Skip to content
Mutiara Cinta – Relift Media

Cerita fiksi satir Mutiara Cinta

Dengan kagum dan heran orang-orang melihat Mutiara Cinta meluas dari awal-awal pertamanya menuju lebar dan tinggi dan besar di atas manusiawi. Mereka tidak tahu dengan jelas apa yang mereka nantikan.



Mutiara lebih indah dibanding batu kristal paling cemerlang, kata moralis, karena ia tercipta melalui penderitaan seorang makhluk hidup. Tentang itu aku tak bisa bilang apa-apa, karena aku tak merasakan kekaguman pada mutiara. Kilap keruh mereka tak menggerakkanku sama sekali. Pun aku tak bisa memutuskan sendiri perselisihan abadi itu: apakah Mutiara Cinta adalah cerita paling kejam atau sekadar fabel anggun tentang langgengnya kecantikan.

Cerita maupun kontroversinya akan akrab di telinga para penstudi prosa Persia zaman pertengahan. Ceritanya pen­dek, tapi ulasan tentangnya adalah bagian terhormat dari sastra masa itu. Mereka memperlakukannya sebagai karang­an puitis dan mereka memperlakukannya sebagai alegori yang bermakna ini, itu, atau lainnya. Para teolog berlebih-lebihan dengannya, menganggapnya secara khusus berkait­an dengan kembalinya raga sesudah mati, dan itu banyak digunakan sebagai perumpamaan oleh mereka yang menulis tentang estetika. Dan banyak yang beranggapan itu adalah pernyataan sebuah fakta, nyata sederhananya dan adanya.

Ceritanya terdapat di India Utara, tanah paling subur untuk cerita-cerita cinta luhur di antara semua negeri di dunia. Ia di negeri sinar mentari dan danau-danau dan hutan-hutan kaya dan bukit-bukit dan lembah-lembah subur; dan di kejauhan gunung-gunung besar bergantung di langit, puncak-puncak, jengger-jengger, bubung-bubung salju abadi dan tak terlalui. Ada seorang pangeran muda, penguasa seluruh negeri; dan dia menemukan gadis dengan kecantikan dan keindahan tak terlukiskan dan dia menjadi­kannya ratunya dan meletakkan hatinya di kaki sang gadis. Cinta menjadi milik mereka, sarat sukacita dan rasa manis, sarat asa, cinta yang elok, berani, dan menakjubkan, melebihi apapun yang pernah kau bayangkan akan cinta. Itu menjadi milik mereka selama satu setengah tahun; lalu tiba-tiba, gara-gara suatu sengatan berbisa yang mengenainya di semak belukar, sang gadis mati.

Dia mati dan untuk sementara sang pangeran terpuruk. Dia membisu dan mematung dengan duka. Mereka khawatir dia bakal bunuh diri, dan dia tak punya anak lelaki ataupun saudara lelaki untuk menggantikannya. Selama dua hari dua malam dia berbaring sujud, puasa, di kaki dipan yang me­muat jasad tenang rupawan. Lalu dia bangkit dan makan, dan mulai bertindak dengan tenang sekali seperti orang yang telah mengambil keputusan besar. Dia menyuruh agar jasadnya dimasukkan ke dalam sebuah peti mati dari timah bercampur perak, dan untuk itu dia memerintahkan pem­buatan sebuah peti luar dari kayu-kayu paling mulia dan paling wangi yang ditempa dengan emas, dan sekeliling itu akan ada sarkofagus pualam, bertatahkan batu-batu mulia. Dan sementara semua ini dikerjakan, dia menghabiskan waktunya sebagian besar di dekat kolam-kolam dan di bilik-bilik istana di mana mereka dulu sering bersama, merenungi kejelitaannya. Dia tidak mengoyak-ngoyak pakaiannya dan tidak pula mengotori diri dengan abu dan goni seperti adat-istiadat, sebab cintanya terlalu besar untuk keberlebihan demikian. Akhirnya dia muncul lagi di antara para pe­nasehatnya dan di depan rakyat, dan berkata pada mereka apa yang hendak dia lakukan.

Dia mengatakan takkan pernah lagi menyentuh wanita, takkan pernah lagi memikirkan mereka, jadi dia akan men­cari seorang pemuda layak untuk diadopsi sebagai pewaris­nya dan dilatih untuk tugasnya, dan bahwa dia akan me­laksanakan tugas-tugas kepangeranan sebagaimana mesti­nya; tapi bahwa untuk selebihnya, dia akan mencurahkan diri dengan segenap kekuasaannya dan segenap kekuatannya dan segenap kekayaannya, segenap yang sanggup dia miliki, untuk membuat sebuah tugu yang pantas untuk kekasih tiada tara yang telah tiada. Itu akan menjadi bangunan anggun dan indah sempurna, lebih menakjubkan daripada bangunan manapun yang pernah atau akan ada, sehingga sampai akhir zaman ia akan menjadi keajaiban, dan orang-orang akan menghargainya dan membicarakannya dan ber­keinginan melihatnya dan datang dari semua negeri-negeri di bumi untuk mengunjungi dan mengingat nama dan kenangan ratunya. Dan bangunan ini, dia bilang, akan di­juluki Mutiara Cinta.

Judul asli : The Pearl of Love ()
Pengarang : H. G. Wells
Penerbit : Relift Media, Februari 2022
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Mutiara Cinta

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2022)