Skip to content
Reformasi Yudaisme di Tengah Konservatisme Yahudi – Relift Media

Reformasi Yudaisme di Tengah Konservatisme Yahudi Bacaan non-fiksi religi

author _Felix Adler_; date _1877_ genre _Religi_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Fakta bahwa gerakan semacam itu eksis di tengah kaum semacam itu sudah sepantasnya ditafsirkan sebagai tanda zaman yang patut dipertimbangkan seksama dan terus-terang; dan oleh karenanya belakangan ini perhatian besar ditunjukkan pada subjek Reformasi Yahudi. Kaum Yahudi sudah sepantasnya dijuluki kaum isti­mewa. Selama 3.000 tahun terakhir mereka hidup terpisah dari sesama saudara mereka, dalam pengasingan sukarela atau terpaksa. Hukum Pentateukh mengarahkan mereka untuk menghindari kontak dengan orang-orang pagan. Kristen pada gilirannya menjauhi dan membenci mereka. Berfitrah bangga dan peka, tertimpa segala jenis penghinaan dan cibiran, mereka menarik diri, dan terus-menerus menjadi apa yang digambarkan oleh sang peramal dari Aram di masa kuno, “Sebuah bangsa yang tinggal sendirian.” Maka, dalam perjalanan waktu, idiosinkrasi-idiosinkrasi karakter berkembang, dan kebiasaan berpikir dan kebiasaan merasakan tumbuh di tengah-tengah mereka, yang mau tak mau turut mengasingkan mereka lebih jauh lagi dari dunia sekeliling. Mereka merasa tidak dipahami. Mereka terlalu malu untuk membukakan rahasia mereka kepada para penindas mereka. Mereka masih sebuah enigma. Sewaktu-waktu terbit buku-buku yang mengaku menerang­kan kaum Yahudi dan adat-istiadat sakral mereka. Tapi upaya-upaya ini, utamanya, ditentukan oleh motif yang tak adil atau murah hati. Penulis-penulisnya, para bigot picik atau murtadin dari Yudaisme, mengobrak-abrik literatur luas kaum Ibrani tersebut untuk mencari fragmen-fragmen ter­pencar yang dapat dipakai untuk mendiskreditkan mereka dan memamerkan ini sebagai sampel tatakrama dan agama Yahudi. Citra yang ditampilkan demikian, tak perlu dikatakan lagi, sangatlah tak dapat dipercaya. Tapi tulisan-tulisan para hakim berat sebelah ini masih hampir satu-satunya sumber informasi bagi banyak penulis modern sekalipun. Belum ada sejarawan yang menghalau kabut pekat prasangka yang telah mengerubungi sejarah Yahudi, dan menyingkap kehidupan internal bangsa luar biasa ini, yang kesegaran abadinya telah terlestarikan sepanjang berabad-abad cobaan dan persekusi paling berat. Bahkan, dalam satu hal, mari kita tambahkan, pendapat populer perihal kaum Yahudi belum pernah ter­sesatkan. Konservatisme intens dalam agama, yang untuk itu mereka sudah menjadi pepatah, dikonfirmasi penuh oleh fakta-fakta. Tak ada ras manusia lain yang telah membuk­tikan kesetiaannya pada keyakinan agama selama jangka waktu yang sama panjangnya, di bawah kesulitan yang sama beratnya, dan di tengah godaan yang sama kuatnya. Antio­khus, Titus, Firuz, Recaredus, Edward I dari Inggris, Philip Augustus dari Prancis, Ferdinand dari Spanyol, menguras seluruh sumber-daya tirani untuk menggoyahkan keteguhan mereka, tapi sia-sia. Daya perlawanan mereka timbul ber­sama peristiwa yang membangkitkannya; dan loyalitas berapi-api mereka kepada akidah yang diwariskan para leluhur tak pernah muncul secara lebih baik daripada ketika itu menuntut ke-damaian mereka, kebahagiaan mereka, dan nyawa mereka untuk mempertahankannya. Namun, sejak pengujung abad lalu, sebuah perubahan besar rupanya me­landa kaum Yahudi. Bukan saja mereka telah meninggalkan sikap hati-hati terdahulu dan berbaur leluasa dengan sesama warga dari kredo apapun, bukan saja mereka telah meng­ambil peran terdepan dalam revolusi-revolusi politik besar yang menyapu Eropa, tapi juga hasrat akan perubahan, yang begitu khas zaman kita, telah meluas bahkan ke agama mereka yang dihormati sepanjang zaman; dan sebuah gerakan yang bermaksud mereformasi total Yudaisme telah muncul dan dengan pesat membesar sebesar-besarnya. Fakta bahwa gerakan semacam itu eksis di tengah kaum semacam itu sudah sepantasnya ditafsirkan sebagai tanda zaman yang patut dipertimbangkan seksama dan terus-terang; dan oleh karenanya belakangan ini perhatian besar ditunjukkan pada subjek Reformasi Yahudi. Dalam seri artikel, kami akan berusaha memberikan gambaran ringkas asal-muasal dan relevansi gerakan tersebut. Tapi sebelum mengarahkan diri kita pada tugas ini, kita perlu mengulas beberapa sebab utama yang memungkinkan kaum Yahudi bertahan dalam sejarah, dan mempertimbangkan motif-motif yang mendorong mereka untuk menentang perubahan begitu lama, jika kita hendak memahami dengan tepat proses transformasi yang saat ini sedang berlangsung di antara mereka. Di antara tenaga-tenaga efisien yang kondusif untuk pelestarian kaum Yahudi, kita memering-katkan kemurnian hubungan rumahtangga mereka sebagai yang tertinggi.

Kemurnian hubungan rumahtangga

Kesakralan ikatan keluarga adalah syarat kesehatan jasmani maupun kekuatan moral bangsa-bangsa. Keluarga adalah persemakmuran mini, di mana keselamatan persemakmuran lebih besar bergantung pada integritasnya. Itu adalah petak benih seluruh moralitas. Dalam hubungan anak dengan orangtuanya, sentimen takzim ditanamkan—esensi seluruh kesalehan, seluruh idealisme; juga kebiasaan patuh pada oto­ritas sah, yang merupakan ciri sangat berharga dalam karak­ter warga setia. Dalam kebersamaan kakak-beradik, rasa hormat terhadap hak-hak orang setaraf ditanamkan secara praktis, yang tanpanya komunitas tak bisa eksis. Hubungan antara saudara dan saudari melahirkan sentimen keksatriaan—tenggang rasa terhadap hak-hak orang yang lebih lemah, dan ini merupakan dasar keluhuran budi dan setiap kualitas murah hati dan lembut yang memuliakan umat manusia. Takzim terhadap yang lebih tinggi, hormat terhadap yang setaraf, dan tenggang rasa terhadap yang lebih rendah—ketiga ini merupakan tri-tunggal Kebajikan-kebajikan yang tertinggi. Apapun yang agung dan baik dalam institusi-institusi dan kebiasaan-kebiasaan umat manusia merupakan penerapan sentimen-sentimen yang mengambil nutrisinya dari tanah keluarga. Keluarga adalah sekolah tugas-tugas. Tapi ia memiliki ke-unggulan khusus ini: bahwa di kalangan orang-orang yang dipertautkan oleh ikatan kasih-sayang kuat ini, tugas di-dirikan di atas cinta. Atas alasan ini, ia menjadi tipikal moralitas sempurna dalam semua hubungan kehidu­pan, dan kita mengungkapkan kedambaan-kedambaan ter­mulia hati manusia bila kita berbicara tentang masa menda­tang di mana seluruh umat manusia akan dipersatukan “sebagai satu keluarga”. Nah, keunggulan kaum Yahudi da­lam hal kemurnian rumahtangga akan hampir tidak diperde­batkan. “Dalam hal ini mereka menonjol seperti tanjung curam dalam sejarah masa lalu, luar biasa dan tak terham­piri,” kata filsuf Trendelenburg. Menurut ketentuan Kode Musaik, kejahatan perzinaan dihukum dengan hukuman mati. Arahan-arahan paling detil diberikan menyangkut pakaian para imam dan orang awam, dalam rangka mengen­dalikan kebirahian keinginan. Skala pernikahan-pernikahan ter-larang diperlebar secara luas dengan maksud yang sama. Hampir seluruh suku Benjamin dimusnahkan untuk mene­bus perkosaan terhadap kebajikan feminin yang diperbuat di dalam perbatasannya. Putera yang tak patuh dirajam sampai mati di depan seluruh masyarakat. Bahwa suami dan isteri harus menjadi “seperti satu daging”, itu merupakan konsepsi yang kita temukan hanya di kalangan Yahudi. Gambaran ibu rumahtangga sejati yang dibeberkan kepada kita dalam Amsal berasal dari kalangan mereka—gambaran ibu rumah­tangga yang menyatukan semua keanggunan dan kelemah­lembutan wanita, yang di dalam lingkungannya berdiam kenyamanan dan keindahan, “yang suami dan putera-putera­nya bangkit untuk memujinya”. Ikatan pernikahan dianggap begitu sakral sampai-sampai digunakan secara bebas oleh para nabi untuk mendeskripsikan hubungan antara Tuhan dan kaum pilihan tersebut. Jehovah dijuluki suami kaum tersebut. Israel adalah pasangan sejati dan setia-Nya. Anak-anak Israel adalah anak-anak-Nya. Penyembahan dewa-dewa palsu dinamai dengan kata Ibrani yang berarti keserongan suami-isteri. Ciri kehidupan Yahudi ini tetap sama-sama me­nonjol di masa-masa kemudian. Di zaman Talmud, perni­kahan disebut Hillula—lagu pujian! Hari paling kudus, tang­gal 10 bulan ketujuh, hari puasa dan penebusan dosa-dosa, dianggap sebagai kesempatan tepat untuk mengumpulkan kawula muda untuk tujuan memilih suami dan isteri. Pada hari itu gadis-gadis Yerusalem, berdandan dalam pakaian putih murni, pergi ke perkebunan anggur yang meliputi lereng perbukitan sebelah, sambil menari dan menyanyi sementara kumpulan pemuda datang menemui mereka dari lembah-lembah. “Anak muda, angkat matamu sekarang,” nyanyi gadis-gadis cantik di antara mereka, “dan pandang dia yang kau pilih.” “Jangan lihat pada kecantikan,” nyanyi gadis-gadis dari keluarga baik-baik, “tapi pada nasab kuno dan silsilah tinggi.” Terakhir, mereka yang tidak cantik dan tidak dari keluarga baik-baik menaikkan alunan, dan mereka ber­nyanyi begini: “Keanggunan itu khianat, dan kecantikan itu memperdaya; wanita yang bertakwa pada Tuhan saja yang sebaiknya dipuji.” Kepatutan proses tersebut di hari Pene­busan dijustifikasi oleh pernyataan bahwa pernikahan itu sendiri merupakan aksi pemurnian spiritual. Nilai tinggi yang disematkan pada institusi keluarga digambarkan lebih jauh oleh banyak legenda lembut Talmud yang tak bisa kita ceritakan di sini. Sebuah gerbang terpisah, konon, disediakan di Kuil Sulaiman untuk digunakan oleh para pengantin pria; di depan gerbang tersebut mereka menerima ucapan selamat dari orang-orang yang berkumpul. Perayaan pernikahan pada hakikatnya adalah festival agama. Itu berlangsung tujuh hari. Hukum Talmud, yang biasanya begitu keras dalam tun­tutannya, mengendorkan keketatannya demi kesempatan-kesempatan baik ini, dan menganjurkan kepada semua orang untuk bergembira dengan pihak yang bersukacita. Pada Sabbath pekan pernikahan, si suami muda disambut dengan kehormatan istimewa di sinagoge, dan liturgi kaum Yahudi zaman pertengahan dipadati kidung-kidung yang digubah untuk mengormati resepsi khidmat ini. Jika seluruh jemaat bersatu untuk memperbesar dan menyucikan penegakan sebuah rumahtangga baru, penjagaan kesuciannya dapat diserahkan dengan aman kepada kewaspadaan para peng­huninya yang cemburu. Kasus-kasus keberlebihan sensual atau perilaku tak berbakti kepada orangtua sangat jarang di kalangan Yahudi hingga zaman modern. Betapapun buruk penampilan lahiriah rumah-rumah mereka, atmosfer moral yang merembesinya jarang tercemar. Jika ditanyakan, bagai­mana bisa sebuah kaum selemah itu sanggup melawan mak­sud jahat musuh-musuhnya; bagaimana bisa sebuah bangsa, yang kehilangan tempat berkumpul, tanpa pusat politik atau keagamaan untuk mempererat persatuan mereka, dari dulu tidak kunjung terhapus dari muka bumi; kita jawab bahwa tungku adalah tempat berkumpul mereka dan pusat persa­tuan mereka. Di situ, atom-atom yang terpencar mendapat­kan konsistensi yang cukup untuk menahan tekanan dunia. Ke situ mereka bisa datang untuk menciptakan kembali roh mereka yang robek dan koyak. Di situ adalah mata air kekuatan mereka.
Judul asli : Reformed Judaism<i=12vTeLe72OLamaymkm8HjJpzWDlpxtKHh 490KB>Reformed Judaism
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Januari 2024
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Reformasi Yudaisme di Tengah Konservatisme Yahudi

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2024)