Skip to content
Kode No. 2 – Relift Media

Kode No. 2

Kode No. 2 sangatlah rahasia. Kode inilah yang dipergunakan agen-agen besar. Ia tidak dicetak, tidak pula diedarkan, melainkan dipelajari di bawah pengajaran Kepala sendiri.


Dinas Rahasia tak pernah menyebut diri mereka secara melodramatis. Jikapun mereka bicara, biasanya disamar­kan sebagai “Departemen”—kalian lihat, bahkan bukan “Depar­temen Intelijen”. Bagaimanapun juga ini departemen hebat, dan di antara orang-orang hebat yang bertugas—dalam kapa­sitas kecil—ada Schiller.

Dia merupakan pemuda Swiss berdaya cipta tinggi, dengan hasrat besar terhadap bahasa asing. Dia kenal semua penjahat di London—jahat dari sudut pandang politik—dan dia ber­manfaat bagi Kepala Sekretaris (Intelijen), meski Bland dan para pembesar...well, mereka tidak membencinya, tapi mereka agak...entah bagaimana menyebutnya.

Mengamati kuda bersemangat yang melintasi secarik kertas putih di jalan, dia sama sekali tak ketakutan, dia justru mem­perhatikan makhluk berderap-derap tersebut dengan penuh harap.

Dia belum pernah masuk Permainan Besar, meski sudah berusaha keras. Tapi Permainan Besar dimainkan oleh orang-orang yang “mengunyah sandi rahasia di buaian”, begitu kata Bland.

Dengan suatu cara misterius, Schiller tahu Reggie Batten ditembak mati saat sedang mengeluarkan perintah mobilisasi Korps Bavaria ke-14 dari sebuah tempat persembunyian di Munich—ini betul, dan kejadian menyedihkan ini dilukiskan sebagai “kecelakaan penerbangan”.

Otoritas militer Munich mengangkat jasad Reggie ke dalam pesawat lalu menjatuhkannya...kemudian koran-koran Munich menghadiahi Reggie ulasan indah, dan menyebut pemakaman akan dilangsungkan pukul dua, dan mereka berharap semua teman tercintanya akan datang. Teman-temannya yang tak menaruh curiga ditahan dan digeledah, penginapan dan kopor mereka dijarah, dikirim keluar perbatasan.

Bland, yang berada di Munich, tidak menghadiri pema­kaman, bahkan dia meninggalkan kota bir itu tanpa berlama-lama.

Dia kembali ke kota hanya sehari ketika Schiller diminta datang untuk bertukar pandangan.

Bland, berdagu persegi, klimis, dan berpembawaan tenang, mendengar keterangan Schiller, lalu tertawa.

“Kau sama sekali salah soal Tn. Batten,” ujarnya. “Dia tak terkait dengan departemen ini, dan kematiannya akibat kecela­kaan naas. Karena itu aku tak bisa menyerahkan pekerjaannya padamu.”

Schiller mendengarkan dan membungkuk.

“Aku salah informasi, pak,” katanya sopan.

Dia menempuh cara lain dan menyusun serangan terencana terhadap Kepala Sekretaris, yang telah menikmati taraf karir nyaman, dilambangkan dengan peralihan antara akhir periode kebergunaan dan kesadarannya akan fakta ini.

Di masanya, Sir John Grandor adalah Intelijen terhebat di Eropa, tapi kini—dia masih menyebut telegram nirkabel sebagai “penemuan hebat”.

Tetap saja Sir John seorang kepala. Kepala yang lumayan lihai. Cap kantornya adalah Kode No. 2. Mata biasa tak bisa melihatnya. Ia tertera pada rak dasar brankas antara tutup-tutup baja, pelat demi pelat tulisan rapat dan rapi hasil tangan­nya sendiri.

Kode No. 2 sangatlah rahasia. Kode inilah yang diperguna­kan agen-agen besar. Ia tidak dicetak, tidak pula diedarkan, melainkan dipelajari di bawah pengajaran Kepala sendiri. Orang-orang yang tahu Kode No. 2 tidak pernah menyom­bongkan pengetahuan mereka, sebab nyawa mereka berada dalam keadaan genting—bahkan di masa damai.

Judul asli : Code No. 2 ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment