Aristokrasi Kesehatan
Oleh: Mary Foote Henderson Ras manusia sakit. Ras manusia anemia; dan dunia ini, yang merupakan surga tapi diubah oleh manusia menjadi rumah sakit, dilihat dan dinilai melalui mata orang-orang sakit. Pembaca budiman, berapa banyak kenalan pribadimu benar-benar sehat di usia lima puluh, empat puluh, tiga puluh? Tiga, dua, satu? Ingat, jangan menempatkan standar kesehatan terlalu rendah—jangan di bawah standar kesehatan sekawanan burung, misalnya, yang masing-masingnya sama-sama utuh secara fisik dan sama-sama cantik. Burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, rusa-rusa di hutan dan lili-lili di ladang, melambangkan kehidupan jenis mereka dalam kemuliaannya yang penuh, tapi tidak demikian manusia. Seorang manusia sehat—seorang aristokrat kesehatan, model bagi pematung Yunani kuno—jarang terlihat. Malah, pelanggaran hukum higienis sudah begitu umum dan lama merajalela sehingga degenerasi manusia telah diterima sebagai nasib umat manusia yang ditetapkan. Kehidupan manusia hanyalah sebuah apologi, sebuah pengganti sementara, sebuah kompromi. Kondisi dekaden kehidupan manusia adalah sedemikian rupa sehingga suatu jenis kebiasaan racun disangka perlu agar dapat hidup dengan layak dan puas. Dan dari sudutpandang fisiologis, sungguh hereditas bastar! Oliver Wendell Holmes menyebut manusia sebagai sebuah bus hidup, yang di dalamnya dia mengangkut semua leluhurnya. Siapa di antara kita yang tidak berkewajiban mengangkut dalam bus itu puing-puing kapal karam manusia, yang, dalam keadaan bergeser dan membusuk, terdampar di pantai kehidupan? Dan alangkah buruknya pendidikan! Dengan segala kecongkakan yang melimpah, kebiasaan hidup kita secara higienis sangat buruk. Lembaga-lembaga pendidikan kita hampir tidak menyentuh tepian pendidikan yang paling dibutuhkan ras manusia, yang menggalakkan penghormatan dan kepedulian terhadap tubuh manusia sebagai sebuah mekanisme, sebuah wahana, yang kesempurnaan atau ketidaksempurnaannya mengatur setiap kondisi kehidupan secara menguntungkan atau tak menguntungkan. Tidak seperti para aristokrat di kalangan mawar dan binatang rendah yang manusia latih dengan senang hati, dia tidak memiliki keunggulan perkembangan mereka yang luar biasa. Dia tidak memiliki kultur yang telah dia berikan kepada mereka—hasil dari ketelitian dan telaah tak terbatas. Dalam pelatihan mawar, tukang kebun cermat tanpa ampun mencabut semua gulma berbahaya hingga ke akar-akarnya, dan membakar benih mereka. Dia menghilangkan, sebisa mungkin, semua pengaruh yang memerosotkan kehidupan tanaman megahnya. Apalah kita ini selain produk dari berbagai pengaruh, baik, buruk, atau biasa saja, yang masing-masingnya berarti untuk kebaikan atau keburukan? Pelatihan fisik manusia (yang terkait begitu erat dengan pelatihan moralnya) telah diserahkan kepada untung-untungan dan kepada mode sesaat. Keluarga manusia, perguruan tingginya, gerejanya, kotanya, negara bagiannya, negaranya, telah menoleransi dan mendorong gulma dan parasit yang mencekik dan melahap bagian terbaik kehidupan manusia. Karena kurangnya ketelitian pemeliharaan, betapa banyak bunga dan buah manusia telah hilang dari dunia! Yang terutama disesalkan adalah makna sempit dan susut dari istilah “kesehatan” ketika diterapkan pada umat manusia. Kepuasan dengan standar fisik yang rendah ini tidak diragukan lagi telah menjadi rintangan utama bagi penggalakan kesehatan yang bagus. “Aku sehat,” kata pria dengan langit-langit mulutnya yang lumpuh, seleranya kurang terhadap makanan sederhana, penglihatannya yang cacat, kepenatannya, depresinya, pesimismenya, gangguan pencernaannya, pileknya, ukuran beratnya, sensitivitasnya terhadap cuaca, kebutuhannya akan obat bius—alkohol, tembakau, teh, kopi, atau lada. Apa itu kesehatan sejati? Mari kita pahami maknanya lebih luas. Kesehatan lebih dari sekadar ketidaksadaran akan eksistensi tubuh seseorang. Ia adalah kesenangan pasti dalam memiliki tubuh; kesenangan pasti dalam segala aktivitas yang mengembangkan bagian terbaik kehidupan; ketidaksukaan pasti terhadap segala sesuatu yang menurunkan kesehatan. Definisi bagus kesehatan disampaikan dalam “Muscle, Brain, and Diet”, sebuah buku mengagumkan karya Tn. Eustace Miles, M.A. (Petenis Juara Amatir Inggris).“Kesehatan yang bagus,” katanya, “tidak bisa berat sebelah—hanya penampilan, hanya nafsu makan, hanya otot besar, hanya kapasitas untuk bekerja keras. “Kesehatan sejati, seperti halnya kebajikan sejati, adalah kombinasi dari banyak hal yang membentuk kesatuan harmonis. Untuk menjadi sehat, seseorang harus sehat dari segala sudutpandang. . . . Definisi baruku akan menggantikan gagasan-gagasan lama tentang kesehatan dengan menyertakan mereka, menggabungkan mereka, mengoreksi mereka, dan mengembangkan mereka. Orang yang benar-benar sehat tidak hanya akan terlihat sehat, tapi dia akan mampu mengikuti kesenangan dan tanpa jerih-payah, tanpa stimulan, tanpa letih, dan untuk jangka waktu lama sekaligus, untuk berbagai jenis aktivitas fisik, berbagai jenis aktivitas intelektual, yang terhadapnya dia akan merasakan kecenderungan dan keinginan tegas. Aku menganggap kesehatan bagus bukan sekadar ketiadaan beberapa tanda penyakit yang kurang lebih pasti, tapi juga berupa kecenderungan tegas dan aktif terhadap apapun yang baik, kecenderungan untuk berkembang, sebagaimana Tuhan menghendaki manusia untuk berkembang, ke segala arah, baik fisik, mental, maupun moral. . . . “Sisi fisik hanyalah salah satu bagian dari kesehatan. Yang kumaksud dengan kerja otak bukanlah sekadar kemampuan untuk mengasah dan memperoleh fakta. Yang kumaksud adalah sesuatu yang lebih orisinal dan serbaguna daripada ini—misalnya, kemampuan untuk melihat dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari apapun yang berguna dalam subjek apapun. . . . Standar manusia fisik bergantung pada aktivitas, ketahanan, dan keterampilan.”Tn. Miles kembali mengangkat topik ini dalam “Avenues to Health” sebagai berikut:—
“Selalu ada kecenderungan di kalangan bangsa Anglo-Saxon untuk menetapkan ‘atlet sebagai atlet’ belaka sebagai tipe kesehatan fisik, tanpa memandang apakah kecerdasannya berkembang dan moralnya murni dan kuat; . . . kami tidak menganggap ‘atlet sebagai atlet’ sebagai orang yang benar-benar sehat. Dia tidak berhak disebut orang sehat sebagaimana fondasi atau perancah rumah tidak berhak disebut rumah. Mereka dapat menjadi rumah yang baik; memang mereka sangat diperlukan untuk rumah yang baik; tapi saat ini rumah baik hanya eksis dalam potensialitas. “Santo yang anemia tidak memiliki fondasi atau perancah sama sekali. Memang benar dia tidak pernah ditetapkan untuk kita sebagai tipe kesehatan paripurna. Tapi dia sering ditetapkan untuk kita oleh Gereja sebagai orang yang sangat ideal. Maka dari itu timbul beberapa kesalahpahaman dan kekeliruan mengerikan, terutama di kalangan perempuan. “Santo yang anemia biasanya tidak memenuhi standar ideal kita dalam dua hal penting, yaitu bahwa dia tidak memiliki tubuh ideal ataupun intelek ideal. Dia belum tentu berpengetahuan luas atau berpikiran terbuka. . . . Dalam menetapkan persona ‘spiritual’ ini sebagai standar ideal, para pemuji santo biasanya menyiratkan bahwa kesehatan fisik dan intelektual, aktivitas, energi, ketahanan, keadaptasian, dan daya tarik kurang atau tidak penting sama sekali. . . . Ekstrem ketiga dan bukan yang paling tak dihendaki, adalah penstudi belaka, yang seringkali