Skip to content
Kisah Mansion – Relift Media

Kisah Mansion

Tuan, andai kau melihat, sebagaimana aku lihat, kamar luas itu, berlapis kertas dinding cokelat, kau akan merasa diangkut ke dalam adegan sebuah romansa. Kamarnya dingin, bahkan lebih dari itu, angker.


“Ah! Madame,” sahut dokter, “aku punya beberapa cerita geger dalam koleksiku. Tapi masing-masing ada jam pantasnya dalam perbincangan—kau tahu lelucon manis yang disampaikan oleh Chamfort, dan dikatakan kepada Duc de Fronsac: ‘Antara gurauanmu dan momen saat ini ada sepuluh botol sampanye.”

“Tapi sekarang jam dua pagi, dan cerita Rosina sudah menyuguhi kita,” kata nyonya rumah.

“Ceritakan, Monsieur Bianchon!” pekikan dari segala sisi.

Dokter membungkuk bersedia, dan keheningan merajalela.



Sekitar seratus yard dari kota Vendôme, di perbatasan Loire, ada sebuah rumah kelabu tua beratapkan nok-nok tinggi. Saking terisolirnya rumah itu, tak ada tempat pengulitan ataupun losmen jembel di lingkungan sekitarnya, seperti yang biasa dijumpai di jalan masuk semua kota kecil.

Di depan bangunan ini, berpemandangan sungai, ada sebuah taman di mana pagar tanaman box yang dulunya berkondisi bagus dan membatasi trotoar kini tumbuh liar dan miring. Beberapa pohon willow yang berasal dari Loire tumbuh sepesat pagar semak yang melingkunginya, dan menyembunyi­kan separuh rumah. Rerumputan liar itu, yang kita sebut belitan, menghiasi pesisir yang melandai. Pohon-pohon buah, terbengkalai selama sepuluh tahun terakhir, tak lagi meng­hasilkan panen, dan pucuknya membentuk belukar. Wall-fruit tumbuh bagai pagar semak di dinding. Lintasan-lintasan kecil yang dulu berkerikil kini ditumbuhi lumut, tapi sebetulnya tak ada bekas lintasan. Dari puncak bukit, di mana bercokol reruntuhan kastil tua para Duke Vendôme, dan hanya dari sanalah mata kita bisa melihat tanah berpagar ini, tertangkap kesan bahwa pada suatu masa bidang tanah ini pernah menjadi kesenangan seorang terpandang di desa, yang mengolah mawar, tulip, dan hortikultura secara umum dan menggemari buah enak. Sebuah punjung masih terlihat, atau lebih tepatnya puing punjung, di mana terdapat meja yang belum dirusak oleh waktu. Aspek taman masa lalu ini menyiratkan gembiranya kehidupan desa nan tenteram, sebagaimana kehidupan saudagar terhormat yang bisa direkonstruksi dengan membaca tulisan di batu nisannya. Seakan melengkapi kemanisan dan kepiluan ide-ide yang merasuki jiwa seseorang, salah satu dinding menampilkan jam matahari berhiaskan prasasti lazim Kristen: “Ultimam cogita!” Atap rumah ini sangat lapuk, daun-daun jendela selalu tertutup, balkon-balkon diliputi sarang burung layang, pintu-pintu selalu terkunci, rerumputan liar membentuk garis hijau pada retakan lantai-lantai anak tangga, kunci dan selot berkarat. Matahari, bulan, musim dingin, musim panas, dan salju telah mengauskan panel, membengkok­kan papan, merekahkan cat. Kesunyian murung yang berkuasa di sana hanya dipatahkan oleh burung, kucing, martin, dan tikus, yang bergerak bebas ke sana kemari, bertengkar dan memangsa satu sama lain. Di mana-mana tangan gaib mengukir kata “Misteri”.

Jika rasa penasaran mendorong kalian melirik rumah ini dari sisi yang menunjuk ke jalan, kalian akan melihat sebuah pintu besar yang banyak dilubangi oleh anak-anak setempat. Aku dengar pintu ini telah ditutup selama sepuluh tahun terakhir. Lewat lubang-lubang yang dibuat bocah-bocah itu, kalian akan melihat harmoni sempurna yang terdapat di antara muka-muka taman maupun pekarangan. Keduanya sama-sama berantakan. Rumbaian rumput liar mengelilingi batu trotoar. Retakan besar bergalur di tembok yang puncak-puncak hitamnya merangkul karangan bunga pellitory. Anak-anak tangga terputus, kabel bel berkarat, cerat talang retak. Api samawi apa yang turun di sini? Pengadilan apa yang memutus menabur garam di tempat tinggal ini? Apa Tuhan sudah dihujat, apa Prancis sudah dikhianati di sini? Itulah pertanyaan yang kami tanyakan pada diri sendiri, tapi tak ada jawaban dari makhluk-makhluk merayap yang menghantui tempat ini. Rumah kosong dan terlantar ini merupakan enigma raksasa, yang kuncinya hilang. Dahulu ini tanah feodal kecil, dan menyandang nama Grande Bretêche.

Judul asli : The Mysterious Mansion
La Grande Bretêche
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment