Skip to content
Hunian Khayali – Relift Media

Bacaan non-fiksi filsafat Hunian Khayali

Sungguh benar bahwa semua delusi panca indera dirangkum dalam satu kata kekhayalian, dan tidak ada cara untuk melupakan, meski sekejap, perubahan dan kekilatannya.



Ragaku, kini hampir lima puluh tahun usianya, telah menjadi sebatang pohon tua yang membuahkan persik-persik pahit, seekor keong yang sudah kehilangan cangkangnya, seekor ngengat kantong yang terpisah dari kantongnya; ia hanyut bersama angin dan awan yang tak tahu tujuan. Pagi dan malam aku memakan makanan musa­fir, dan menjulurkan dompet peziarah untuk meminta sede­kah. Pada perjalanan terakhirku wajahku dibakar oleh mata­hari Matsushima, dan aku membasahi lengan bajuku di gunung suci. Aku hendak pergi sampai pesisir di mana pekikan burung-burung puffin dan Kepulauan Seribu Ainu bisa dilihat di kejauhan, tapi rekanku menarikku pulang, berkata betapa bahayanya perjalanan sepanjang itu dengan mualku. Aku menyerah. Lalu kedua tumitku memar di pantai kasar laut utara, di mana setiap langkah di bukit pasir terasa perih. Tahun ini aku berkelana di pesisir danau untuk men­cari tempat menetap, setangkai buluh di mana sarang apung burung grebe mungkin ditopang oleh arus. Ini adalah Hunian Khayali-ku, dan ia berdiri dekat gunung bernama Kokubu. Sebuah kuil kuno terletak tak jauh, yang sangat memurnikan panca inderaku sampai aku merasa bersih dari debu dunia. Gubuk jerami yang ditinggalkan ini adalah tempat di mana pamannya prajurit Suganuma mengasingkan diri dari dunia. Dia pergi sekitar delapan tahun lalu; huniannya tetap tinggal di persimpangan kekhayalian ini. Sungguh benar bahwa semua delusi panca indera dirangkum dalam satu kata kekhayalian, dan tidak ada cara untuk melupakan, meski sekejap, perubahan dan kekilatannya.

Gunung-gunung tidak membentang sangat lebar, tapi rumah-rumah terpisah jauh. Gunung Batu ada di depan gubukku, dan di belakang berdiri Gunung Ngarai. Dari puncak-puncak tinggi turun angin wangi dari selatan, dan angin utara yang terendam di laut kejauhan terasa sejuk. Kala itu awal bulan keempat saat aku tiba, dan bunga-bunga azalea masih mekar. Tanaman wistaria gunung bergantung pada pinus-pinus. Burung-burung tekukur sering terbang lewat, dan ada kunjungan dari burung-burung layang. Tak satupun patukan dari burung pelatuk mengusikku, dan dalam sukacitaku aku memanggil merpati hutan, “Datanglah, burung kesunyian, dan buat aku murung!” Tak bisa tidak aku bahagia—pemandangan itu tidak akan tersipu di hadapan suasana-suasana China yang paling indah.

Judul asli : The Unreal Dwelling
幻住庵記
()
Pengarang : Matsuo Bashō
Penerbit : Relift Media, April 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Hunian Khayali

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)