Skip to content
Sekolah Praktek Jurnalisme – Relift Media

Cerita fiksi satir Sekolah Praktek Jurnalisme

“Aku mendapati dua reporterku sedang berserapah dan menendang-nendang di pekarangan belakang. Yang satu terkubur dalam setumpuk debu batu bara halus, yang satu lagi tergantung pada pagar pancang dari ekor jasnya. Seseorang habis melempar mereka ke luar jendela.”



Selasa siang yang lalu, seorang pria compang-camping dan jelek terlihat berdiri di sudut Main Street. Beberapa orang yang kebetulan lewat untuk kedua kali di jalan itu melihatnya masih berdiri di situ saat mereka kembali.

Dia seperti sedang menunggu seseorang. Akhirnya se­orang anak muda datang berjalan di trototar, dan si pria compang-camping menerjangnya tanpa mengucapkan se­patah kata pun dan bertempur sengit dengannya.

Pemuda itu mempertahankan diri sebisanya, tapi dia sudah dihajar habis-habisan sebelum para pelihat sempat memisahkan mereka. Tentu saja tak ada polisi di sekitar situ, dan kasus berakhir tanpa banyak kegaduhan dan kekacauan seperti berawalnya. Si pemuda menyelinap pergi dengan mata lebam dan pipi memar, dan si compang-camping pergi menyusuri jalan samping dengan raut sangat puas di wajah­nya.

Seorang wartawan Post yang melihat kejadian ini terkesan dengan sesuatu yang luar biasa pada penampilan pria ter­sebut, dan yakin situasi itu lebih rumit daripada kelihatannya di permukaan, jadi dia membuntuti si penyerang. Sementara dia mendekat di belakangnya, si pria jelek berkata lantang pada dirinya sendiri dengan suara yang mengungkapkan sukacita mendalam dan penuh kemenangan:

“Itu yang terakhir. Lagipula, mengejar balas dendam lebih menyenangkan daripada meraihnya. Aku sudah merampas tujuan eksistensiku.”

Pria itu terus berjalan, berbelok di sudut-sudut dengan ragu, seperti orang yang tak kenal kota ini, dan beberapa saat kemudian memasuki sebuah warung minum remang-remang di Congress Street.

Wartawan Post ikut masuk, dan menyesap segelas air, yang dia minta dari pemilik warung, dan melihat si com­pang-camping duduk di sebuah meja kecil. Walau pakaian­nya kotor dan koyak, dan rambutnya acak-acakan dan tak terurus, wajahnya menunjukkan bukti banyak kecerdasan yang justru mengingkari pakaian kasarnya.

Dipacu rasa penasaran, wartawan Post juga duduk di meja tersebut. Dengan kebijaksanaan dan kegigihan profesinya dia segera mengajak orang asing misterius itu bercakap-cakap dan mendapatinya, seperti dia duga, orang yang berpen­didikan dan bertatakrama.

“Saat kau bilang kau orang koran,” katanya dengan lam­baian gemulai, “kau memaksa kepercayaanku. Aku akan ceritakan kisahku. Aku sendiri dulu mengelola sebuah koran.”

Dia mengetuk meja, dan ketika pelayan datang, dia mero­goh dari dalam baju compang-campingnya sebuah buku saku tipis; dari situ dia menggoyangkan satu lembar dolar ke atas meja. Menyerahkannya ke pelayan, dia berkata:

“Satu botol wine terbaik kalian dan beberapa cerutu bagus.”

“Sungguh,” kata wartawan Post, sambil memasukkan dua jari ke dalam saku rompinya, “aku tak bisa biarkan kau—biar aku yang—”

“Tak masalah,” kata si compang-camping dengan penuh martabat, “aku sudah pesan.”

Dengan tak sabar wartawan Post menunggu cerita dari penghibur anehnya.




