author _Anna Adams Gordon_, author _Charles Bailey_, author _Lucy Mabel Hall_, author _dll_; date _1920_, date _1912_ date _1887_, date _dll_; genre _Edukasi_, genre _Sosial_, genre _Medis_; category _Esai_ type _Nonfiksi_ Kebiasaan tersebar luas yang harus diberantas berakar dari kegemaran nasional selama berabad-abad. Bahkan kelas-kelas terpelajar, dalam banyak kasus, hingga tahun-tahun belakangan, memiliki pandangan sangat absurd bahwa minuman keras diperlukan.

Bahaya Ketidakpantangan

Oleh: Josiah Strong Menyinggung sebuah subjek yang begitu luas, dan hanya menyinggungnya, tidaklah mudah. Mari pertimbangkan dengan ringkas dua poin saja—bahaya ketidakpantangan miras (intemperance) yang diperkuat oleh kemajuan per­adaban, dan Kekuatan Miras.

I. Kemajuan Peradaban

Kemajuan peradaban saling mendekatkan orang-orang. Tiga alat bantu pemberadab besar zaman ini, secara moral, mental, dan materil, adalah Kristen, pers, dan mesin uap, yang masing-masing menyatukan hati, pikiran, dan tubuh orang-orang ke dalam relasi yang lebih intim dan berlipat­banyak. Kristen sedang secara pelan-pelan mengikat ras [manusia] ke dalam persaudaraan. Pers mentransformasi bumi menjadi sebuah ruang audiensi; sementara mesin uap, menyangkut perdagangan, telah menghapus katakan­lah sembilan per sepuluh ruang. Amati bagaimana perdekatan orang-orang dan perlipat­banyakan relasi ini turut meningkatkan rangsangan hidup, mempercepat laju hidup kita. Agama Kristen adalah sebuah perangsang. Sepanjang ia menuntun orang-orang untuk mengenali dan menerima tanggungjawab mereka kepada orang lain, itu membangunkan mereka untuk bertindak atas nama mereka, di bawah tekanan motif-motif paling urgen. Pers dan telegraf, dengan memperhubungkan ba­nyak pikiran, telah secara ajaib melayani aktivitas intelek khalayak. Isolasi cenderung pada stagnasi. Interaksi mem­percepat pemikiran, perasaan, tindakan. Mesin uap men­stimulasi aktivitas manusia hampir kepada kegila-gilaan. Dengan besar-besaran memperpanjang tuas kekuatan ma­nusia, dengan membawa pedesaan ke kota, kota-kota peda­laman ke daerah pesisir, kota-kota pelabuhan ke satu sama lain, ia telah melipatbanyakkan berkali-kali lipat setiap bentuk interaksi. Dengan mendirikan industri-industri pada skala besar, ia telah sangat merumitkan urusan; se­mentara kompetisi keras dan bertambah menuntut studi lebih cermat, penerapan energi lebih besar, pengeluaran kekuatan mental lebih banyak. Maka, akan tampak bahwa ketiga kekuatan besar per­adaban bergerak sepanjang garis-garis paralel, dan bekerja­sama dalam menstimulasi bangsa-bangsa kepada sebuah aktivitas yang semakin intens dan menggairahkan; se­hingga kemajuan peradaban tampak melibatkan peningka­tan ketegangan pada sistem syaraf. Pengaruh-pengaruh ini akan lebih dipahami jika kita membandingkan, untuk se­mentara, peradaban kuno dan modern. Tengoklah kehidu­pan di Athena, Yerusalem, atau Babilonia, ketika mereka menjadi pusat-pusat peradaban, dibandingkan dengan Paris, London, atau New York. Tokoh-tokoh sebuah kota Timur mungkin sedang duduk bergosip di gerbang, atau mungkin berfilosofi. Tokoh-tokoh sebuah metropolis Barat sibuk dalam skema-skema perdagangan, manufaktur, politik, atau filantropi, menenun rencana-rencana yang benang-benangnya menjangkau semua tanah, dan bahkan sampai ke ujung-ujung bumi. Pedagang Timur duduk di bazarnya, sebagaimana leluhurnya dua ribu atau tiga ribu tahun lampau, dan tawar-menawar dengan para pelanggar­nya setiap jam untuk sebuah barang sepele. Pebisnis Barat dan modern berdiri. Kedua sikap ini representatif. Per­adaban kuno bersifat kurang gerak dan kontemplatif; peradaban kita aktif dan praktis. “Multum in parvo” adalah peribahasanya. Hasil-hasil besar yang dilahirkan dalam beberapa hari, atau bahkan menit, menggesa-gesa pikiran melewati berbagai macam pengalaman, dan mungkin me­madatkan tahun-tahun ke dalam jam-jam. Aku sama sekali tidak yakin bahwa Abraham Lincoln tidak hidup lebih lama daripada Methuselah. Dalam hal pengalaman, hasil, per­olehan, kesenangan dan dukacita—dalam semua hal yang menyusun kehidupan, kecuali faktor waktu saja—aku sama sekali tidak yakin bahwa manusia-manusia pra-banjir besar bukanlah anak-anak kecil, dan manusia-manusia generasi ini bukanlah patriarkh lansia. Dan hidup lebih penuh dan lebih intens, aktivitas lebih berhasrat dan resah di AS sini daripada di tempat lain manapun di dunia. Kita bekerja lebih banyak hari dalam setahun, lebih banyak jam dalam sehari, dan melakukan lebih banyak kerja dalam sejam daripada bangsa Eropa paling aktif. Andai kita tidak tahu hasil-hasil dari demam aktivitas peradaban modern ini, dan khususnya peradaban Amerika, nalar akan memungkinkan kita untuk memperkirakan hasil-hasil tersebut. Kegairahan semacam itu, energi resah semacam itu, ketegangan syaraf berketerusan semacam itu, pasti, dalam perjalanan beberapa generasi, mengubah susu­nan syaraf orang-orang. Kita tahu bahwa kemajuan per­adaban telah menghaluskan watak-watak, telah menjadi­kan orang-orang lebih rentan dan sensitif. Sebuah tragedi yang membuat kita ngeri selama sembilan hari bakal ham­pir tidak menarik lebih dari lirikan sepintas di Roma kuno, yang ibu-ibu muda gentelnya berlibur dengan menghadiri pertunjukan gladiator, dan menonton pria-pria saling membunuh sebagai olahraga Romawi dengan angka 10.000 orang dalam satu masa pemerintahan. Dan ketika kakak-beradik bertemu di arena, dan tak punya nyali untuk saling merobohkan, besi-besi panas membara dipres pada daging mereka yang tanpa busana dan gemetar untuk mendorong mereka, sementara para ibu ini berteriak: “Bunuh!” Kita kadang mengeluh bahwa kehidupan modern sudah menjadi terlalu berperasaan. Benar banyak orang hidup dengan impuls, ketimbang prinsip; tapi benar pula bahwa sumber-sumber simpati manusia tak pernah tersentuh semudah se­karang. Perbedaan demikian lebar pada kepekaan orang-orang memperlihatkan bukan cuma perbedaan pendidi­kan, tapi juga perubahan syaraf dunia. Para dokter mengatakan bahwa mulai dari utara kha­tulistiwa, dan dari wilayah-wilayah arktik, ke selatan, pe­nyakit-penyakit syaraf meningkat sampai sebuah klimaks tercapai di zona beriklim sedang. Seorang dokter ternama dari New York, mendiang Dr. George M. Beard, yang men­jadikan penyakit-penyakit syaraf sebagai spesialisasi, ber­kata bahwa mereka terbilang langka di Spanyol, Italia, dan bagian-bagian utara Eropa, juga di Kanada dan Negara-negara Bagian Teluk Meksiko, tapi sangat lumrah di Negara-negara Bagian Utara dan di Eropa Tengah. Dan sabuk ini, akan terlihat, bertepatan persis dengan zona aktivitas terbesar dunia; dan lebih lanjut, di mana aktivitas ini sebesar-besarnya, yakni di AS, kelainan-kelainan syaraf ini paling sering. Dr. Beard membuka sebuah karya sangat menarik tentang kelelahan syaraf dengan kalimat-kalimat ini: “Terdapat serumpun besar kelainan-kelainan syaraf fungsional yang semakin sering di kalangan kelas-kelas indoor negara-negara beradab, dan yang terutama sering di wilayah-wilayah utara dan timur AS. Para penderita penya­kit-penyakit ini terhitung ribuan dan ratusan ribu di negara ini; di semua Negara Bagian Utara dan Timur mereka di­temukan di hampir setiap rumahtangga pekerja otak.” Setelah berbicara tentang penyakit-penyakit syaraf tertentu yang banyak dan tersebar luas di antara kita, dia menam­bahkan: “Di Eropa, penyakit-penyakit ini diketahui sedikit saja.” Mereka semua adalah penyakit peradaban, dan per­adaban modern, dan utamanya abad 19, dan AS. “Neura­sthenia,” yakni nama yang dia berikan pada kelelahan sya­raf, “adalah,” katanya, “penyakit terbilang modern; gejala-gejalanya, anehnya, lebih sering saat ini daripada di abad lalu; dan merupakan sebuah penyakit Amerika, lantaran itu jauh lebih umum di sini daripada di wilayah lain manapun di dunia beradab.” Ketika kita pertimbangkan bahwa peningkatan aktivitas peradaban modern disertai dengan kelainan-kelainan sya­raf yang baru dan meningkat, bahwa sabuk penyakit-penya­kit syaraf merata bertepatan persis dengan sabuk aktivitas terhebat dunia, dan, selanjutnya, bahwa di sabuk ini, di mana aktivitas adalah yang paling intens, penyakit-penya­kit syaraf adalah yang paling umum, jelas bahwa intensitas kehidupan modern telah menghasilkan, dan terus meng­hasilkan, perubahan-perubahan penting dalam susunan syaraf manusia. Rakyat Amerika sedang dengan pesat men­jadi yang paling gelisah, yang paling terorganisir, di dunia, jika memang belum. Dan sebab-sebab iklim dan lainnya, yang menghasilkan akibat ini, terus beroperasi. Kini teramati bahwa orang-orang gelisah terpapar baha­ya ganda dari miras memabukkan. Pertama-tama, mereka lebih mungkin dibanding orang lain untuk menginginkan stimulan. Berkata Dr. Beard: “Ketika sistem syaraf kehila­ngan banyak kekuatan syarafnya karena sebab apapun, sehingga itu tidak bisa berdiri tegak dengan enteng dan nyaman, itu bersandar pada tumpuan artifisial paling dekat dan paling mudah yang mampu menopang sementara bing­kai yang terlemahkan. Apapun yang memberikan keente­ngan, sedasi/penenangan, pelupaan, semisal kloral, kloro­form, opium, atau alkohol, mungkin akan diambil mulanya sebagai kecelakaan, dan akhirnya sebagai kebiasaan. Demi­kianlah filosofi opium dan kemabukan alkohol. Tak hanya untuk meringankan nyeri, tapi juga untuk meringankan kelelahan, yang lebih dalam dan lebih menyusahkan di­banding nyeri, kaum pria maupun wanita sering datang ke toko obat-obatan. Aku menganggap ini sebagai salah satu dari sebab-sebab besar peningkatan opium dan kemabuk­an alkohol di kalangan wanita.” Seiring sebuah bangsa semakin gelisah, konsumsi miras memabukannya meningkat. Di Britania Raya, Belgia, Belanda, dan Jerman, yakni negara-negara Eropa yang ter­letak di sabuk gelisah, terdapat peningkatan kentara kon­sumsi alkohol selama tahun-tahun belakangan. Sejak 1840, konsumsinya di Belgia meningkat 238 persen. Pada 1869, terdapat 120.000 warung miras di Prusia; pada 1880 ter­dapat 165.000. Dari 1831 sampai 1872, sementara populasi (tidak termasuk aneksasi-aneksasi baru-baru ini) mening­kat 53 persen, warung-warung wiski meningkat 91 persen. Untuk seluruh Jerman, peningkatan konsumsi miras spiri­tus per kepala, dari 1872 sampai 1875, adalah 23,5 persen. Koresponden New York Nation di Jerman menulis: “Dalam beberapa tahun terakhir minum dram dan wiski semakin menyebar dengan kecepatan menakutkan di kalangan kelas-kelas pekerja. Bahkan di negara-negara penanam ang­gur [wine] dan penghasil bir, alkohol sedang menggantikan minuman-minuman lebih ringan.” Di Britania Raya, pada tahun 1800, populasi 15.000.000 mengkonsumsi sedikit kurang dari 12.000.000 galon spiritus. 50 tahun kemudian, populasi 27.000.000 mengkonsumsi 28.000.000 galon. Pada 1874, populasi 32.000.000 mengkonsumsi 41.000.000 galon. Artinya, selagi populasi meningkat 113 persen, konsumsi miras spiritus meningkat 241 persen. Dari 1868 sampai 1877 (statistik terakhir yang dapat kuakses), selagi populasi me­ningkat kurang dari 10 persen, jumlah miras spiritus yang dikonsumsi meningkat 37 persen. “Di AS,” kata The Voice, sebuah narasumber yang teliti dan akurat, “konsumsi bir meningkat 1.675 persen sejak 1840, wine 400 persen, dan spiritus keras di atas 200 persen (semua ini bukan estimasi kami, tapi angka-angka yang diambil dari laporan resmi pemerintah).” Menurut laporan-laporan resmi ini, masya­rakat AS mengkonsumsi 4 galon minuman memabukkan per kepala pada 1840, dan 12 galon per kepala pada 1883. Selama 5 tahun sebelum 1884, selagi populasi meningkat sekitar 15 persen, konsumsi spiritus sulingan meningkat 44,5 persen, dan konsumsi miras malt meningkat 60,2 persen. Produksi miras malt naik dari 1.628.934 barel pada 1863 ke 18.998.619 barel pada 1884. Mesti diingat bahwa di awal abad ini miras ada di setiap bupet, dan keberatan hati nurani terhadap konsumsi moderatnya hampir tak terdengar. Hari ini terdapat jutaan teetotaler (pemantang miras) di negeri ini maupun di Brita­nia Raya. Khusus selama 20 tahun terakhir, selagi produksi miras di AS meningkat begitu pesat, reformasi pemanta­ngan mengalami kemajuan luar biasa, dan proporsi para pemantang miras jauh lebih besar hari ini daripada sebe­lum-sebelumnya. Tapi tetap ada jauh lebih banyak miras yang dikonsumsi per kepala saat ini daripada sebelumnya, menunjukkan secara meyakinkan bahwa ada jauh lebih banyak perbuatan minum-minum berlebihan saat ini dari­pada waktu itu, dan menerangkan bahwa, seiring sebuah bangsa bertambah gelisah, orang-orang yang minum sema­kin condong untuk minum secara tak moderat. Lain lagi, di tempat kedua, orang-orang gelisah tidak hanya lebih mungkin daripada yang lain untuk mengkon­sumsi alkohol, dan mengkonsumsinya sampai berlebihan, tapi juga efeknya dalam kasus mereka lebih buruk dan lebih pesat. Perbedaan lebar antara watak gelisah dan flegmatik/dingin menerangkan fakta bahwa satu orang akan mem­bunuh dirinya dengan minum dalam 4 atau 5 tahun, dan satu orang lagi dalam 40 atau 50 tahun. Orang flegmatik hampir tidak sensitif terhadap stimulus; karenanya, ketika pengaruh stimulus itu luntur, tak ada banyak reaksi. Maka, dia membentuk selera secara pelan-pelan, dan proses peng­hancurannya lamban. Seorang lain, yang memiliki susunan syaraf bagus, meminum segelas spiritus, dan setiap syaraf di tubuhnya menggelenyar dan berjingkrak. Reaksinya he­bat, dan syaraf-syaraf berteriak meminta lebih. Seleranya, yang terbentuk pesat, segera menjadi tak terkendali, dan ajal sengsara tidak lama tertunda. Perkembangan tinggi sistem syaraf, yang datang bersama kemajuan peradaban, menjadikan orang-orang lebih sensitif terhadap nyeri, lebih rentan terhadap akibat-akibat buruk yang menyertai keber­lebihan macam apapun. Orang-orang barbar mungkin, hampir tanpa impunitas, melanggar hukum kesehatan yang bakal menimpakan hukuman yang hampir atau cukup fatal, atas pelanggaran seperti itu, kepada orang-orang beradab. Seolah-olah Tuhan bermaksud agar, seiring manusia berdosa terhadap cahaya lebih besar yang datang bersama meningkatnya peradaban, mereka harus men­derita hukuman lebih berat.

diterjemahkan dari: Woman’s Relation to the Anti-Alcohol Movement in America,
Eight Decades of Temperance Warfare,
Prison Experiences,
dll.