merupakan sekumpulan informasi tak bermanfaat yang berjalan; . . . dia mungkin tidak sehat secara fisik ataupun secara spiritual dan secara moral, dan bahkan belum tentu berpengetahuan luas dalam subjek-subjek penting, atau berpikiran terbuka dalam subjek apapun. Dia juga ditetapkan untuk kita sebagai persona yang tidak boleh dikasari karena tubuhnya tidak sehat. Saat muda kita diperintahkan untuk membicarakannya dengan penuh hormat, bukan sebagai otak belaka, tapi sebagai manusia utuh, dan kita tidak diwanti-wanti agar tidak menghormati (dan karenanya meniru) keadaan jasmani dan rohaninya yang tak berkembang. “Nah, ada bahaya besar bagi bangsa ini selama satupun dari ketiga tipe ekstrem itu, masing-masing dengan sekurangnya sepertiga fitrah mulia yang kurang-lebih berhenti tumbuh, dibiarkan tanpa kritik. Maksudku, bukan berarti kita harus mengasari individu-individu secara kejam, tapi kita harus . . . memberikan penghargaan sepantasnya kepada masing-masing individu dalam satu bidang di mana dia unggul. Tapi jangan sampai kita membiarkan kaum muda dan orang-orang tak berpendidikan menganggap satupun dari ketiganya sebagai standar ideal. Marilah kita selalu merepresentasikan ketiga anugerah ini bersama-sama, bukan sebagai tiga individu, melainkan sebagai tiga bagian integral dari satu individu. Marilah kita katakan kepada kaum muda dan orang-orang tak berpendidikan, ‘Jadilah sehat jasmani sebagaimana atlet paling sehat; jadilah sehat rohani sebagaimana santo paling murni; jadilah sehat intelektual sebagaimana jenius paling agung. Tapi janganlah menjadi fondasi tanpa rumah, atau rumah tanpa fondasi, atau tanpa pria atau wanita cerdas dan baik untuk meninggalinya dan menggunakannya.’”Tn. Miles berpendapat bahwa yang pertama dan terpenting di antara tanda-tanda kesehatan yang buruk adalah keinginan akan stimulan, dan mungkin bahkan kesukaan terhadapnya. “Aku bisa beranjak lebih jauh,” katanya, “dan menyatakan dengan tegas bahwa menurutku kesehatanku tidak sebagus yang seharusnya jika aku sampai bisa dibujuk untuk mengkonsumsi stimulan.” Api kesehatan yang alami, menyala-nyala, dan energik—kesehatan yang luar biasa—terlihat dan terasa. Ia magnetis. Ia mengadakan tempat dan pengikut untuk dirinya sendiri. Ia konstruktif. Ia inisiatif. Ia bahagia. Ia manusiawi. Ia indah. Ia memancarkan kekuatan dan kecerahan. Ia beragitasi untuk kebaikan orang lain. Ia memaksa dengan senang hati untuk menjadi dan melakukan yang terbaik. Kesehatan yang baik menandakan darah “murni, aktif, dan kuat” yang bersirkulasi dengan mudah dalam mesin tubuh, tidak tersumbat oleh produk limbah. Ia menandakan membran-membran yang tidak terkakukan oleh racun dan mudah menyerap. Ia menandakan tenaga cadangan penuh yang tidak terhamburkan oleh pengaruh mengganggu. Kesehatan yang baik berarti bukan hanya vitalitas, aksi, dan inteligensia, tapi juga naluri tepat dan umur panjang. Seiring usia bertambah dan menjadi matang, kesehatan sejati selalu semakin berkualitas, sebab kesehatan mengambil asupan dari kesehatan; bahkan kesehatan harus sebagian besar dinilai menurut kecenderungan-kecenderungan habitual (kebiasaan tetap), karena mereka menambah atau mengurangi modal fisiologis. Untungnya, alam selalu berusaha berkembang secara normal, dan berjuang melawan perusak kesehatan.
diterjemahkan dari: Race Building,
How to Improve the Race,
Heredity and National Character,
dll.
| Judul asli | : | |
| Tahun | : | 1873, 1913, 1914 , dll. |
| Pengarang | : | Alexander Graham Bell, Théodule Armand Ribot, Victor Clarence Vaughan, dll. |
| Penerbit | : | Relift Media, Mei 2026 |
| Genre | : | Keluarga, Medis, Sosial |
| Kategori | : | Nonfiksi, Esai |
Unduh
Koleksi Sastra Klasik (2026)