“Namaku Binkley,” kata si compang-camping. “Aku pendiri Sekolah Praktek Jurnalisme Binkley; dolar yang baru saja kubelanjakan adalah dolar terakhir yang kupunya di dunia ini, dan orang yang kupukuli di kota adalah orang terakhir dari staf redaksi dan peliputan suratkabarku yang kuperlaku­kan dengan cara itu.

“Kira-kira setahun lalu aku punya uang tunai $15.000 untuk diinvestasikan. Aku bisa saja menginvestasikannya pada banyak hal yang aman dan menghasilkan persen lumayan, tapi aku sialnya punya ide orisinil untuk meng­hasilkan jauh lebih banyak.

“Aku paham bisnis suratkabar, karena dulu aku mengabdi delapan atau sepuluh tahun di sebuah jurnal kelas satu sebelum mewarisi $15.000 pada saat kematian seorang bibi. Aku sudah perhatikan, setiap suratkabar di negara ini di­kepung oleh pemuda-pemuda ambisius yang menginginkan suatu posisi agar dapat belajar jurnalisme. Mereka kebanyak­an lulusan perguruan tinggi, dan banyak sekali dari mereka kurang peduli soal gaji yang terkait posisi-posisi itu. Mereka mengejar pengalaman.

“Aku mendapat ide, mereka akan rela membayar banyak untuk situasi-situasi di mana mereka bisa menyerap seni jurnalisme praktis sebagaimana dijumpai di kantor surat­kabar kelas satu. Waktu itu beberapa Sekolah Jurnalisme sudah dirintis di negara ini dan sukses. Aku percaya sekolah jenis ini, dipadukan dengan sebuah suratkabar hidup dan makmur yang punya sirkulasi bagus, akan menjadi tambang emas bagi perintisnya. Di sekolah mereka hanya bisa belajar teori, di sekolahku teori dan praktek akan berjalan ber­gandengan.

“Itu ide hebat.

“Aku menemukan sebuah suratkabar yang akan dijual. Itu ada di sebuah kota besar Selatan; tak perlu kusebutkan namanya. Si pemilik sedang sakit dan ingin meninggalkan negara ini. Itu pabrik yang bagus, dan meraup $3.000 per tahun di atas pengeluaran. Aku mendapatkannya dengan harga $12.000 tunai, menyimpan $3.000 di bank dan duduk dan menulis iklan kecil rapi untuk menangkap para calon jurnalis muda. Aku kirim iklan-iklan ini ke beberapa koran besar Utara dan Timur dan menunggu respon.

“Suratkabarku sangat dikenal, dan ide menyediakan tem­pat untuk belajar jurnalisme rupanya persis mengesankan orang-orang. Aku beriklan: mengingat terbatasnya jumlah tempat untuk diisi, aku harus pertimbangkan lamaran dalam bentuk penawaran, dan orang yang menawar paling tinggi untuk tiap posisi akan mendapatkannya.

“Kau takkan percaya jika kuberitahu jumlah balasan yang kudapat. Aku mengarsipkan segalanya selama kira-kira satu minggu, dan kemudian aku memerika referensi-referensi yang mereka kirim padaku, menaksir penawaran-penawaran dan menyeleksi pasukanku. Aku memerintah mereka untuk melapor di hari tertentu, dan mereka tepat waktu, berse­mangat untuk bekerja. Aku mendapat $50 per pekan dari penulis editorialku; $40 dari redaktur kotaku; $25 masing-masing dari tiga reporter; $20 dari seorang kritikus drama; $35 dari seorang redaktur sastra; dan $30 masing-masing dari redaktur malam dan redaktur telegraf. Aku juga mene­rima tiga penulis khusus, yang membayarku $15 per minggu atas pengerjaan tugas khusus. Aku adalah redaktur pelak­sana dan mengarahkan, mengkritik, dan menginstruksi para staf.

Judul asli : Binkley’s Practical School of Journalism ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Oktober 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Sekolah Praktek Jurnalisme

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)