Skip to content
Pengarang Ideal – Relift Media

Bacaan non-fiksi kritik sastra Pengarang Ideal

Dia memandang kepengarangan bukan sebagai profesi, tapi sebagai sesuatu antara inspirasi dan hobi. Kalaupun itu inspirasi, itu adalah anugerah dari Langit, dan karenanya mesti dibagi dengan seluruh dunia.



Samuel Butler membiasakan diri (dan mendorong setiap penulis muda) untuk membawa-bawa sebuah buku ca­tatan. Ide-ide paling menguntungkan, dia rasa, tidak datang dari sering mencari, tapi timbul dalam pikiran tanpa diminta, dan jika mereka tidak dituliskan di atas kertas seketika itu juga, mereka mungkin akan hilang selamanya. Tapi dengan adanya buku catatan di dalam saku, kau aman; tidak ada gagasan yang terlalu sekilas untuk lolos darimu. Dengan begitu, jika inspirasi untuk sebuah cerita sepanjang lima ribu kata datang kepadamu tiba-tiba ketika menyantap makanan pencuci mulut, kau tinggal bisikkan permintaan maaf kepada orang sebelahmu, keluarkan buku sakumu, dan tuliskan be­berapa catatan kasar. “Pahlawan tersedak biji persik malam pernikahan Lady Honoria. Pohonprsk ditanam oleh cinta prtm. Ironikenyataan. Tragis.” Keesokan pagi kau mengeluar­kan buku catatanmu dari rompi putihnya, dan bersiap me­ngembangkan temamu (jika terbaca) sedikit lebih lengkap. Mungkin itu tidak tampak terlalu cemerlang dalam cahaya pagi yang dingin, tidak seperti habis minum gelas keempat Bollinger. Jika begini, kau bisa buat satu catatan lain—kata­kanlah, untuk sebuah artikel pendek tentang “Kekecewaan”. Pokoknya, buku catatan dan pensil akan terus memasokmu dengan materi.

Jika aku sendiri tidak mengikuti nasehat Butler, itu bukan karena aku tidak mendapat inspirasi cemerlang dari bak tintaku, bukan pula karena aku—setelah mendapat inspirasi—mampu menghafal mereka hingga aku kembali ke bak tintaku lagi, tapi hanya karena aku tak pernah menyimpan buku catatan dan pensil di saku yang benar. Tapi meski aku tidak menirunya, aku bisa mengagumi kebijaksanaannya, bahkan sambil mengolok-olok itu. Tapi aku yakin, tidak bijak dia menceritakan rahasianya kepada khalayak. Khalayak lebih suka berpikir seorang pengarang tidak butuh bantuan-bantuan duniawi ini untuk mengarang. Itu takkan pernah selaras dengan fakta bahwa seorang pengarang menempuh sebuah profesi—sebuah profesi yang darinya dia membayar uang sewa dan melunasi tagihan mingguan. Tentu saja kha­layak ingin penulis-penulis kesukaannya terus hidup, tapi bukan dengan cara kotor seperti teman-teman barister dan bankirnya. Khalayak lebih suka merasa bahwa manna turun kepada mereka dari surga, dan bahwa burung-burung gagak mendirikan tempat tinggal untuk mereka; tapi, dengan sesal harus menolak teori ini, khalayak suka tetap berpura-pura bahwa seribu pound yang diterima seorang pengarang untuk cerita terakhirnya datang sebagai kejutan baginya—padahal, lebih seperti kebetulan dibanding imbalan.

Kenyataannya, orang awam takkan pernah menganggap serius seorang pengarang. Dia memandang kepengarangan bukan sebagai profesi, tapi sebagai sesuatu antara inspirasi dan hobi. Kalaupun itu inspirasi, itu adalah anugerah dari Langit, dan karenanya mesti dibagi dengan seluruh dunia; kalaupun itu hobi, itu adalah sesuatu yang seharusnya di­kerjakan dengan tidak terlalu terampil, tapi secara sambil lalu, amatir, sembarangan. Untuk alasan ini orang awam takkan pernah ragu untuk meminta dari seorang pengarang sebuah sumbangsih cuma-cuma untuk suatu penerbitan lokal, dengan alasan cetek bahwa dia dan si pengarang ber­sekolah di sekolah yang sama atau sama-sama bertemu Robinson. Tapi orang awam ini bakal kaget dengan ide me­minta seorang ahli bedah Harley Street (barangkali ter­koneksi lebih erat lagi dengan dirinya) untuk mengangkat adenoidnya secara cuma-cuma. Meminta ini (dia rasa) akan hampir sama buruknya dengan meminta hadiah sepuluh guinea (atau berapapun ongkos operasinya), sedangkan me­minta artikel kepada seorang penulis seperti meminta se­orang teman untuk menuangkan anggur untukmu—sebuah pujian halus untuk bakat istimewanya. Tapi kenyataannya sebaliknya; dan pengaranglah yang lebih berhak untuk ter­singgung dengan permintaan demikian. Sebab persediaan adenoid terbatas, dan jika si ahli bedah ragu-ragu untuk menghabiskan waktunya dengan mengangkat satu pasang [adenoid] secara cuma-cuma, tidak berarti bahwa selama waktu yang dia hemat, dia bisa yakin akan mendapat pe­kerjaan dengan upah sepasang koin sepuluh guinea. Tapi ketika seorang pengarang Harley Street telah menulis se­buah artikel, ada selusin koran yang akan memberinya harga yang dia tetapkan sendiri, dan jika dia mengirim itu ke teman sekolahnya yang menjengkelkan secara cuma-cuma, dia se­cara harfiah sedang mengorbankan bukan hanya sepuluh atau dua puluh atau seratus guinea, melainkan publisitas karyanya yang dia dapat hargai lebih tinggi lagi. Selain itu, dia sudah rugi apa yang tak pernah bisa digantikan—sebuah ide; sementara si ahli bedah tidak akan rugi apa-apa.

Judul asli : The Ideal Author ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Pengarang Ideal

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)