Skip to content
Ajaran Penderitaan Buddha – Relift Media

Ajaran Penderitaan Buddha

“Bagaimana menurut kalian, murid-murid, mana yang lebih banyak, air yang ada di keempat samudera besar, atau air mata yang telah mengalir dari kalian dan telah ditumpahkan oleh kalian.”



“Suatu kali,” seperti kita baca, “Yang Terpuji sedang tinggal di Kosambî di hutan kecil Sinsapâ. Dan Yang Terpuji mengambil beberapa helai daun Sinsapâ dengan tangannya dan berkata kepada murid-muridnya: ‘Bagaimana pendapat kalian, mu­rid-muridku, mana yang lebih banyak, daun-daun Sinsapâ ini, yang kukumpulkan dalam tanganku, atau daun-daun lain nun di sana di hutan Sinsapâ?”

“Beberapa daun, baginda, yang Yang Terpuji pegang dalam tangannya tidak banyak, tapi jauh lebih banyak daun-daun nun di sana di hutan Sinsapâ.”

“Begitu pulalah, murid-muridku, jauh lebih banyak yang sudah kupelajari dan belum kuberitahukan pada kalian, dari­pada yang sudah kuberitahukan pada kalian. Dan, mengapa, aku belum memberitahukannya pada kalian? Karena, murid-muridku, itu tidak mendatangkan manfaat untuk kalian, itu tidak membantu kemajuan dalam kesucian, karena itu tidak menghasilkan perpalingan dari keduniawian menuju tun­duknya semua keinginan, menuju berhentinya kefanaan, menuju kedamaian, menuju pengetahuan, menuju pene­rangan, menuju Nirwana; oleh sebab itu aku tidak meng­umumkannya kepada kalian. Dan apa, wahai murid-murid, yang telah kukhotbahkan pada kalian? ‘Ini adalah penderi­taan’—demikianlah, wahai murid-murid, telah kukhotbahkan pada kalian. ‘Ini adalah pangkal penderitaan’—demikianlah telah kuserukan pada kalian. ‘Ini adalah berhentinya pen­deritaan’—demikianlah telah kuserukan pada kalian. ‘Ini adalah jalan menuju berhentinya penderitaan’—demikianlah telah kuserukan pada kalian.”

Petikan ini menyatakan secara ringkas dan jelas apa itu doktrin Buddhisme dan apa yang bukan. Itu tidak mengaku sebagai filsafat, yang menyelidiki dasar pokok segala se­suatu, membentangkan lebar dan dalamnya semesta untuk dipikirkan. Itu ditujukan kepada manusia yang jatuh dalam dukacita, dan, meski itu mengajarinya untuk memahami dukacitanya, itu menunjukinya jalan untuk membasminya, akar dan semuanya. Ini adalah satu-satunya persoalan yang menjadi perhatian pemikiran Buddhis. “Karena samudera luas, wahai murid-murid, diisi dengan satu rasa, rasa garam, begitu pula, murid-murid, Hukum dan Doktrin ini diisi dengan satu rasa saja, dengan rasa keterbebasan.”

Tapi keterbebasan ini bukan peninggalan untuk orang-orang yang buruk dalam semangat, melainkan hanya untuk orang-orang yang bijak. Dan karenanya doktrin keterbe­basan Buddhis sama sekali tidak puas dengan hanya refleksi-refleksi etis sederhana itu, yang lebih menarik bagi sensasi sebuah hati yang murni ketimbang bagi daya intelektual sebuah akal yang terlatih. Garisbesar utama doktrin ini dapat dipahami oleh setiap orang yang diberkahi perasaan yang hidup di kalangan anggota Gereja; akan tetapi, deduksi-deduksi dialektik lebih detil, yang kemahiran atasnya tidak dianggap sebagai pencapaian tak penting, hanya dapat di­mengerti oleh individu-individu yang terbilang sedikit, bah­kan di kalangan sebuah kaum yang sangat diberkahi kapa­sitas untuk berurusan dengan pemikiran abstrak seperti bangsa India, dan di kalangan orang-orang yang mengabdi­kan seluruh hidup mereka semata-mata pada pemikiran-pemikiran ini. Di lingkaran-lingkaran Gereja kuno, mereka juga sadar sepenuhnya akan hal ini. “Bagi orang-orang yang memikirkan pengejaran-pengejaran duniawi, yang memiliki kesibukan dan menemukan kesenangan dalam pengejaran-pengejaran duniawi, perkara ini akan sulit dimengerti, hukum sebab-akibat, rantai sebab dan akibat,” demikianlah Buddha konon berkata kepada dirinya sendiri, sebelum dia mengambil tanggungjawab untuk mengkhotbahkan doktrin­nya. Makanya kita menemukan, saat membuka tulisan-tulis­an sakral umat Buddhis, bersebelahan dengan apotegma-apotegma sederhana nan cantik seperti yang termuat dalam Dhammapada (pemaparan dogmatis paling musykil itu), sistem-sistem ide yang sangat ruwet dan berbelit-belit, klasifikasi-klasifikasi komprehensif, daftar-daftar panjang kategori, yang disatukan oleh interkoneksi sebab-akibat atau suatu ikatan logis. “Jika ini ada, itu juga ada; jika ini timbul, itu juga timbul; jika ini tidak ada, maka itu juga tidak ada; jika ini binasa, itu juga binasa”; demikianlah mereka terbiasa untuk bernalar dalam periode ketika tulisan-tulisan sakral ber­mula, dan kita sudah melihat bahwa kemungkinan besar mode pemikiran dan pembicaraan Buddha sendiri bergerak di jalur-jalur ini, yaitu jalur-jalur diskusi abstrak, ekspresi teknis dan seringkali skolastik, dan, mungkin, dialektika yang tidak terlalu tangkas.

Secara garis besar kita akan dibenarkan untuk mengacu pada Buddha sendiri alur-alur pemikiran paling esensial yang kita dapati tercatat dalam teks-teks suci, dan, di banyak tempat, barangkali tidak berlebihan untuk percaya bahwa kata-kata itu, yang di dalamnya sang asketik dinasti Sakya menuliskan ajaran keterbebasannya, telah turun kepada kita selagi mereka jatuh dari bibirnya. Kita menemukan bahwa sepanjang kompleks luas literatur kuno Buddhis yang telah dikumpulkan, semboyan-semboyan dan rumus-rumus ter­tentu, ekspresi pendirian-pendirian Buddhis mengenai be­berapa permasalahan paling berat dalam pemikiran ke­agamaan, diekspresikan berulang-ulang kali dalam bentuk standar yang diadopsi secara definitif. Mengapa tidak mung­kin ini adalah kata-kata yang telah mendapat pengakuannya dari sang pendiri Buddhisme, yang dulu dituturkan olehnya ratusan dan ribuan kali sepanjang hidupnya yang panjang yang diabdikan untuk mengajar?

Judul asli : The Tenet of Suffering ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Juni 2022
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Ajaran Penderitaan Buddha

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)