Skip to content
Keluarga Toby – Relift Media

Keluarga Toby

Dua-duanya tidak hadir di pemakaman ayah mereka. Kematiannya mendadak. Setelah dibantu ke tempat tidur dalam keadaan riang dan heboh gara-gara anggur dan minuman campur, dia ditemukan meninggal pagi harinya.


Banyak orang terbiasa melintasi jalan tua York dan London di zaman kereta kuda. Dalam perjalanan ke ibukota, sekitar tiga mil di selatan kota Applebury dan satu setengah mil sebelum Angel Inn, mereka pasti ingat di petang hari musim gugur sering melewati sebuah rumah besar hitam-putih, demikianlah tempat tinggal sangkar kuno diistilahkan. Bobrok dan dimakan cuaca. Jendela-jendela kisi lebarnya berkilat redup di bawah mentari petang dengan kaca-kaca wajik kecil, dan terkesan seperti relif berkat latar pepohonan elm kuno. Sebuah jalan lebar, kini ditumbuhi rumput liar seperti halaman gereja, dan diapit deretan pohon gelap yang sama, tua dan raksasa, dengan beberapa celah di barisan khusyuk mereka, dan kadang sebuah pohon roboh teronggok melintang, membawa ke pintu depan.

Mengamati jalannya yang suram dan tak bernyawa dari atas kereta kuda London, seperti yang sering kulakukan, kau akan heran dengan begitu banyaknya tanda penelantaran dan kerusakan—tumpukan rumput yang tumbuh di sela-sela anak tangga dan batu jendela, cerobong-cerobong tak berasap yang di atasnya burung-burung jackdaw berputar-putar, ketiadaan manusia dan segala tandanya, kau akan langsung berkesim­pulan tempat ini tak berpenghuni dan dibiarkan rusak. Nama rumah kuno ini adalah Gylingden Hall. Tanaman pagar tinggi dan pohon-pohon tua menyelubunginya dari penglihatan, dan sekitar seperempat mil lebih dalam, berselimutkan pepohonan murung, terdapat sebuah kapel Saxon mungil dan tinggal puing-puing yang dahulu pernah menjadi tempat kuburan keluarga Marston, dan ikut serta dalam keterlantaran dan kesepian yang mengerami tempat tinggal kuno mereka.

Melankoli agung lembah terpencil Gylingden, sesunyi hutan ajaib, di mana gagak-gagak yang pulang ke tenggeran di antara pepohonan, dan rusa keluyuran yang mengintip dari balik dahan, terasa merajalela, tak terusik, menambah aspek pedih Gylingden Hall.

Perbaikan tahun-tahun terakhir telah diterlantarkan, di sana-sini atap terkelupas, dan ‘jahitan waktu’ memburu. Di sisi rumah yang tak terlindungi dari angin kencang yang menem­bus lembah layaknya arus deras di kanal, tak tersisa satupun jendela sempurna, daun-daun jendelanya pun tidak sempurna menahan hujan. Langit-langit dan temboknya berjamur, hijau dengan noda lembab. Di sana-sini, di tempat jatuhnya tetesan dari langit-langit, lantai membusuk. Pada malam berbadai, seperti dilukiskan penjaganya, kau bisa mendengar pintu-pintunya mengepak-ngepak, terdengar sampai jembatan tua Gryston, diiringi lolongan dan isakan angin ke seantero serambi kosongnya.

Sekitar tujuh puluh tahun silam, Squire renta, Toby Marston, wafat. Dia terkenal di wilayah tersebut dengan anjing-anjing­nya, keramahtamahannya, dan sifat buruknya. Dia melakukan banyak hal baik, dan dia sering berduel: dia mendermakan uang dan menghajar orang-orang. Dia membawa beberapa berkah dan banyak kutukan, dan mewariskan sejumlah utang dan tuntutan atas tanah miliknya. Ini mengagetkan kedua putera­nya yang tak berselera bisnis atau uang, dan tak pernah curiga bagaimana dia nyaris memerosokkan tanahnya ke dalam kebangkrutan, sampai pria renta jahat, bertangan terbuka, dan suka berserapah tersebut mati.

Mereka bertemu di Gylingden Hall. Surat wasiat terhampar di hadapan mereka. Dan pengacara untuk menafsirkan. Dan informasi tanpa batas tentang beban yang dinaikkan mendiang ke punggung mereka. Surat wasiat yang disusun sedemikian rupa hingga kedua bersaudara tiba-tiba saling berseteru.
Kakak-beradik ini berbeda dalam beberapa hal, tapi dalam satu karakter jasmaniah mereka saling serupa, juga dengan mendiang ayah mereka. Mereka tak pernah jatuh ke dalam pertengkaran tanggung. Sekalinya bertengkar, mereka tidak tahan dengan hal sepele.

Judul asli : Squire Toby's Will ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2015
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment