Skip to content
Jiwa Turki – Relift Media

Jiwa Turki

Seorang kyai bersorban hijau bangkit pada suatu Jumat pagi di mimbar masjid dan menyatakan dengan emosi merdu bahwa Rusia sedang menantang-nantang di pintu luar dinasti Osmanli, dan bahwa Islam dalam bahaya.



Malam itu, tanpa kebencian di dalam hatinya tapi dengan logika Muslim tak tergoyahkan membimbing tangan­nya, dia membunuh si sersan instruktur Prusia yang—dengan peci tarbush merah tua di atas batok kepala berpunggung rata berkeriting kuning—dibrevetkan sebagai mayor di resimennya, Infantri Turki ke-17.

Rekan-rekannya melihat dia mengendap-endap ke tenda compang-camping berbentuk lonceng di mana si Prusia sedang tidur kelelahan. Mereka mendengar letusan tembakan tragis, dan melihatnya keluar lagi dengan revolver mengepul di tangan kanan. Berjongkok adem-ayem pada pangkal paha, mereka menyaksikannya pergi ke toko sembako militer, menikmati iris demi iris roti kelabu sepon, pasta aprikot kering, dan seikat daun tembakau Latakia kuning, mengisi pelples airnya, dan mengambil jalan menuju puncak raksasa pegunungan Anatolia, yang di sana-sini bertaburkan ladang-ladang kecil merah kecokelatan, laksana bros-bros yang menjepit pakaian hitam kehijauan.

“Assalaamu ‘alaikum, saudara-saudara Muslim!” katanya alim sambil menoleh, jari-jari tangan kirinya terbuka seperti batang-batang kipas, kemudian dia menutupnya lagi, untuk menunjukkan keniscayaan apa yang sudah diperbuatnya.

“Wa ‘alaikum salam, Mehmety el-Touati!” datang balasan komat-kamit mereka, yang dinodai sedikit saja rasa iri, sebab mereka tahu sebentar lagi Mehmet el-Touati akan berada di desanya, sementara rumah mereka jauh di Selatan dan Barat, dan mereka tidak hafal jalan-jalannya.

Mereka tidak terheran ataupun tergoncang. Mereka mema­hami dia, sebagaimana dia memahami mereka.

Seperti dirinya, mereka adalah semut-semut ercis Turki sederhana, berjanggut, berumur paruh baya, penyabar, sedikit bertahi mata, yang diwamilkan ke dalam tentara dan dilempar ke dalam ketel sejarah Eropa berbuih dan berlumuran darah yang sedang dalam pembuatan, melalui proses yang dihormati sepanjang zaman: seorang kyai bersorban hijau bangkit pada suatu Jumat pagi di mimbar masjid dan menyatakan dengan emosi merdu bahwa Rusia sedang menantang-nantang di pintu luar dinasti Osmanli, dan bahwa Islam dalam bahaya.

Rusia—masya Allah, masya Allah, tapi mereka kenal Rusia dahulu kala!

Rusia bakal berkuda di ladang-ladang mereka, yang sudah ditaburi dan yang belum ditanami. Ia bakal menebang pohon-pohon persik. Ia bakal mengotori masjid-masjid mereka, harem-harem mereka, dan sumur-sumur mereka. Ia bakal mengandangkan kuda-kudanya di pekuburan mereka yang bernaungkan pohon-pohon sipres. Ia bakal memperbudak kaum wanita, membunuh anak-anak kecil, dan mengirim api merah yang menjilati bagian atas kandang sapi dan atap jerami lumbung.

Jadi:

Jihad!—Perang Suci! Membunuh demi Agama dan Nabi Muhammad mubarak!



Maka, tanpa keluh-kesah, dengan mata besar, mereka mendekap isteri-isteri dan anak-anak mereka ke dada besar berbulu; membetulkan tali kulit mentah sandal-sandal mereka; beramai-ramai menuju markas-markas pusat militer distrik; dipaskan dengan seragam-seragam bukram kaku yang bikin lecet dan tak tergolong jenis apapun; diberi senapan-senapan unggul Jerman, makanan tak enak, air payau; dan berjalan susah-payah sepanjang jalanan terjal Anatolia berbatu-batu nan suram.

Para Muslim, petani, pegadai—mereka berangkat, mening­galkan semua milik mereka, yang tertusuk pada tanduk Nasib; tanpa Palang Merah, tanpa dokter, tanpa ambulans, untuk merawat korban luka mereka atau meringankan kesakitan terakhir korban sekarat mereka; sementara pegawai-pegawai pemerintahan necis bermata licin dari Syam mencuri uang kecil yang disalurkan kementerian peperangan untuk nafkah kaum wanita, anak-anak, dan para lansia lemah yang mengolah ladang dan menyimpan palawija kurus dengan lengan-lengan lunglai mereka selagi kaum kuat, sehat, berjanggut pergi ber­perang demi Agama; sementara tak seorangpun memuji-muji patriotisme mereka atau menyanyikan lagu pujian epik untuk keberanian mereka yang nyata dan agung; sementara tak ada bendera berkibar atau instrumen kuningan berbunyi; semen­tara tak ada opini khalayak yang tertulis atau terucap untuk memberitahu mereka bahwa mereka sedang berbuat benar, atau bahwa mereka pahlawan; sementara tak ada siapapun di rumah untuk mengirimi mereka semangat atau pelipur atau kemewahan kecil dan tak memuaskan.

Judul asli : The Soul of a Turk ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment