Skip to content
Kamar Menara – Relift Media

Kamar Menara

Aku tahu persis di mana aku berada, di kamar yang kutakuti dalam mimpi-mimpiku, tapi ketakutan yang kini menyerbu dan membekukan otakku tidak dapat ditandingi oleh horor yang selalu kurasakan saat tidur.


Boleh jadi setiap orang yang rutin bermimpi pernah men­dapat pengalaman ini minimal satu kali: sebuah peristiwa atau sederet keadaan di dalam tidur terwujud di dunia materil. Tapi menurut pendapatku, meski jauh dari aneh, akan jauh lebih ganjil jika perwujudan ini terjadi secara berkala, sebab mimpi kita biasanya berkaitan dengan orang-orang dikenal dan tempat-tempat familiar, sebagaimana eksis di dunia terjaga dan terang. Betul, mimpi-mimpi ini seringkali dimasuki oleh suatu kejadian janggal dan fantastis, yang mengesampingkan mereka dalam hal perwujudannya kemudian. Tapi menurut kalkulasi peluang belaka, rasanya tidak mustahil sebuah mimpi yang dialami setiap pemimpi rutin adakalanya menjadi nyata. Beberapa waktu lalu, contohnya, aku mengalami perwujudan mimpi semacam ini, yang bagiku terasa biasa saja dan tidak punya signifikansi psikis apapun. Berikut ceritanya.

Salah satu temanku, tinggal di luar negeri, cukup ramah untuk menulis surat padaku setiap dua minggu. Jadi, saat 14 hari berlalu sejak terakhir kali mendapat kabar darinya, pikiranku, sadar atau tidak, mengharapkan suratnya. Suatu malam, pekan lalu, aku bermimpi: sewaktu naik ke lantai atas untuk berdandan makan malam, aku mendengar bunyi yang sering kudengar, yakni ketukan tukang pos di pintu depan, dan akhirnya berbelok arah ke lantai bawah. Di sana, di antara surat-menyurat lain, ada surat darinya. Sesudah itu masuklah hal fantastis. Begitu dibuka, kudapati di dalamnya kartu as wajik, dan tertulis di situ, dengan tulisan tangannya yang sudah kukenal, “Kukirimkan ini padamu agar dijaga dengan aman, sebagaimana kau tahu riskan sekali menyimpan kartu as di Italia.” Keesokan malam aku sedang bersiap-siap naik untuk berdandan ketika mendengar ketukan tukang pos, dan melaku­kan persis yang kulakukan dalam mimpi. Di sana, di antara surat-surat lain, terdapat satu surat dari temanku. Hanya saja tidak berisi kartu as wajik. Andai saja ada, aku pasti memberi bobot lebih pada perkara itu, yang menurutku, sebagaimana faktanya, cuma kebetulan biasa. Tak salah lagi, sadar atau tidak aku mengharapkan surat darinya, dan ini mensugestikan mimpi kepadaku. Demikian pula, fakta bahwa temanku belum menulis surat untukku selama dua pekan telah mensugestikan kepada­nya agar berbuat itu. Tapi adakalanya tidak mudah menemukan penjelasan demikian, dan untuk cerita berikut aku tak bisa menemukan penjelasan sama sekali. Ini muncul dari gelap, dan ke dalam gelap ia pergi lagi.

Seumur hidup, aku adalah pemimpi tetap: dengan kata lain, tidak banyak malam di mana aku tidak mendapati bahwa, pada saat terbangun di pagi hari, aku telah melewati suatu penga­laman batin; dan kadangkala, semalam suntuk, serangkaian petualangan paling melinglungkan menimpaku. Hampir tanpa kecuali petualangan-petualangan ini mengasyikkan, meski seringkali sepele. Ada satu pengecualian yang ingin kubicara­kan.

Saat aku berumur 16 tahunan, sebuah mimpi tertentu datang padaku untuk pertama kali, dan kejadiannya begini. Itu diawali dengan hinggapnya aku di pintu rumah besar berbata merah, di mana, yang kupahami, aku hendak menginap. Pelayan yang membukakan pintu berkata bahwa teh sedang dihidangkan di taman, lalu memanduku melewati lobi rendah berpanel gelap, dengan perapian besar terbuka, sampai ke sebuah halaman rumput hijau riang yang dikelilingi petak-petak bunga. Sekumpulan kecil orang berkelompok di sekitar meja teh, tapi mereka semua asing bagiku kecuali satu, yakni teman sekolah bernama Jack Stone. Jelas dia putera pemilik rumah, dan dia memperkenalkanku kepada ibu dan ayahnya dan sepasang saudari. Aku ingat, aku agak heran berada di sini, sebab pemuda ini hampir tidak kukenal, dan aku agak tidak suka dengan apa yang kuketahui tentang dirinya; apalagi, dia tamat sekolah hampir setahun lalu. Siang ini panas sekali, tekanan tak tertahankan merajalela. Di sisi jauh halaman rumput terbentang sebuah tembok bata merah, dengan gerbang besi di tengah-tengahnya. Di sebelah luarnya berdiri satu pohon walnut. Kami duduk dalam bayang-bayang rumah di seberang deretan jendela panjang, yang di dalamnya bisa kulihat terdapat meja bertaplak, mengkilat dengan kaca dan perak. Muka taman ini amat panjang, di satu ujungnya berdiri sebuah menara tiga lantai, yang menurutku jauh lebih tua daripada bagian-bagian lain.

Judul asli : The Room in the Tower ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment