Skip to content
Hantu di Ruang Jam – Relift Media

Hantu di Ruang Jam

Tadinya aku bersungut, tak ada dukacita seperti dukacitaku, tapi ternyata kesalahan ibuku lebih berat, dan cobaannya lebih dalam. Beban yang ditanggungnya telah menindihnya ke dalam kuburan lebih awal, tapi itu belum hilang dari bumi bersama­nya.


Sepupuku, John Herschel, agak memerah, dan agak memu­cat, dan berkata bahwa dia tak bisa mengingkari kamarnya berhantu. Arwah seorang wanita mengisinya. Saat ditanya oleh beberapa orang apakah wujudnya seram atau jelek, sepupuku menggandeng lengan isterinya, dan berkata tegas, “Tidak.” Terhadap pertanyaan “apakah isterinya menyadari Arwah itu”, dia menjawab, “Ya.” Apakah ia bicara, “Oh jelas, ya!” Adapun pertanyaan “apa yang ia katakan”, dengan sesal John berharap isterinya yang menjawab, sebab dia akan melakukannya dengan lebih baik. Namun, sang isteri sudah membuatnya berjanji untuk jadi juru bicara si Arwah, dan memintanya tidak merahasiakan apapun. Jadi dia akan berusaha sebaik mungkin, tunduk pada ralat isterinya. “Bayangkan Arwah itu,” tambah sepupuku, saat bersiap memulai, “adalah isteriku di sini, duduk di antara kita”:

Aku anak yatim sejak bayi, dengan enam saudari tiri. Rangkaian pelatihan panjang dan lama memberiku beban yang mendarah daging, dan aku tumbuh besar sebagai anak saudari sulungku, Barbara, selain sebagai anak mendiang orangtuaku.

Barbara, dalam semua rencana pribadinya, sebagaimana dalam semua dekrit rumahtangganya, memutuskan saudari-saudarinya harus menikah, tanpa bisa ditawar-tawar. Tekadnya yang tunggal tapi ketat begitu berkuasa, sampai-sampai mereka semua dijodohkan secara menguntungkan, kecuali aku. Padaku dia menumpukan harapan tertingginya.

Sebagian besar orang tahu telah tumbuh sosok diriku—gadis slebor pencumbu, yang pekerjaan terakuinya adalah memburu dan menangkap jodoh layak; lumayan cantik, lincah, dan persis cukup sentimentil untuk menjadikanku pasangan asyik selama satu atau dua jam kosong, sebab aku menuntut dan menikmati perhatian kecil yang disodorkan pria penganggur. Nyaris tak ada pemuda di lingkunganku yang belum main mata denganku. Aku sudah menjalani magang profesiku selama tujuh tahun, dan sudah melewati ulangtahun ke-25 tanpa mencapai tujuan, ketika kesabaran Barbara mulai habis. Dia bicara padaku dengan kepastian dan ketegasan yang selalu kita hindari. Dalam beberapa subjek, mengerti diam-diam lebih baik dari­pada mengemukakan pendapat.

“Stella,” katanya serius, “sekarang usiamu 25, dan setiap saudarimu berada di rumah mereka sendiri sebelum seusiamu; tapi tak satupun dari mereka memiliki keunggulan atau bakatmu. Tapi aku harus berkata terus-terang, peluangmu semakin berkurang, dan rencana kita pasti gagal kecuali kalau kau berusaha keras. Aku sudah amati kekeliruan yang kau buat, dan yang belum kusebutkan. Selain percumbuan terbuka dan tak pandang bulu yang cuma dianggap hiburan oleh para pemuda, kau punya kebiasaan mengolok-olok dan mener­tawakan siapapun yang mulai terlihat serius. Kesempatanmu bertumpu pada momen ketika sikap mereka mulai sungguh-sungguh. Lalu kau seolah bingung dan terdiam; kau kehilangan gairah, dan menghindari mereka, yang hampir takut dan cukup heran oleh perubahan tersebut. Kemurungan kecil bergerak lebih jauh daripada keriangan sempurna. Jika seorang pria percaya kau bisa hidup tanpanya, dia takkan memberimu per­timbangan kedua. Aku bisa sebutkan setengah lusin perjodohan paling layak yang kau lepas dengan tertawa di menit yang salah. Permalukan harga diri seorang pria, Stella, dan kau takkan bisa sembuhkan lukanya.”

Aku diam satu atau dua menit sebelum menjawab. Watak asli yang kuwarisi dari ibu yang tak kukenal sedang mengaduk-aduk perasaan tak biasa di dalam batinku.

“Barbara,” balasku takut-takut, “di antara semua orang yang sudah kukenal, aku tak melihat satupun yang bisa kuhormati dan kukagumi, tidak pula yang bisa kucintai, dengan malu kugunakan kata itu.”

Judul asli : The Ghost in the Clock Room ()
Pengarang :
Seri :
Penerbit : Relift Media, May 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment