Skip to content
Meryton – Relift Media

Meryton

Nasib RUU diputuskan pekan ini, saat kau sampaikan pidato besarmu. Kau harus berbicara menentangnya. Mengakui terus-terang bahwa kau sudah keliru. Itu akan jadi jalan keluar sempit, bagaimanapun. Pengaruhmu akan menentukan.


Suatu malam di pertengahan musim, seluruh London ber­kumpul di ruang kumpul Lady Marchpane, seluruh London yang patut dikenal—sebuah kualifikasi yang menjelaskan sebab ketidakhadiran beberapa juta orang yang belum pernah dengar nama Lady Marchpane. Di satu pojok ruangan, seorang Duta Besar, dengan beberapa pita di dadanya, terlihat sedang bercengkerama dengan Duchess Amerika terbaru; di pojok lain, salah seorang Pengiklan terbesar kita sedang berbalas epigram dengan seorang Pemilik Suratkabar bergelar. Para Jenderal tenar berbaur dengan para Seniman Post-Impresionis; para Pemodal membisikkan kata-kata kosong manis kepada para Peternak Puisi berhadiah; bahkan seorang Manajer Aktor terlihat menerima permohonan maaf dari seorang Raja yang sudah menyikutnya.

“Halo,” kata Algy Lascelles, melihat sosok bermartabat Rupert Meryton di antara kerumunan, “bagaimana kabar William?”

Senyum langka menyemarakkan wajah masyhur Rupert. Dia adalah Wakil Menteri Urusan Invasi, dan “William” adalah sebutan kesukaan Algy untuk RUU yang sedang diinisiasinya di DPR. Itu undang-undang untuk melakukan satu atau lain hal melalui anu—aku tak bisa sebutkan lebih tepatnya tanpa menimbulkan Konflik Eropa.

“Kurasa kami akan meloloskannya,” sahut Rupert kalem.

“Barusan Lady Marchpane membicarakannya. Dia agak tertarik, kau tahu.”

Bibir Rupert membentuk garis tegas. Dia memperhatikan orang-orang lewat kepala Algy. “Oh!” tukasnya dingin.

Kurang dari sepuluh tahun lalu Meryton muda, dari Oxford, menggegerkan dunia politik dengan merebut kursi penting Cricklewood (E.) mewakili kelompok Tariffadical—agar negeri ini tidak terjerumus ke dalam Perang Sipil, aku harus memanggil mereka demikian. Itu terjadi pada pemilu sela, dan kelompok Liberative segera bubar, hanya untuk masuk ke dalam kekuasaan pasca Pemilihan Umum dengan suara mayoritas yang naik. Selama bertahun-tahun kemudian, Rupert Meryton, berkat kegigihannya dalam menanyai Menteri Invasi, yang dijawab kemarin, dan berkat pengakuannya akan martabat DPR, sebagaimana ditunjukkan dalam komentar rutinnya, “Ah, sudahlah—bukan pria terhormat”, terhadap setiap peragaan kelakuan buruk, menegakkan hak jelas untuk sebuah posisi di pemerintahan Tariffadical. Sekarang dua tahun sudah dia menjabat Wakil Menteri, dan dalam RUU ini kesempatan sejati pertamanya telah datang.

“Oh, di situ kau rupanya, Tn. Meryton,” ujar sebuah suara. “Mari bicara denganku sebentar.” Diiringi anggukan kepada sepasang Uskup Agung, Lady Marchpane memimpin jalan ke sebuah serambi kecil yang belum ditembus orang banyak. Karya-karya Corregio, Tintoretto, dan G.K. Chesterton yang tak ternilai bergantung pada dindingnya, tapi dia datang bukan untuk memperlihatkan mereka kepada Rupert. Merosot ke kursi Chippendale kuno elok, dia memberinya isyarat ke sebuah furnitur Blundell-Maple di seberang, dan memandangnya dengan senyum aneh.

Well,” ujarnya, “soal RUU itu?”

Bibir Rupert membentuk garis tegas. (Dia agak ahli dalam hal ini.) Bersilang tangan, dia menatap kokoh mata Lady Marchpane yang masih indah.

“Itu akan lolos,” katanya. “Lolos semua tahapannya,” imbuhnya profesional.

“Itu tidak boleh lolos,” kata Lady Marchpane lemah-lembut.

Rupert tidak mampu meredam keterkejutan, tapi dia segera menguasai diri lagi.

“Aku tak bisa tambahkan apapun pada pernyataanku yang sebelumnya,” katanya.

“Jika itu lolos—” kata Lady Marchpane.

Judul asli : The Statesman ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment