­temu orang-orang baik—aku meminjamkan tiga ratus shilling kepada seorang pria bertampang khas di bar Bristol Hotel. Pendek kata, aku dalam posisi untuk mengakhiri suratku ke rumah.

Judul asli : A Girl I Knew ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2018
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment