Orang Yahudi Tidak Kecanduan dan Tidak Melarang Alkohol
Oleh: Moritz Ellinger [Dibacakan di hadapan Medico-Legal Society di New York.] Konsumsi minuman beralkohol dan wine secara berlebihan telah menjadi salah satu kebiasaan buruk yang diakui di zaman modern. Para negarawan dan ekonom publik menyibukkan diri dengan soal bagaimana menghentikan pertumbuhan sebuah kebiasaan buruk yang telah mencapai dimensi yang mempratandakan ancaman epidemi. Namun, di negara lain manapun, agitasi untuk memperbaiki keburukan tersebut tidak dijalankan dengan energi dan kegigihan sekuat di negara kita. Perhimpunan-perhimpunan pemantangan bermunculan di seluruh pelosok negeri, dan sebuah partai yang menghadirkan peperangan tanpa kompromi terhadap pembuatan, penjualan, dan penggunaan minuman memabukkan sebagai isu tunggalnya sedang bertambah kuat dan berpengaruh setiap hari. Aku harus mengakui bahwa menurut pendapatku pembentukan partai semacam itu adalah sebuah kemalangan, karena itu pasti akan menghasilkan efek yang berlawanan dengan apa yang dimaksudkan para pemimpin dan pengusungnya. Lektur pemantangan, khotbah pemantangan, perhimpunan pemantangan adalah tepat. Mereka menyeru rasa moral, kedewasaan bawaan, dan akan bertindak sebagai regulator untuk memerintah selera-selera tak alami. Tapi pelarangan total terhadap karunia-karunia yang bunda alam berikan kepada kita justru akan menaikkan keinginan terhadap mereka ketimbang sebaliknya, dan fakta bahwa mereka adalah manisan yang harus dicicipi sembunyi-sembunyi akan menambah hasrat tersebut. Apel surgawi, setelah dicap sebagai buah terlarang, mendatangkan ular-iblis penggoda, yang terbukti lebih kuat daripada perintah Ilahi. Kaum Yahudi, yang memiliki sejarah tak terputus selama hampir 4.000 tahun, yang ziarah tiada hentinya dari negeri ke negeri dan benua ke benua menjadikan mereka penghuni setiap iklim dan membuat mereka berkontak erat dan intim dengan hampir setiap bangsa di muka bumi, berada di luar gerakan perbaikan kebiasaan buruk ini, yang eksistensinya sangat disesalkan, dan yang di dalamnya kefasihan, kesungguhan, dan kekuatan beberapa pemimpin masyarakat terbaik kita dilibatkan. Adalah fakta yang diakui bahwa mereka luar biasa bebas dari kebiasaan buruk ini, tapi bukan pemantang total. Umumnya, mereka menjalani hidup yang baik. Mereka menikmati karunia Tuhan, tapi telah dididik untuk tetap berada dalam batas-batas semestinya. Aku akan berusaha menyebutkan beberapa penyebab yang, menurut pendapatku, telah menjadikan mereka ras dengan kebiasaan berpantang dan telah melindungi mereka dari jerat dan muslihat si penggoda yang menimbulkan kerusakan begitu dahsyat di antara semua golongan masyarakat dan mencerai-beraikan keluarga, entah mereka tinggal di istana ataupun gubuk. Salah satu penyebab pertama adalah murni etnologis. Kalian akan menemukan, saat memeriksa ras-ras yang tinggal di iklim dingin, sedang, dan panas, bahwa ras pertama [iklim dingin] lebih rentan menenggak minuman beralkohol yang kuat daripada ras terakhir [iklim panas]. Aku sebut minuman beralkohol, seperti alkohol murni yang disuling dari biji-bijian dan anggur. Bangsa Skandinavia menggunakan jenis paling kuat dari minuman ini, dan selanjutnya adalah bangsa Celtic. Inggris di masa lalu juga merupakan negeri di mana cangkir minum mendominasi meja makan hingga taraf yang tidak dikenal di garis lintang yang lebih selatan. Barangkali salah satu ciri utama Inggris kuno yang riang adalah fakta bahwa mayoritas Squire tidak bangkit dari kursi di mana mereka duduk menyantap makanan, melainkan dari lantai ke mana mereka jatuh dalam pesta-pora mabuk. Ksatria Jerman membuktikan kegagahan dan kekuatan fisiknya dengan menghabiskan sewadah penuh ukuran paling besar dalam sekali teguk, dan sebuah rumah di Irlandia tanpa poteen akan menjadi tempat menyedihkan bagi para penghuni untuk ditinggali. Minuman keras, meski memabukkan, tetap menceriakan. Prancis, negeri wine ringan, mengenal sedikit sekali kemabukan sebelum konsumsi absinth menambahkan stimulan yang menghasilkan efek-efek petaka yang menuntut solusi perbaikan. Jerman, negeri bir dan pemasak bir, mengkonsumsi “air bakaran” dalam jumlah relatif sedikit, dan kemabukan kurang umum dibandingkan di Inggris, Irlandia, dan negara-negara utara. Di sisi lain, Rusia dan Polandia dipenuhi kedai minuman yang menyediakan minuman beralkohol kuat, dan “Paus” dibrutalisasi olehnya sama banyaknya seperti “Muschik”. Semakin jauh ke selatan, semakin tinggi kepantangan masyarakat. Orang Italia meminum wine ringannya, tapi dia tidak memabukkan diri, dan rombongan Italia di benua [Amerika] ini dicirikan oleh kepantangan yang tinggi. Muhammad melarang penggunaan wine dan alkohol, dan kemabukan sangat kurang dikenal di negara-negara Muslim. Bagi kaum Yahudi, anggur dipandang sebagai salah satu karunia Tuhan paling berharga dan penikmatannya sebagai salah satu kesenangan hidup yang sah. “Wine menggembirakan hati manusia,” kata Mazmur. “Dan Melkisedek, imam Tuhan Yang Mahatinggi, menghasilkan roti dan wine,” kita baca dalam Kitab Kejadian. Ada banyak ayat tersebar dalam Talmud yang menunjukkan efek bermanfaat dari penggunaan wine secara moderat dan bahaya yang ditimbulkan oleh penggunaan berlebihan. Dalam Talmud Bavli (Berachoth 59) kita membaca: “Orang-orang bijak minum wine dan itu bermanfaat untuk mereka, tetapi massa jahil dirugikan olehnya.” Dalam Yoma kita membaca: “Jika seseorang berbudi luhur, wine akan berguna untuknya; jika tidak, itu akan menghancurkannya.” Wine dulu digunakan di persembahan kurban Bait Suci, dan dari sana beralih ke upacara keagamaan di Sinagoge dan Bait Suci. Malam Sabat, doa berkat diucapkan di atas secangkir wine setelah kebaktian malam, dan perjamuan Jumat malam, sebagaimana setiap perjamuan pada hari Sabat dan hari-hari raya, dimulai dengan doa berkat tersebut. Sang ayah kemudian mencicipi wine dan menyerahkan cangkir kepada isterinya, kemudian itu diserahkan kepada setiap anggota keluarga yang duduk di meja, juga kepada para tamu yang kebetulan hadir, serta kepada para pembantu rumahtangga. Dalam seremoni kebaktian pada malam Paskah, adalah perintah agama untuk meminum habis empat cangkir wine, dan jemaat diperintahkan untuk memastikan orang miskin disediakan itu (wine). Praktik mengucapkan doa berkat di atas cangkir wine sebagai salah satu karunia berharga Tuhan merupakan koreksi terhadap penyalahgunaannya. Hal ini, sehubungan dengan fakta bahwa minum wine secara moderat dipandang sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari perjamuan hari raya pada hari-hari rehat, rekreasi, dan peringatan keagamaan, berkontribusi besar dalam menanamkan pelajaran bahwa Tuhan telah menganugerahkan karunia alam untuk digunakan dan dinikmati. Semua kenikmatan sosial berpusat pada rumah. Ayah adalah imam besarnya dan ibu adalah divinitas. Penutup perjamuan pesta selalu diikuti dengan penyanyian kidung-kidung, dan sebuah doa membuka dan menutup perjamuan. Dengan demikian, setiap Sabat merupakan reuni keluarga, dan perjamuan tersebut berkarakter keagamaan. Pesta-pora, kebirahian, pergaulan bebas antar jenis kelamin menjadi mustahil, dan nafsu makan tak alami dikekang oleh kekangan praktik keagamaan. Minum, demi memuaskan nafsu, menjadi tidak dikenal, dan pendidikan yang dijalankan selama berabad-abad ini telah menjadikan bani Israel sebagai ras tak suka mabuk dan mempraktekkan pemantangan. Tentu saja, praktek-praktek ini telah ketinggalan zaman bagi orang-orang Yahudi modern, tapi kaum Yahudi mempertahankan watak yang dihasilkan dari pelatihan berabad-abad. Meskipun demikian, masyarakat dapat belajar dari itu, dan yaitu sederhananya adalah menyerahkan kendali nafsu makan tak alami kepada pengaruh dan pelatihan di rumah, dan menanamkan fakta kepada orangtua bahwa merekalah yang bertanggungjawab atas pembentukan karakter putera dan puteri mereka. Undang-undang legislatif hanya bisa mencapai sedikit sekali, teladan ayah dan ibu, pendidikan oleh guru dan pengkhotbah, pasti berbuat banyak hal, dan khususnya perempuan bisa menjalankan pengaruh kuat ke arah ini, bukan dengan agitasi publik, bukan dengan pembentukan kelompok-kelompok doa, melainkan dengan pengaruh tenang dan tekun yang dia gunakan di rumah dan di masyarakat luas. Hendaknya pemabuk disingkirkan dari rumahtangga dan masyarakat berbudi; hendaknya gadis muda menolak mengakui pemuda yang bersalah melakukan perbuatan mabuk-mabukan; hendaknya dia menghiasi jamuan makan umum dan pribadi dengan kehadirannya, dan hendaknya para perempuan negeri ini tak henti-hentinya berkhotbah menentang praktik traktir yang merupakan penyebab besar maraknya hasrat minum. Tentu saja, kedai minuman harus berada di bawah pembatasan hukum, dan setiap pemilik harus dituntut bertanggungjawab atas pemabuk yang disediakan miras di tempatnya. Hilangkan daya tarik kedai minuman dengan membuat rumah lebih menarik dengan lebih banyak ketoleranan. Jangan mengkhotbahkan perang salib terhadap pemuasan diri secara moderat, jangan mengkhotbahkan pelarangan, melainkan pemantangan. Tetaplah berada dalam batasan reformasi yang sah dan alami, maka masyarakat bisa mencapai banyak hal. Tapi berhati-hatilah jangan sampai menyerahkan persoalan pemantangan kepada belas kasih politisi. Dengan begitu kalian menggabungkan kepentingan-kepentingan materil ke dalam sebuah badan yang padat dan teguh, dan melalui fanatisme yang timbul menghasilkan pemabuk dari orang-orang yang seharusnya tetap berada dalam batas-batas sah. Rumah, sekolah, dan gereja adalah tempat untuk menyebarluaskan pemantangan; di tempat-tempat inilah semua upaya harus dipusatkan. Jika kalian gagal di sana, kalian akan sia-sia mencari solusi di dalam ruang-ruang para legislator politik. Kalian bisa mendidik warga untuk menjadi orang berkebiasaan berpantang, tapi kalian tidak bisa melegislasi dia ke dalam kebiasaan itu.diterjemahkan dari: Heavenly Discourse: Prohibition,
The Westward March of Alcohol, Tobacco, and Opium,
Religion and Rum,
dll.
| Judul asli | : | |
| Tahun | : | 1884, 1904, 1927 , dll. |
| Pengarang | : | Charles Erskine Scott Wood, Eady Stevenson, Mary Foote Henderson, dll. |
| Penerbit | : | Relift Media, Mei 2026 |
| Genre | : | Kriminal, Satir, Sosial |
| Kategori | : | Fiksi, Nonfiksi, Drama, Esai, Khotbah |
Unduh
Koleksi Sastra Klasik (2026)