Skip to content
Rumah Baru – Relift Media

Rumah Baru

Dia bersikeras baru melihat sosok luar biasa tinggi datang ke samping ranjang dan berdiri di sana. Cahaya kamar terlalu redup untuk mendefinisikan sosok penampakan ini, selain fakta bahwa dia melihat jelas wujudnya.


Dalam delapan tahun terakhir—tanggal persisnya sengaja kuhilangkan—aku disuruh oleh dokter untuk pindah tempat tinggal ke rumah pantai karena kondisi kesehatanku tidak memuaskan. Maka, aku pun menyewa sebuah rumah untuk setahun di pinggir pantai, jaraknya lumayan dari kota tempatku tinggal sebelumnya, dan terhubung dengan jalur kereta.

Musim dingin sedang turun ketika kepindahanku ke sana diputuskan, tapi tak ada rasa murung atau sedih atas perubahan ini. Rumah yang kusewa, dari segi penampilan dan kenyamanan, juga cukup modern. Ia menyatu dengan taman-taman kecil di depan, menghadap laut, menawarkan hawa dan pemandangan laut yang sempurna. Di belakang terdapat gudang pedati dan istal, dan di antara kedua tempat tersebut dan rumah terhampar lapangan rumput lumayan luas diselingi taman-taman bunga.

Keluarga kami terdiri dari aku dan isteriku, serta tiga anak kami. Yang tertua berumur sekitar sembilan tahun. Dia dan yang kedua adalah anak perempuan. Dan yang termuda, sekitar enam atau tujuh tahun, anak lelaki. Ditambah lagi dengan enam pembantu yang, untuk alasan tertentu aku tak mau mengungkap nama asli mereka, akan kusebut satu persatu secara sembarang, demi kejelasan. Ada satu perawat, Bu Southerland. Satu pengasuh anak, Ellen Page. Koki, Bu Greenwood. Satu pembantu rumah-tangga, Ellen Faith. Satu kepala pembantu, yang kupanggil Smith, bersama puteranya, James, umurnya kira-kira 22 tahun.

Kami tiba sekitar jam tujuh malam. Segalanya terasa nyaman dan riang; perapian menyala, ruang-ruang rapi dan banyak udara, suasana terbenah dan enak, kondusif sekali untuk semangat baik dan harapan indah.

Ruang duduknya luas dan menyenangkan. Bersama kamar tidur, ruang duduk kami berperabot lengkap, lebih megah dari dapur dan kamar pembantu di lantai yang sama, dan memiliki kesan baru dicat dan diperaboti. Karakternya amat modern, memberi suasana bersih dan nyaman.

Kami cukup repot beres-beres, dan setelah beristirahat di kamar masing-masing, pikiran kami terasa senang. Sebagai penyandang cacat, tempat tidurku kecil—aku menyerahkan ranjang berkelambu pada isteriku. Lilinnya padam, tapi lampu malam menyala. Aku sedang naik ke lantai atas, sementara dia sudah di ranjang dan menyuruh pergi pembantunya, ketika kami berdua terperanjat oleh jeritan liar dari kamarnya. Kudapati dia dalam kondisi heboh dan ngeri. Dia bersikeras baru melihat sosok luar biasa tinggi datang ke samping ranjang dan berdiri di sana. Cahaya kamar terlalu redup untuk mendefinisikan sosok penampakan ini, selain fakta bahwa dia melihat jelas wujudnya, pucat karena kurangnya cahaya untuk mengungkap lebih dari garis bentuknya yang gelap.

Kami berdua berusaha menenangkannya. Kamar sekali lagi tampak riang dengan cahaya lilin, kami pun tidak terpengaruh oleh terornya. Pergerakan dan suara para pembantu menuruni tangga, yang masih meletakkan barang-barang ke tempatnya dan menyelesaikan beres-beres, juga turut memperkuat kami melawan pengaruh seperti itu, dan kami menganggapnya sebagai mimpi atau garis tirai ranjang yang kurang terlihat jelas. Namun, begitu kami berduaan, isteriku mengulangi pernyataannya, masih terhasut, bahwa dia yakin melihat sosok yang baru saja dilukiskannya pada kami, sebab waktu itu dia masih terjaga, belum tidur. Dan dia teguh dengan keyakinan ini.

Judul asli : An Authentic Narrative of a Haunted House ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment