Skip to content
Hugh – Relift Media

Hugh

Tak satupun dari mereka memberikan pelipur yang dicari-carinya. Ny. Wilton tak ingin mendengar masa lalu. Jika Hugh pergi selamanya, maka pergi pula semua gairah kehidupannya, keberaniannya, dan diri baiknya.


Ny. Wilton melintasi sebuah gang kecil dari salah satu gerbang di Regent’s Park, dan keluar di jalan lebar nan sunyi. Dia berjalan pelan, mengamati kanan-kiri supaya tidak melewatkan nomornya. Dia merapatkan pakaian bulunya. Setelah bertahun-tahun di India, kelembaban London terasa keras sekali. Padahal hari ini tidak berkabut. Uap pekat, kelabu dan sedikit kemerahan, tersebar di antara rumah-rumah, terkadang bertiup dengan kecupan basah di wajah. Rambut, bulu mata, dan pakaian bulu Ny. Wilton dipenuhi tetes-tetes kecil. Tapi cuaca tidak mengaburkan penglihatan, dia dapat melihat wajah-wajah orang di kejauhan dan membaca reklame di toko-toko.

Di depan pintu penjual furnitur antik dan bekas dia berhenti, mengintip ke dalam jendela jorok, melihat-lihat tumpukan barang berantakan, yang kebanyakan bernilai tinggi. Dia membaca nama Polandia yang terpasang di kaca dalam huruf putih.

“Ya, ini tempatnya.”

Dia membuka pintu, dan disambut oleh gemerincing muram. Dari suatu tempat di dalam toko yang gelap datanglah si pedagang. Wajahnya pucat lembab, dengan janggut hitam tipis, mengenakan topi tengkorak dan tasmak. Ny. Wilton bicara padanya dengan suara rendah.

Sorot persekongkolan, kelicikan, dan barangkali ejekan, terlintas di mata sinis dan sedih si pedagang. Tapi dia membungkuk sungguh-sungguh dan penuh hormat.

“Ya, dia di sini, nyonya. Apa dia mau menemuimu atau tidak, entahlah. Dia tidak selalu baik, tergantung suasana hatinya. Jadi kita harus hati-hati. Polisi—mereka takkan menyentuh wanita sepertimu. Tapi belakangan ini orang asing tak punya banyak kesempatan.”

Ny. Wilton mengikutinya ke belakang toko, di mana terdapat tangga putar. Dia mengetok beberapa benda dalam perjalanan­nya dan membungkuk untuk memunguti, tapi si pedagang terus menggerutu, “Tak masalah—tentu tak masalah.” Dia menyalakan lilin.

“Kau harus naik tangga ini. Kondisinya sangat gelap, hati-hati. Begitu sampai di sebuah pintu, buka dan masuklah.”

Dia berdiri di kaki tangga sambil mengangkat lilin tinggi-tinggi di atas kepalanya, sementara Ny. Wilton naik.

Ruangannya tidak terlalu besar dan tampak biasa saja. Ada beberapa kursi reyot tak nyaman berwarna emas dan merah. Di balik tutup kaca di atas meja terdapat gambar pemandangan Roma. Ruangan ini tidak bergaya bisnis, pikir Ny. Wilton; tak ada kesan kantor atau ruang tunggu di mana orang-orang datang dan pergi sepanjang hari. Tapi juga tak bisa dibilang ruang pribadi yang ditinggali. Tak ada buku atau dokumen. Setiap kursi berada di tempatnya setelah ruangan ini terakhir kali disapukan. Tak ada perapian, dan sangat dingin.

Di sebelah kanan jendela ada pintu bertutup tirai mewah. Ny. Wilton duduk dekat meja dan memperhatikan pintu ini. Dia menduga, pasti lewat pintu inilah si tukang tenung akan muncul. Dia menumpuk kedua tangannya di atas meja dengan lesu. Ini peramal ke sepuluh yang ditemuinya sejak Hugh terbunuh. Dia mengingat-ingat lagi. Bukan, ini yang ke sebelas. Dia sudah lupa dengan pria menakutkan di Paris yang mengaku pendeta. Tapi di antara semuanya, hanya pria ini yang ucapan­nya tepat. Meski tidak menyampaikan apa-apa selain masa lalu. Dia tahu pernikahannya, bahkan lama pernikahannya—dua puluh satu bulan. Dia juga tahu masa-masa mereka di India—sekurangnya dia tahu suaminya seorang tentara, dan bertugas di “wilayah jajahan”. Tapi secara keseluruhan dia sama-sama tidak memuaskan seperti yang lain. Tak satupun dari mereka memberikan pelipur yang dicari-carinya. Ny. Wilton tak ingin mendengar masa lalu. Jika Hugh pergi selamanya, maka pergi pula semua gairah kehidupannya, keberaniannya, dan diri baiknya. Nyonya ingin diangkat dari keputusasaan, kelim­bungan yang menghanyutkan dari hari ke hari, penantian pagi di malam hari, dan penantian malam di pagi hari, yang telah menjadi warna hidupnya sejak kematian Hugh. Jika seseorang mampu meyakinkannya bahwa semua belum berakhir, bahwa dia ada di suatu tempat, tidak terlalu jauh, tidak berubah, dengan rambut garing, senyum lamban, wajah cokelat tak berlemak, bahwa dia melihatnya sekali-sekali, bahwa dia tidak melupakannya...

Judul asli : The Interval ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, October 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment