Skip to content
Nyonya Kelabu – Relift Media

Nyonya Kelabu

Aku belum menyimpannya dan merasakan segala hal baik dalam hidupku. Takkan kubiarkan, Henry. Takkan kubiarkan kau mengambil dan menenggelamkannya seperti yang sudah-sudah dan jatuh di kakimu sebagai mayat.


Hantukah itu?

Selama berhari-hari aku tak mampu menjawab pertanyaan ini. Aku bukan orang yang percaya penjelmaan arwah, tapi— Biar kuceritakan pengalamanku.

Aku indekos bersama isteriku di lantai pertama sebuah rumah di Twenty-seventh Street. Aku menyewa apartemen untuk tiga bulan, dan kami sudah tinggal di sana selama dua bulan. Tempatnya cukup nyaman. Ruang belakang kami pakai sebagai kamar, dan saat kami menjamu beberapa teman, dua daun pintu mahoni tua besar yang menghubungkan kedua ruangan biasanya terbuka lebar.

Suatu pagi, karena isteriku sedang sakit, aku meninggal­kannya berbaring di ranjang dan melangkah ke ruang tamu untuk sarapan. Hari sudah siang—kira-kira jam sembilan—dan aku bergegas. Lalu aku mendengar sebuah suara di belakangku—atau aku cuma merasakan kehadiran?—dan, saat berbalik, kulihat seorang wanita aneh dan tak dikenal menghampiriku dari kamar isteriku.

Karena aku baru meninggalkan kamar itu, dan karena tak ada jalan masuk lain kecuali pintu yang selalu kami kunci, aku begitu keheranan sampai tak terpikir untuk bicara atau bergerak sebelum dia melewatiku. Kemudian aku mendapatkan suaraku kembali dan memanggil “Nyonya!”, berusaha meng­hentikannya.

Tapi nyonya itu, jika benar seorang nyonya, terus berlalu dengan tenang, bahkan mekanis, seolah tak mendengar suaraku, sebelum aku sadar bahwa dia melebur dari hadapanku, melayang ke pintu depan dan keluar, meninggalkan “rasa” gaun wolnya—yang berhasil kusentuh—di telapak tanganku.

Tak paham akan dirinya atau diriku atau sensasi aneh yang ditimbulkan oleh sentuhan ini, aku membuka pintu depan dan menengok keluar. Tentu saja aku mengira akan melihatnya di tangga atau trotoar depan. Tapi dia tak terlihat di manapun, dan aku kembali sambil bertanya-tanya apa aku ini korban halusinasi atau sekadar kekonyolan sehari-hari. Untuk menjawab pertanyaan penting ini aku mencari pelayan koridor, dengan maksud menanyainya apa dia melihat seseorang seperti itu keluar. Tapi pemuda nakal itu seperti biasa tak ada di posnya dan tak ada siapapun yang bisa ditanya.

Tak ada yang dapat kuperbuat selain masuk lagi ke kamar, di mana perhatianku segera tersita oleh pemandangan duduknya isteriku di tempat tidur dan mengamatiku dengan raut heran.

“Siapa wanita barusan?” tanyanya. “Bagaimana dia masuk ke sini?”

Jadi dia juga melihatnya.

“Wanita apa, Lydia? Aku tak memasukkan seorang wanita pun. Kau pikir ada wanita di ruangan ini?”

“Bukan di ruangan itu,” jawabnya serak, “tapi di sini. Aku melihatnya berlalu melewati pintu lipat. Wilbur, aku ketakutan. Lihat, tanganku gemetar. Kau pikir aku sakit parah sampai berkhayal melihat sesuatu?”

Aku tahu dia benar, tapi aku tidak bilang. Kupikir lebih baik dia menganggap dirinya salah paham.

“Kau mengantuk,” kataku. “Jika kau lihat wanita di sini, tentu kau bisa ceritakan bagaimana penampilannya.”

“Aku bisa,” sela isteriku heboh. “Dia seperti hantu-hantu yang sering kita baca, hanya saja gaunnya dan kerudung atau selendang yang dipakainya semuanya kelabu. Kau tak melihat­nya? Kau pasti lihat. Dia persis melewatimu—wanita kelabu, serba kelabu; seorang nyonya, Wilbur, dan sedikit pincang. Mungkinkah aku cuma bermimpi?”

“Pasti cuma mimpi!” protesku, menggetar-getarkan pintu koridor agar dia tahu itu terkunci, dan bahkan menunjukkan kuncinya tergeletak di tempat biasa di bawah bantal lemari laci. Tapi aku tak puas, sebab dia melukiskan sosok itu dengan sangat akurat, sosok yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Apa kami sama-sama korban penjelmaan arwah?

Judul asli : The Gray Lady ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment