Skip to content
Dilema – Relift Media

Cerita fiksi keluarga Dilema

“Delima-delimanya berharga. Mereka ada di brankasku di perusahaan pelaksana amanat. Sebelum kau buka kunci kotaknya, harap baca sebuah surat yang terdapat di atasnya; dan pastikan tidak menggoncang kotak.”



Umurku baru saja menginjak 37 tahun ketika Paman Philip mati. Seminggu sebelum peristiwa itu dia me­manggilku; dan di sini biar kukatakan bahwa sebelumnya aku tak pernah melihat dia. Dia benci ibuku, tapi aku tak tahu alasannya. Ibu bercerita padaku jauh sebelum sakit terakhir paman, bahwa aku tak perlu mengharapkan apa-apa dari adik ayahku. Dia seorang penemu, seorang insinyur mesin yang cakap dan banyak akal, dan menghasilkan banyak uang dengan memperbaiki roda-roda turbin. Dia bujangan; hidup seorang diri, memasak makanannya sendiri, dan mengum­pulkan batu-batu mulia, khususnya delima dan mutiara. Sejak menghasilkan uang pertamanya, dia mengidap mania ini. Seiring bertambah kaya, keinginannya untuk memiliki permata langka dan mahal menjadi semakin kuat. Saat membeli sebuah batu baru, dia membawa-bawanya dalam saku selama satu bulan dan sesekali mengeluarkannya dan memandanginya. Lalu itu ditambahkan ke koleksi di bran­kasnya di perusahaan pelaksana amanat.

Pada waktu dia memanggilku, aku adalah seorang juru catat, dan cukup miskin. Mengingat kata-kata ibuku, pesan paman tidak memberiku—kerabat tunggalnya—harapan baru; tapi aku berpikir sebaiknya pergi.

Saat aku duduk di sisi tempat tidurnya, dia mulai berkata-kata, dengan seringai jahat:

“Aku duga kau menganggapku aneh. Akan kujelaskan.” Apa yang dia katakan memang cukup aneh. “Aku sudah hidup dari tunjangan yang kuisi dengan kekayaanku. Dengan kata lain, dalam hal uang aku sudah konsentrik separuh hidupku agar aku bisa eksentrik sesukaku selama sisa hidupku. Kini aku menyesalkan keburukanku kepada kalian semua, dan ingin hidup dalam kenangan setidaknya salah satu dari keluargaku. Kau berpikir aku miskin dan hanya punya tunjangan. Kau akan kaget secara menguntungkan. Aku belum pernah berpisah dengan batu-batu muliaku; mereka akan menjadi milikmu. Kau ahli warisku satu-satunya. Aku akan membawa bersama diriku ke alam lain puasnya membahagiakan seseorang.

“Tak diragukan lagi kau selalu memiliki pengharapan dan aku ingin kau terus berharap. Permata-permataku ada di brankasku. Tidak ada barang lain yang tertinggal.”

Ketika aku berterimakasih padanya, seluruh wajahnya menyeringai, dan dia berkata:

“Kau harus membayarkan pemakamanku.”

Harus dibilang aku tak pernah lebih senang menantikan pengeluaran daripada saat mengeluarkan biaya untuk me­letakkan dia di dalam tanah. Selagi aku bangkit untuk pergi, dia berkata:

“Delima-delimanya berharga. Mereka ada di brankasku di perusahaan pelaksana amanat. Sebelum kau buka kunci kotaknya, harap baca sebuah surat yang terdapat di atasnya; dan pastikan tidak menggoncang kotak.” Aku berpikir ini ganjil. “Jangan kembali. Itu tidak akan mempercepat ke­adaan.”

Dia mati tujuh hari kemudian, dan dikuburkan dengan baik. Sehari sesudah itu, wasiatnya ditemukan, menjadikan­ku ahli warisnya. Aku membuka brankasnya dan tidak mene­mukan apa-apa di dalamnya selain kotak besi, jelas-jelas buatannya sendiri, sebab dia pekerja terampil dan sangat banyak akal. Kotaknya berat dan kuat, panjang kira-kira sepuluh inchi, lebar delapan inchi, dan tinggi sepuluh inchi. Di atasnya terdapat surat untukku. Bunyinya begini:

“Tom sayang. Kotak ini berisi sejumlah besar delima merah darah yang sangat indah dan banyak sekali berlian, satunya biru—barang yang cantik. Ada ratus­an mutiara—satu mutiara hijau terkenal dan sebuah kalung mutiara-mutiara biru, yang demi itu wanita manapun rela menjual jiwanya—atau kasih-sayang­nya.” Aku kepikiran Susan. “Kuharap kau terus memi­liki pengharapan dan terus mengingat pamanmu yang tersayang. Tadinya aku akan wariskan batu-batu ini ke suatu yayasan amal, tapi aku benci orang miskin se­banyak aku benci putera ibumu—ya, agak lebih banyak.

“Kotak ini berisi sebuah mekanisme yang asyik, yang akan beraksi dengan pasti begitu kau membuka kuncinya, dan meledakkan sepuluh ons dinamit super­sensitif hasil improvisasiku—bukan, tepatnya, hanya ada sembilan setengah ons. Sangsikan aku, dan buka­lah, dan kau akan terlempar menjadi atom-atom. Per­cayai aku, dan kau akan terus memelihara pengharap­an yang tidak akan pernah terpenuhi. Sebagai orang baik budi, kunasehatkan hati-hati sekali memegang kotaknya. Jangan lupakan yang penuh kasih-sayang

“Pamanmu”

Judul asli : A Dilemma ()
Pengarang : Silas Weir Mitchell
Penerbit : Relift Media, Agustus 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh