Skip to content
Maut di Excelsior – Relift Media

Maut di Excelsior

Di sebuah rumah sewa Southampton, di kamar dengan pintu terkunci, orang ini disengat kobra. Yang menambah sedikit misteri pada perkara sederhana ini, ketika pintu dibuka tak ada tanda keberadaan kobra. Tak mungkin ia keluar lewat pintu.


Kamar ini adalah kamar tidur khas rumah sewa biasa: perabotnya, jika boleh dikatakan berperabot, sangat sederhana. Ia terdiri dari dua ranjang, satu lemari laci pinus, selembar karpet pudar, dan baskom cuci. Tapi ada sesuatu di lantainya yang membedakan kamar ini dari seribu kamar berjenis sama. Terbaring, kedua tangan terkepal erat, satu kaki membelit aneh di bawah, gigi berkilat di antara janggut kelabu dengan seringai mengerikan, Kapten John Gunner menatap langit-langit tanpa melihat apa-apa.

Baru beberapa saat lalu, kamar kecil ini masih miliknya. Tapi sekarang dua orang berdiri di dalamnya, memandanginya. Yang satu adalah polisi bertubuh besar, sedang memutar-mutar helmnya dengan gugup. Yang satu lagi adalah wanita tua, kurus-kering, jangkung, berpakaian hitam luntur, mengamati mayat ini dengan mata pucat. Wajahnya tanpa ekspresi.

Wanita ini adalah Ny. Pickett, pemilik Excelsior Boarding-House. Sedangkan nama polisinya adalah Grogan. Dia raksasa ramah, teror bagi pengacau di daerah dekat perairan ini, tapi santai di hadapan kematian. Dia menarik nafas, menyeka dahi, dan berbisik: “Lihat matanya, nyonya!”

Ny. Pickett belum bicara sepatah katapun sejak membawa polisi ini ke dalam kamar, dan demikian pula sekarang. Polisi Grogan cepat-cepat menoleh padanya. Dia takut dengan Ibu Pickett, sebagaimana setiap orang di sepanjang daerah perairan ini. Kebisuannya, mata pucatnya, dan keteguhannya bahkan menakuti para pelaut tangguh berpengalaman yang menjadi langganan Excelsior. Dia punya pengaruh hebat di komunitas kecil pelaut.

“Beginilah kondisinya saat kutemukan,” kata Ny. Pickett. Bicaranya tidak lantang, tapi suaranya membuat si polisi kaget.

Dia menyeka dahi lagi. “Mungkin gara-gara apoplexia,” tebaknya.

Ny. Pickett tak berkata apa-apa. Ada bunyi langkah kaki di luar. Seorang lelaki muda masuk, membawa tas hitam.

“Selamat pagi, Ny. Pickett. Aku diberitahu bahwa—Astaga!” Sang dokter belia berlutut di samping jasad dan mengangkat salah satu lengan. Setelah beberapa lama dia menurunkannya kembali ke lantai dengan lembut, lalu menggeleng pasrah.

“Dia sudah mati berjam-jam,” maklumatnya. “Kapan kau menemukannya?”

“Dua puluh menit lalu,” jawab wanita tua. “Kurasa dia mati tadi malam. Dia tak pernah mau dibangunkan di pagi hari. Katanya dia suka tidur lebih lama. Well, keinginannya terkabul.”

“Apa penyebab kematiannya, pak?” tanya polisi.

“Mustahil dipastikan tanpa pemeriksaan,” jawab dokter. “Kelihatannya stroke, tapi aku yakin bukan. Mungkin serangan jantung, tapi kebetulan aku tahu tekanan darahnya normal, jantungnya sehat. Baru seminggu lalu dia datang padaku, dan aku memeriksanya secara menyeluruh. Tapi terkadang kita bisa terkecoh. Pemeriksaan akan memberitahu kita.” Dia mengamati jasadnya, penuh penyesalan. “Aku heran. Orang ini tak pantas mati seperti ini. Dia pelaut tangguh berpengalaman yang semestinya mampu hidup dua puluh tahun lagi. Kalau boleh jujur—meski aku belum yakin sebelum dilakukan pemeriksaan—sepertinya dia diracun.”

“Bagaimana caranya dia diracun?” tanya Ny. Pickett pelan.

“Aku tak tahu lebih dari itu. Tak ada gelas berisi racun yang mungkin menjadi tempatnya minum. Barangkali dia mendapat­kannya dalam bentuk kapsul. Tapi kenapa dia harus berbuat itu? Dia orang yang periang, bukan?”

“Ya, pak,” kata polisi. “Dia punya reputasi sebagai pelawak di wilayah ini. Sedikit sarkastis, kata mereka, meski tak pernah mencobanya padaku.”

Judul asli : Death at the Excelsior ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment