Nikotin, Sejarah dan Efeknya
Oleh: May E. McDougald William De Witt Hyde, Presiden Bowdoin College, dalam sebuah artikel berjudul “The Education of the Will”, mengatakan, “Karena sekarang di setiap jurusan pendidikan kita mendesak pengamalan ketimbang penghafalan, di era taman kanak-kanak dan pendidikan manual ini, ini waktu yang baik untuk kita memberikan kepada ajaran moralitas manfaat metode riil dan praktis yang sama yang Aristoteles klaim lebih dari 2.000 tahun lampau.” Aristoteles dalam bukunya tentang etika mengatakan bahwa studi moralitas harus terperinci dan konkret; bahwa impresi-impresi awal pada benak anak kecil adalah impresi yang dalam dan kuat; bahwa di masa remaja dan masa kecillah kebiasaan-kebiasaan baik mesti dibentuk. Menyadari pentingnya kenyataan ini, para pendidik dan reformis hari ini sedang mengerahkan segala upaya untuk memajukan studi moralitas di sekolah-sekolah negeri kita. Pemantangan miras merupakan bagian besar dari kerja ini. Kita membaca dan mempelajari buku-buku pemantangan miras yang mengupas secara lengkap efek-efek alkohol; ada gerakan-gerakan pantang miras dan perhimpunan-perhimpunan pantang miras. Orang-orang, dalam usaha mereka untuk memperbaiki para pemabuk dunia, hampir tidak menyadari bahwa di tengah-tengah mereka ada sebuah kebiasaan buruk yang hampir sama dahsyatnya dengan alkohol, yang sedang menguras kekuatan kedewasaan mereka dan membantutkan (stunting) perkembangan fisik dan mental anak-anak mereka. Kebiasaan buruk ini adalah mengisap tembakau. Baru 400 tahun lalu, ketika Columbus mendarat di Kuba, dia mendapati pribumi di sana mengisap daun-daun tembakau, “yang digulung dalam gulungan silindris, dan ditutupi dengan daun jagung”. Ini adalah pertama kali peradaban tahu tentang tanaman tersebut. Sebagian mengklaim bangsa China memakainya sebelum memakai opium, tapi tak ada pengetahuan pasti tentang hal ini. Dalam 100 tahun dari tahun tersebut, itu dipakai secara luas di Spanyol, Inggris, dan Italia, dan pemakaiannya terus meningkat sampai sekarang, ketika kebiasaan ini diikuti oleh semua bangsa, barbar dan juga beradab. Seperempat populasi dunia menggemarinya. Bangsa Turki dan bangsa Persia adalah perokok terbesar; kemudian menyusul pribumi India dan China. Bangsa Turki telah menjadi malas dan remeh karena kegemaran mereka dan, diklaim, kehilangan kekuatan mereka sebagai sebuah bangsa gara-gara ini. Bagi Indian Amerika, mengisap tembakau memiliki arti keagamaan yang dalam; Calumet, atau pipa perdamaian, wajib ada dalam ratifikasi traktat apapun. Keburukan-keburukan yang diakibatkan oleh kebiasaan merokok terlihat jelas sejak pertama. Paus Urban VIII dan Inosensius IV berkhotbah menentangnya; Sultan Turki mendeklarasikan mengisap tembakau sebagai kejahatan, dapat dihukum dengan kematian paling kejam; James I dari Inggris menerbitkan “Counterblast to Tobacco”, di mana dia mendeskripsikannya sebagai “sebuah kebiasaan yang menjijikkan bagi usia, membencikan bagi hidung, merusak bagi otak, dan berbahaya bagi paru-paru”. Untuk menghasilkan akibat-akibat ini harus ada suatu agen yang kuat. Nikotin, sebuah cairan tak berwarna dan sangat beracun, dengan rasa yang tajam membakar, adalah prinsip aktif tembakau. Satu elemen penting lain adalah nikotianine, sebuah zat berminyak, juga amat beracun. Kuantitas nikotin bervariasi mulai dari 2 sampai 8 persen pada berbagai varietas tembakau; jenis yang lebih kasar mengandung paling banyak. Ketika tembakau dibakar, sekumpulan zat baru terbentuk. Dalam asap itu terdapat karbon, yang mengendap di bagian belakang tenggorokan dan pada lapisan pipa-pipa bronkus, menciptakan sebuah sekresi yang harus dibatukkan; amonium, yang memberi rasa pahit pada lidah, dan rasa kering pada tenggorokan, mendorong perokok untuk minum; karbon dioksida, menyebabkan sakit kepala, kantuk, dan kelesuan; dan terakhir, nikotin, yang menyebabkan gemetar dan paralisis. Perokok menghirup campuran ini, dan nikotin beralih langsung dari paru-paru ke dalam darah, dan meracuninya. Tembakau ada di setiap serat orang yang mengkonsumsinya. Konon, jika setetes keringat jatuh dari kening perokok ke kompor panas, bau tembakau tercium dengan jelas. Satu cara lain dengan mana nikotin masuk langsung ke dalam darah adalah dengan mengunyah tembakau. Liur melarutkan nikotin; sebagian darinya dikeluarkan; selebihnya, yang sudah beracun, harus menyiapkan makanan untuk masuk ke dalam perut. Dr. Steele, dalam berbicara tentang efek-efek fisiologis merokok, mengatakan, “Racun tembakau, yang dilepaskan oleh proses pengunyahan atau pengisapan, ketika pertama kali menyapu ke seluruh sistem melalui darah, merusak tubuh secara ampuh. Mual dirasakan, dan perut berusaha membuang zat mengganggu itu. Otak meradang, dan sakit kepala mengikuti; syaraf motorik jadi terganggu, pusing menyusul. Demikianlah Alam dengan sungguh-sungguh memprotes pembentukan kebiasaan ini. Tapi setelah percobaan berulang, sistem rupanya menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru.” Kenyataannya, syaraf jadi terlumpuhkan oleh penganiayaan berulang, dan kejahatan terus berjalan tanpa diketahui si pemakai. “Zat-zat kuat seperti itu tidak bisa terus dihirup tanpa menghasilkan perubahan mencolok. Tiga organ pembersih, paru-paru, kulit, dan ginjal, mengeluarkan sebagian besar produk-produk itu, tapi banyak yang tersisa di dalam sistem. Ketika kehadiran tembakau berlangsung terus-menerus, dan khususnya ketika pengisapan dan pengunyahan berlebihan, gangguan temporer mengakibatkan penyakit gila kronis. “Orang kuat dan sehat tampaknya lolos sepenuhnya dari ini, sementara orang lemah, dan mereka yang mudah terkena penyakit, menderita sesuai kadar kegemaran [merokok]. Orang-orang yang menempuh hidup aktif di luar ruangan, jarang menunjukkan tanda-tanda keracunan nikotin, sedangkan orang dengan kebiasaan kurang gerak akan cepat atau lambat menjadi korban dispepsia, susah tidur, kegugupan, paralisis, atau suatu kesulitan organik lain. Di sini lagi-lagi hukum hereditas menyatakan diri, dan kendati pemakai tembakau sendiri lolos, keturunannya sangat sering mewarisi susunan [tubuh] yang lemah, dan kecenderungan pada penyakit-penyakit syaraf.” Dr. Richardson memberitahu kita bahwa dengan konsumsi tembakau, aksi jantung melemah dan menjadi tak teratur, dan otot-otot seluruh tubuh lemah dan kendor karenanya kurang darah. Statistik medis menunjukkan bahwa dari setiap empat pemakai tembakau, satu mengidap masalah jantung. Memori melemah, kemauan lumpuh, kepekaan moral melembek. Seorang profesor di sebuah perguruan tinggi wilayah Timur, menulis tentang pengaruh tembakau terhadap karakter, berkata: “Kebiasaan konsumsi tembakau cenderung mematikan rasa kehormatan selain kesusilaan, dan tak ada yang lebih condong mempraktekkan penipuan daripada mereka yang mengkonsumsi tembakau.” Faculty of Dartmouth College, mengakui keburukan-keburukan kebiasaan konsumsi tembakau, menolak menganugerahkan beasiswa kepada orang yang merokok. Sebuah undang-undang yang dibuat pada 1880, yang melarang kaum pendeta di Gereja Metodis untuk merokok, ditegakkan dengan keras. Dalam berbicara tentang pengaruh tembakau terhadap generasi muda, Dr. Steele berkata, “Hukum Alam adalah hukum pertumbuhan stabil. Ia tidak bisa memperkenankan gangguan harian yang melemahkan pencernaan, menyebabkan jantung bekerja berlebihan, dan mengacaukan sistem syaraf.” Bangsa Jerman, yang juga perokok berat, menyadari efek tembakau terhadap generasi muda, dan siapapun berusia di bawah 16 yang kedapatan merokok di Jerman ditangkap dan didenda. Merokok dilarang ketat di sekolah-sekolah militer Prancis, karena didapati bahwa mereka yang merokok bertubuh lebih lemah dan berintelek lebih tumpul daripada mereka yang tidak. Di West Point dan Annapolis, mengisap dan juga mengunyah [tembakau] dilarang. Satu bentuk tembakau yang paling merugikan generasi muda kita adalah rokok, dibuat dari tembakau busuk, opium, dan citarasa beracun. 195 kasus kusta di San Fransisco ditelusuri oleh seorang dokter dari mengisap rokok yang dibuat oleh orang-orang China penderita kusta. “Tidak banyak hal,” kata seorang penulis, “yang lebih merusak anak-anak, pemuda-pemuda yang sedang tumbuh, dan orang-orang dengan keadaan jasmani belum terbentuk, dibanding konsumsi tembakau dalam bentuk apapun.” Pada 10 Maret 1891, Badan Legislatif Negara Bagian California mengesahkan sebuah undang-undang yang menetapkan sebagai pidana ringan bagi siapapun yang menjual kepada orang lain berusia di bawah 16 tembakau dalam bentuk apapun, kecuali dengan resep seorang dokter, atau izin tertulis wali si pembeli. Ini undang-undang yang bagus, tapi sangat sedikit yang mematuhinya. Pada 23 Maret 1892, San Fransisco Morning Call memulai sebuah perang salib terhadap penjualan tembakau kepada anak di bawah umur. Seorang wartawan koran tersebut, ditemani seorang bocah pesuruh kecil, mendatangi toko-toko ritel utama di pusat keramaian kota, dengan harapan mencaritahu penjual mana saja yang mematuhi dan tidak mematuhi undang-undang. Dari 63 toko yang didatangi, hanya di tiga tempat pesuruh kecil itu tidak diberikan rokok. Keesokan pagi koran ini mempublikasikan cerita perjalanan itu dan nama ketiga toko yang menolak menjual tembakau. Nama toko-toko yang menjualnya tidak dipublikasikan, dan mereka diberi kesempatan untuk menandatangani perjanjian yang dibuat oleh para penjual cerutu utama, berjanji akan menaati undang-undang sesudah ini dan akan menempatkan sebuah plakat di toko mereka yang menyatakan fakta tersebut. Perjanjian ini akan berlaku ketika 50 penjual cerutu ritel di San Fransisco menandatanganinya. Dalam tiga hari hampir 300 menandatanganinya. Diharapkan polisi akan memastikan tidak ada pengelakan lagi dari undang-undang ini. Aku telah memberitahukan beberapa saja dari banyak bahaya yang diakibatkan oleh kebiasaan memakai tembakau dengan nikotin mautnya, “yang memerosotkan manusia, mendemoralisasi masyarakat, dan menurunkan bangsa-bangsa”. Tapi tentu ini fakta-fakta yang cukup untuk meyakinkan kita bahwa sebagai guru tugas kitalah untuk memperingatkan anak-anak di bawah asuhan kita akan bahaya-bahaya di sekitar mereka; untuk mengedukasi pertimbangan mereka terkait efek merugikan dari tembakau dalam bentuk apapun terhadap pertumbuhan tubuh dan pikiran; dan untuk menanamkan cinta kepada kebebasan kehendak sehingga itu akan menolak dengan hina semua godaan untuk menjadi budak bagi hal apapun yang begitu tak bermanfaat dan merendahkan seperti konsumsi tembakau.diterjemahkan dari: The Deadly Cigarette: Ch. 1, 2, 10,
The Rights of Those Who Dislike Tobacco,
Medical Aspects of Tobacco,
dll.
| Judul asli | : | |
| Tahun | : | 1887, 1907, 1926 , dll. |
| Pengarang | : | Anna Garlin Spencer, Humphry Rolleston, John Quincy Adams Henry, dll. |
| Penerbit | : | Relift Media, Mei 2026 |
| Genre | : | Ekonomi, Medis, Sosial |
| Kategori | : | Nonfiksi, Esai, Lektur |
Unduh
Koleksi Sastra Klasik (2026)