Skip to content
Nomor 13 – Relift Media

Nomor 13

Menempatkan mereka di Nomor 13? Yang benar saja, mereka akan segera tidur di jalan raya. Bagiku, tak ada bedanya berapa nomor kamarku. Itulah yang sering kubilang pada mereka. Tapi mereka bersikeras itu membawa sial.


Di antara perkotaan Jutland, Viborg merupakan tempat yang tinggi. Ia pusat keuskupan; ia memiliki katedral cantik tapi hampir seperti baru, taman mempesona, danau indah, dan banyak burung bangau. Di dekatnya terdapat Hald, dianggap salah satu yang terindah di Denmark; dan tak jauh ada Finderup, di mana Marsk Stig membunuh Raja Erik Glipping di Hari St. Cecilia, pada tahun 1286. Lima puluh enam hantaman tongkat kebesaran besi berkepala persegi ditemukan pada tengkorak Erik ketika pusaranya dibuka di abad 17. Tapi aku bukan sedang menulis buku panduan.

Di Viborg terdapat hotel-hotel bagus—Preisler’s dan Phoenix yang paling didambakan. Tapi sepupuku, yang penga­lamannya akan kuceritakan pada kalian, memilih Golden Lion saat pertama kali mengunjungi Viborg. Sejak saat itu dia tak pernah lagi ke sana. Halaman-halaman berikut akan menjelas­kan alasannya.

Golden Lion adalah salah satu dari segelintir rumah di kota yang tidak musnah dalam kebakaran hebat 1726 yang membi­nasakan katedral, Sognekirke, Raadhuus, dan banyak bangunan tua dan menarik lainnya. Ia merupakan rumah besar berbata merah—bagian depannya terbuat dari bata, dengan jenjang nok di dinding muka dan sebuah teks di pintunya. Tapi halaman yang dimasuki bus penumpang terdiri dari kayu hitam-putih dan plester.

Mentari sedang turun di angkasa ketika sepupuku berjalan ke pintunya, dan cahaya menerpa bagian muka rumah yang mengesankan. Dia suka aspek kuno tempat itu, dan berjanji akan menginap puas dan terhibur di penginapan khas Jutland kuno.

Bukan bisnis dalam pengertian biasa yang telah membawa Tn. Anderson ke Viborg. Dia sedang sibuk meneliti sejarah Gereja Denmark, dan dia mendapat info bahwa di Rigsarkiv Viborg terdapat dokumen yang diselamatkan dari kebakaran, berisi hari-hari terakhir Katolik Roma di negeri ini. Oleh karena itu dia bermaksud menghabiskan waktu lumayan panjang—kira-kira dua atau tiga minggu—untuk memeriksa dan menya­linnya, dan berharap Golden Lion dapat memberinya ruangan cukup besar yang berfungsi sebagai kamar tidur sekaligus kamar kerja. Harapannya dijelaskan kepada pemilik peng­inapan, dan setelah berpikir panjang, sang pemilik menganjur­kannya untuk melihat-lihat satu atau dua kamar besar dan memilih salah satunya. Rasanya ide bagus.

Lantai teratas segera ditolak karena perlu menempuh banyak tangga setelah bekerja seharian; di lantai kedua tak ada kamar dengan dimensi yang diinginkan; sedangkan di lantai pertama terdapat dua atau tiga kamar yang ukurannya cocok.

Pemilik penginapan sangat menyukai Nomor 17, tapi Tn. Anderson beralasan jendela-jendelanya hanya menghadap tembok kosong rumah sebelah, dan akan sangat gelap di sore hari. Nomor 12 atau Nomor 14 pasti lebih baik, sebab keduanya menghadap jalan. Cahaya petang cerah dan pemandangan indah akan menutupi gaduh tambahan.

Akhirnya dipilihlah Nomor 12. Seperti tetangga-tetangga­nya, ia memiliki tiga jendela, semuanya di satu sisi kamar. Ruangannya tinggi dan lebih panjang. Tentu saja tak ada perapian, tapi tungkunya cantik dan agak tua—pancangan besi tuang yang di sisinya terdapat gambar Abraham mengorbankan Ishak dan di atasnya terdapat prasasti, ‘I Bog Mose, Cap. 22’. Tak ada hal lain yang luar biasa di kamar; satu-satunya yang menarik adalah potret kota berwarna yang sudah usang, bertanggal sekitar tahun 1820.

Judul asli : Number 13 ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment