Skip to content
Apakah Atom Memiliki Jiwa? – Relift Media

Bacaan non-fiksi sains Apakah Atom Memiliki Jiwa?

Jika kita memahami jiwa sebagai aspek subjektif dari unit objektif realitas, kita akan terpaksa untuk mengakui bahwa seluruh dunia bernyalakan sesuatu yang darinya jiwa manusia berkembang dalam evolusi lebih tinggi.



Pembaca mungkin ingat sebuah artikel editorial yang diterbitkan dalam The Open Court edisi Desember 1907, “Goethe’s Soul-Conception”, yang memuat sejumlah kutipan dari sang pujangga besar Jerman terkait kekekalan.

Dia menyebut jiwa sebagai entelechy atau monad dan dia rupanya mencari misteri persistensi jiwa di alam infinite­simal molekul atau atom. Sejauh yang bisa kita lihat, ide ini tak dapat dipertahankan tapi tampaknya itu membisikkan diri kepada seorang manusia berpikir saat dia samar-samar merasakan kebenaran bahwa kehidupan manusia tetap lestari sesudah kematian, dalam satu atau lain bentuk. Tn. J. Barandun, redaktur majalah Milwaukee Jerman, Freidenker, tanpa tahu sedikitpun petikan-petikan kurang dikenal dari tokoh besar sebangsanya, mengusulkan dalam “Excursion into the Infinitely Small” sebuah teori yang pada dasarnya memiliki kemiripan dengan monadologi jiwa milik Goethe. Tn. Barandun juga percaya persoalan jiwa harus, entah bagaimana, dicari dalam entitas teramat kecil, molekul atau atom, dan dia bersusah-payah merasionalisasi bahwa se­buah molekul bisa memiliki konsep-konsep. Di awal artikel dia berbicara tentang “kedalaman-kedalaman misterius itu, ke mana penyelidikan kimia belum pernah menembus” dan mengakui teori miliknya mungkin mimpi belaka, tentunya mimpi seorang pemikir, mimpi seorang manusia yang me­rangkai sebuah teori definitif, dan kami di sini akan mem­buat beberapa ulasan yang menurut kami akan meng­hancurkan mimpi indah tersebut tapi akan menempatkan harapan dasarnya, yakni kehidupan sesudah kematian, di atas landasan yang lebih logis dan lebih ilmiah.

Para pemikir bebas Jerman sering dianggap materialis murni dan sederhana, tapi di sini kita belajar bahwa mereka tidak cuek terhadap permasalahan hidup yang lebih dalam, dan redaktur Freidenker sendiri mencoba menyelidiki haki­kat jiwa dalam garis yang baru. Meski tidak sependapat dengan Tn. Barandun, tetap harus diakui bahwa kami mem­baca ungkapan-ungkapannya dengan penuh minat, dan di saat yang sama percaya bahwa pada pandangan pertama teori-teorinya terlihat cukup masuk akal untuk diselidiki dan—disangkal.

Pertama-tama kami akan akui bahwa kehidupan molekul dan atom masih merupakan buku dengan tujuh segel bagi kita. Kita tidak punya gambaran sedikitpun tentang interaksi mekanis atom-atom yang berkombinasi menjadi unit-unit sebuah molekul yang lebih tinggi. Kita lebih tidak tahu lagi tentang bentuk atom-atom. Kita dibenarkan dalam ber­anggapan bahwa atom-atom dari beberapa elemen kimia merupakan konfigurasi berlainan yang terbuat dari material seragam yang sama yang fisikawan sebut sebagai eter, dan bukan tanpa alasan diidentikkan dengan eter luminiferous, medium cahaya misterius di ruang hampa. Teori-teori telah dikemukakan perihal bentuk matematis atom-atom yang dibayangkan sebagai ulir-ulir, tapi semua dalil yang dibuat dalam garis ini masih kekurangan bukti penguat melalui eks­perimen dan paling banter cuma hipotesis probabel. Namun, jika mereka benar—dan aku menganggap mereka sebagai langkah menuju arah yang benar—mereka beranjak jauh hingga mengganggu ide atom jiwa milik Tn. Barandun dan Goethe, sebab bagaimana bisa ulir-ulir ini, yang bentuknya ditentukan oleh impuls mekanis, mengandung gambaran benda-benda di luar, sementara belum ada benda yang eksis? Kalau tidak, sudah semestinya bahwa satu atom adalah persis seperti satu atom lain. Untuk detil-detil perihal bentuk-bentuk berbeda dari atom-atom beberapa elemen, pembaca dapat memeriksa artikel Prof. Ferdinand Linde­mann, “On the Form and Spectrum of Atoms” dalam The Monist edisi Januari 1906.

Arus-arus di ulir-ulir kecil infinitesimal ini menghanyut­kan apapun formasi citra-citra dan tidak menyisakan ke­mungkinan untuk konsep-konsep pasti. Ada alasan-alasan lain yang membuat improbabel bahwa atom atau bahkan komponen-komponen atom, elemen eter orisinil, mengan­dung suatu pemikiran atau aktivitas mental, sebab semua yang eksis memanifestasikan eksistensinya sesuai fitrahnya, dan kita melihat bahwa dunia fisik diatur oleh hukum fisika, sementara di dunia jiwa, faktor dominan adalah mentalitas. Jika seorang manusia membulatkan pikirannya untuk mela­kukan hal tertentu, jika petani menyentak kuda-kudanya dan membajak ladangnya, aksinya dijelaskan oleh ide mengurus urusannya, dan ide ini beraksi sebagai stimulan di pusat-pusat syaraf definitif yang direspon oleh gerak-gerak otot definitif. Permainan semua gerak adalah mekanis, termasuk di sini proses-proses kimiawi dan fisikal lain di bawah istilah lebih luas, yaitu mekanika molekular; tapi respon di pusat-pusat syaraf tidak dapat dijelaskan tanpa memberi pertim­bangan pada makna huru-hara psikis tertentu yang terjadi di otak. Ciri ini, ciri khas kehidupan mental, sama sekali absen dalam fenomena fisik dan mekanis, yang diatur semata-mata oleh hukum fisikal dan mekanis. Untuk alasan-alasan tertentu kita harus beranggapan bahwa seluruh kehidupan dikaruniai dengan potensialitas perasaan; atau dengan kata lain, eksistensi objektif yang kita lihat, yaitu materi yang sedang bergerak, mempunyai suatu aspek yang sepadan dengan apa yang kita sebut sentimen, sensasi, perasaan, ke­insyafan, jiwa, atau singkatnya subjektivitas. Tapi jika subjek­tivitas dalam domain fisika ini memiliki suatu perasaan atau sentiensi (keberperasaan), kita bisa yakin itu teramat lebih kecil daripada perasaan apapun yang kita kenal, sebab ke­beradaannya tidak berlaku, dan ketika merumuskan hukum perilaku atom-atom, fisikawan dapat mendepaknya dan me­ngabaikan keberadaannya tanpa khawatir membuat kesa­lahan.

Subjektivitas dunia fisikal murni meraih signifikansi hanya dalam perpaduan definitif berkompleksitas tinggi yang kita sebut organisasi. Dan hanya dalam domain kehi­dupan terorganisir ini sentiensi pertama kali menjadi eksis; sentiensi berubah menjadi sensasi, sensasi dalam status mental amat kompleks mengembangkan keinsyafan, dan akhirnya keinsyafan sensasi-sensasi jenis tertentu, ketika diulang-ulang, dikenali sebagai itu-itu juga dan melambang­kan penyebab yang mendatangkannya. Dengan cara itu ia memperoleh makna, dan alhasil sentiensi berubah menjadi mentalitas. Ini adalah proses yang bisa kita telusuri dan aku memberanikan diri untuk berkata bahwa cara berubahnya materi menjadi pikiran bukan lagi persoalan yang tak ter­pecahkan.

Judul asli : Have Atoms Souls? ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Desember 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Apakah Atom Memiliki Jiwa?

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)