Skip to content
Sosok di Kamar Atas – Relift Media

Sosok di Kamar Atas

Matanya terpaku pada sebuah belati Melayu yang tergeletak di atas meja antara dirinya dan jendela. Itu alat membunuh, dan kepala belatinya dibentuk menyerupai kepala burung, dengan paruh melengkung dan mata batu merah.


Sebuah bayangan bergantung di atas pintu, hitam pekat dalam kegelapan ceruk busurnya, seperti mata tak terukur di bawah kerutan dahi. Peronnya lebar dan berpanel, pegangan­nya kokoh, ditopang susuran berukiran, memanjang dengan tukikan berselang-seling dan mendatar di tangga yang gelap, melewati pintu-pintu lain sampai halaman dan jalan raya. Pintu-pintu lain juga gelap, tapi berbeda. Peron puncak tersebut adalah yang paling terang di antara semuanya, berkat adanya kaca atap; dan mungkin gara-gara kontras inilah salah satu lawang pintunya begitu suram dan seram. Pintu-pintu di bawah dibuka dan ditutup, dibanting, sedikit renggang. Pria dan wanita keluar masuk, diiringi obrolan dan suara manusia—bahkan terkadang gelak tawa atau petikan lagu; tapi pintu di peron puncak tetap tertutup dan sunyi sepanjang minggu dan bulan. Sebab kamar penginapan itu punya nama buruk, dan bertahun-tahun tak disewa. Bahkan jauh sebelum penyewa terakhir menempatinya, kamar itu dipandang dengan rasa takut dan enggan, dan kematian penyewa terakhir sama sekali tidak menerangi kesuraman tempat tersebut.

Rumah ini begitu tua, wajahnya yang dibilas cuaca mungkin pernah menyaksikan pembunuhan St. Bartholomew’s, dan bahkan mungkin kamar berhantu itu mendapat nama buruknya pada hari kematian yang sama. Tapi Paris adalah kota sejarah bengis. Sejak mansion tua ini menjulang bangga dan baru, sebagai hotel megah dan kokoh, hampir setiap tahun selama berabad-abad kamar atas itu tercemar, menjadikannya tempat kebencian dan bayangan. Peristiwanya sudah lama dilupakan, tapi fakta-faktanya tetap bertahan; entah benar atau tidak suatu kengerian rezim kuno atau Teror jahat bermain di kamar tersebut, hal ini tak lagi diketahui; tapi tak ada yang mau tinggal di sana, atau menginap di balik pintu suramnya lebih dari satu detik. Barangkali nasib penyewa tunggal dalam kenangan ada kaitannya dengan masalah ini—dan memang kematiannya cukup menyeramkan; tapi jauh sebelumnya kamar itu sudah dihindari dan kosong. Dia nekat mengabaikan teror kamar, dan malah memanfaatkannya demi mengurangi biaya sewa; dan tak lama kemudian dia menembak dirinya sendiri sewaktu polisi menggedori pintu untuk menangkapnya atas tuduhan pembunuhan. Seperti kukatakan, nasibnya mungkin menambah ketidaksukaan terhadap tempat itu, meski bukan berasal darinya; dan sekarang sepuluh tahun lebih telah berlalu sejak barang-barang furniturnya diangkut dan dijual; dan tak ada barang pengganti.

Ketika seseorang berumur 25, sehat, lapar, dan miskin, kecil kemungkinannya dia akan takut dengan penginapan murah hanya karena gelengan kepala, dibanding dalam kondisi lain. Attwater berusia 25, secara umum sehat, sering lapar, dan selalu miskin. Dia datang untuk tinggal di Paris karena, dari ingatan masa sekolahnya, dia yakin bisa hidup lebih murah daripada di London, meski sudah pasti lukisannya takkan laku, sebab belum pernah terjual satupun.

Pengawas pintu rumah tetanggalah yang menunjukkan kamar ini kepada Attwater. Penginapannya sendiri tidak mengupah pegawai seperti ini, padahal pintu utamanya terus terbuka siang dan malam. Orang itu bercerita sedikit, tapi kekagetannya terhadap permintaan Attwater jelas terlihat. Monsieur dari Inggris? Ya. Penginapannya nyaman, meski tinggi, dan mungkin agak kotor sekarang, sebab tak ditempati belakangan ini. Sederhananya, orang itu merasa bukan urusan­nya menerangkan reputasi tempat tersebut kepada orang asing yang tak curiga; dan jika tersewakan akan ada imbalan kecil dari pemilik penginapan, meski, dengan biaya sewa segitu, jumlahnya sangat kecil.

Judul asli : The Thing in the Upper Room ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, April 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment