Skip to content
Aku Merantau ke Batavia – Relift Media

Aku Merantau ke Batavia

Batavia mengan­dung suasana wabah tanpa akhir. Kapal Qingque huanglong (青雀黃龍) sudah setengah karam. Ini mungkin karena Kayangan benci jika orang-orang China tinggal di Batavia. Oh, sahabatku, kembalilah cepat!



Orang-orang pribumi menyebut kelapa galaba (噶喇吧, kelapa). Sejak periode Xuande [宣德] dinasti Ming, ketika kasim Wang Sanbao (王三保) turun ke Samudera Barat, kita bangsa China menyebut tempat itu demikian, karena ada banyak pohon kelapa. Orang Jawa menyebutnya Jakatra (二噶礁喇), orang Belanda menyebutnya Batavia (目兜予, Betawi), jadi nama-nama ini tidak terdengar sama.

Tanah-tanah Samudera Selatan semuanya adalah negeri-negeri, wilayah-wilayah, dan pulau-pulau yang dikelilingi air. Kota-kota dilindungi tembok dan parit, dan memiliki per­tahanan yang baik, tapi yang mengendalikan semua negeri asing itu adalah Galaba Belanda, yang bisa disebut paling strategis. Di arah selatan ada gunung-gunung berapi, tapi di barat, utara, dan timur, negeri ini berbatasan dengan laut. Wilayah-wilayah di barat adalah Banten, Palembang, Malaka, Ceylon, Tanjung Harapan, dan Aceh. Di timur adalah Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Surabaya, Rembang, Banjarmasin, Makasar, Timor, Bima, Kupang, Banda, dan Ternate. Penduduk mereka semuanya berbeda dari satu sama lain. Mereka semua dipisahkan dari satu sama lain oleh laut, jarak paling jauh lebih dari sepuluh ribu li (里), dan semua tempat ini ada di bawah kendali Belanda.

Keperkasaan dan kebajikan dinasti kita membentang ke empat arah, orang-orang dari negeri jauh patuh. Dekrit-dekrit kekaisaran tidak melarang berdagang dengan mereka. Oleh sebab itu orang-orang dari Zhangzhou, Quanzhou, Chaozhou, dan Guangzhou saling berlomba untuk pergi ke sana dengan mempertimbangkan bagaimana cara meme­nuhi kebutuhan komoditas seperti makanan dan minuman, pakaian, perkakas dan obat-obatan (misalnya teh), tembakau Zhangzhou, kaos kaki sutera, benang sutera, satin berbunga, pita sutera, kertas, porselen, panci tembaga, radix cyathulae, lengkeng (龍眼), kesemek kering, zaitun China, tepung, ginseng, akar china, dan obat-obatan lain.

Semua orang membawa komoditas ini [ke Nanyang] untuk menghasilkan keuntungan dan untuk mencari produk-produk lokal, contohnya lada, kayu secang, eboni, dupa, kemenyan, gaharu, kayu cendana, gaharu matang (束香), shuxiang, kayu gaharu (沉香), kayu kyara (奇楠), kayu kamper, rotan putih, tikar tidur, gading gajah, cula badak, urat kijang, sarang burung, teripang [bêche-demer], gula putih, gula kubus, kelapa, buah pinang, timbal, timah, mutiara, berlian, linen barat, kain wol, pelanel, bombazin, belerang, opium, cengkeh, pala, wine, brendi, sagu, bulu merak, burung beo, dan sebagainya.

Mereka memborong semua itu untuk menghasilkan keuntungan. Mereka yang kaya mengerek layar, berangkat, dan pulang dengan penuh kemenangan sambil menabuh gendang-gendang. Mereka yang tak berpunya tetap di sana. Walaupun ada yang menjadi kaya, banyak yang melupakan kampung halaman mereka, mencari nafkah, dan menjadi ayah. Jumlah mereka mencapai tidak kurang dari 100.000 orang.

Saat umurku dua puluhan, aku terpikir untuk melunasi utang-utang ayahku dan menantang cuaca buruk musim dingin, dan melayari laut dengan angin utara ke arah selatan, dan dengan Kepulauan Paracel (七洲) di belakangku, melewati Cochin (交趾, Tonkin), tiba di Champa, dan dari sana, berturut-turut melewati pelabuhan Kamboja dan pelabuhan Siam, kami tiba di Laut Tioman, yang darinya kelihatan Changyao (長腰, Pulau Bintan) dan Pegunungan Kepala Babi (Pulau Selayar), dan kemudian tiba di sebuah selat laut sempit, dengan banyak pohon tumbuh dari air di kedua sisi; selat ini lebarnya tiga hingga empat li. Dekat di sebelah barat, itu dangkal dan berlumpur; di sisi timur lebih dalam tapi berbatu-batu. Awak kapal memerum kedalamannya, dengan enam atau tujuh depa kapal bisa lewat.

Setelah tiga hari berlayar kami meninggalkan Selat Sempit [Selat Bangka] itu dan tiba di Palembang. Belanda menggunakan tempat ini untuk menggeledah kapal-kapal China yang masuk dan keluar. Setelah itu kami melintasi Laut Sanli (三立洋) dan tiba di Wang Yu (王嶼, Pulau Onrust) dengan kincir-kincir anginnya, Pulau Jiaban (甲版嶼, Pulau Kapal), Pulau Iblis-iblis Hitam, Pulau Rumput, [dan] Pulau Putih. Mereka bertaburan seperti bintang-bintang di langit; mereka adalah meja di depan Batavia. Dingjiaolan (丁腳蘭, Tangerang), sebuah gosong pasir di barat, dan Lugutou (魯古 頭, Titik Koral), di timur, bagaikan sayap-sayap di kedua sisi. Ketika dihitung dari utara, total jarak yang ditempuh adalah 240 geng (更). (Satu geng adalah 50 li). Jika dihitung di darat, maka ini sama dengan 12.000 li. Dihitung pada jari-jariku, pelayaran ini tidak memakan lebih dari tiga puluh hari.

Cuacanya panas membara, malam-malamnya sangat pendek. Cuacanya sama sekali tidak seperti China. Karena air mengalir ke arah selatan, daratannya rendah, bintang kutub utara sudah terbenam ke bawah [ufuk]—semua bintang terbenam ke bawah ufuk. Orang-orang bijak kuno menyebut bintang-bintang menghilang di bawah 36 derajat. Ini bisa dipahami atas dasar ini, dan bintang kutub selatan menjadi tampak. Oleh sebab itu, dinginnya musim dingin dan panas­nya musim panas, dan panjang malam dan siang, semua berlawanan dengan China.

Judul asli : Brief Account of Galaba
噶喇吧紀略
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, January 2021
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Aku Merantau ke Batavia

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2021)

No comments

Post a Comment