Skip to content
Pencarian Lily – Relift Media

Pencarian Lily

Pada suatu sore berangin tanpa awan, Adam Forrester dan Lilias Fay berangkat menjelajahi tanah luas yang akan mereka miliki bersama, mencari lokasi tepat untuk kuil kebahagiaan.


Pada suatu masa, sepasang kekasih merencanakan rumah musim panas mungil berwujud kuil antik di mana mereka hendak mencurahkan diri pada segala macam kenikmatan halus dan polos. Di sana mereka akan bergaul menyenangkan dengan satu sama lain dan para sahabat dekat; di sana mereka akan mengadakan festival buah enak; di sana mereka akan mendengarkan musik gembira bercampur nada pilu yang mempermanis keriangan; di sana mereka akan membaca puisi dan fiksi dan membiarkan pikiran terbang melayang dalam lamunan dan roman; di sana, singkatnya—toh buat apa kita merinci sinar samar harapan mereka?—di sana semua kesenangan murni akan berkumpul layaknya mawar di antara tiang-tiang bangunan besar, senantiasa mekar tanpa diminta.

Maka, pada suatu sore berangin tanpa awan, Adam Forrester dan Lilias Fay berangkat menjelajahi tanah luas yang akan mereka miliki bersama, mencari lokasi tepat untuk kuil kebahagiaan. Mereka sendiri merupakan tontonan manis dan sejuk, pendeta pria dan pendeta wanita yang serasi untuk kuil demikian. Kendati mengarang puisi tentang nama cantik Lilias, Adam Forrester biasa memanggilnya “Lili” lantaran wujudnya serapuh lili dan pipinya hampir sepucat lili. Sambil ber­gandengan tangan menyusuri jalan berderetkan pohon elm kulai yang berawal dari gerbang mansion ayah Lilias, mereka mengintip carikan sinar mentari laksana makhluk bersayap, dan menebar terang ke tempat jatuhnya bayang-bayang pekat.

Tapi, berangkat bersama pasangan muda ini, ada sosok muram dalam balutan mantel beludru hitam yang barangkali terbuat dari kain penutup peti mati, dan memakai topi suram pekabung yang pinggir lebarnya terkulai di atas alis lebat. Menoleh sepintas, pasangan kekasih ini tahu betul siapa yang membuntuti, tapi hati mereka berharap dia ada di tempat lain, karena bukan rekan yang cocok untuk urusan gembira mereka. Dia adalah kerabat dekat Lilias Fay, seorang pak tua bernama Walter Gascoigne, sudah lama dipekerjakan di bawah beban jiwa melankoli yang kadangkala terhasut menjadi kegilaan mutlak dan selalu memuat coraknya. Kontras sekali muda-mudi peziarah kebahagiaan ini dengan rekan mereka! Mereka seolah dicetak dari cahaya mentari langit, sementara dia dari bayangan tersuram bumi; mereka terbang bagai Asa dan Gita yang mengembara hidup seraya bergandengan, sementara sosok gelapnya menguntit di belakang, bentuk semua pengaruh sedih yang dapat hidup timpakan kepada mereka.

Tapi ketiganya belum terlalu jauh saat sampai di sebuah titik yang menggembirakan hati si lembut Lili, dan dia berhenti.

“Adakah tempat lebih manis dari ini?” katanya. “Kenapa harus cari lebih jauh untuk lokasi kuil kita?”

Itu memang titik bumi yang menyenangkan, meski tak bercirikan keindahan mencolok, cuma sudut dalam naungan bukit, dengan pemandangan danau jauh di satu arah dan puncak gereja di arah lain. Terdapat lanskap dan jalan setapak yang membentang terus dan terus ke dalam daerah hijau berhutan dan lenyap di bawah teduhan berkelap-kelip. Kuilnya, jika didirikan di sini, akan menghadap ke barat, sehingga pasangan kekasih ini dapat membentuk segala macam impian megah dari ungu, lembayung, dan emasnya langit petang, dan sebagian kecil kesenangan yang mereka nantikan lebih berharga daripada olahraga fantasi ini.

“Ya,” kata Adam Forrester, “kita bisa cari seharian penuh tapi tak dapat titik yang lebih bagus. Akan kita bangun kuilnya di sini.”

Tapi si rekan sepuh dan sayu, yang telah mengambil posisi di mana mereka bermaksud melapisinya dengan lantai marmer, menggelengkan kepala dan bermuka masam, sementara si pemuda dan sang Lili menganggap layak titik tersebut dibinasakan dan dinodai untuk kuil khayalan mereka, titik yang tertutup bayangan sosok muramnya. Dia menunjuk beberapa batu yang bertebaran, sisa bangunan terdahulu, dan bunga-bunga yang biasa disenangi dan dipelihara oleh para gadis di taman, tapi kini jatuh lagi ke dalam kesederhanaan alam liar.

Judul asli : The Lily's Quest ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment