Putera Tuhan bisa saja meloloskan diri dari kemarahan musuh-musuh-Nya, sebab satu kata dari mulut-Nya cukup untuk merebahkan mereka ke tanah; tapi Dia mengasihi kita, Dia ingin menyelamatkan kita, dan untuk mendamaikan kita dengan Bapak-Nya, Dia memilih untuk mati.
