Skip to content
Darah Biru – Relift Media

Darah Biru

Rumah-rumah hitam dan jalan-jalan bengkok mencengkeramnya sekali lagi, dan bermain-main dengannya sampai kesadarannya menjadi satu bintik rasa sakit yang panas membara.


Dia duduk di tengah-tengah kafe besar dengan kepala bertopang kedua tangan, sengsara getir. Dalam batin dia mengutuk para leluhur yang mewarisinya tak banyak selain nama besar dan tubuh kecil menggelikan. Dia terpikir ayahnya, yang tingkah-tingkah eksentrik mahalnya menghibur saudara-saudara setanah air dengan mengorbankan nasibnya; ibunya, yang untuknya kematian adalah berkah; kakek-nenek dan paman-pamannya, yang di dalam diri mereka tidak ditemukan kebaikan apapun. Tapi terutama dia mengutuk dirinya sendiri, yang kegoblokannya tidak dapat diterangkan sepenuhnya oleh sifat turun-temurun. Dia ingat sekolah di mana dirinya tak mendapat teman, Universitas di mana dirinya tak menerima gelar. Sejak berhenti dari Oxford, hidupnya yang tanpa tujuan dan tanpa harapan, tuna susila, tercela, mungkin secara tak sengaja telah mencabut bahkan kedudukannya dari nilai sosial apapun, dan satu persatu kenalannya menyerahkan dia pada pergaulan pria-pria putus asa dan wanita-wanita yang sama sekali tidak pantas. Dan mereka ini, dan di sinilah barangkali kegetirannya berakar, bahkan mereka pun mengakuinya hanya sebagai mangsa untuk olokan mereka, makhluk yang lebih malang daripada mereka sendiri, yang padanya mereka bisa melampiaskan amarah jiwa-jiwa tersiksa mereka. Dan keseng­saraan terakhirnya terletak dalam ini: bahwa dia sendiri tidak menemukan hari dalam hidupnya untuk dikagumi, tidak menemukan satupun mimpi yang telah lalu untuk dihargai, tidak menemukan lubuk terdalam hatinya untuk dicintai. Gelandangan paling rendah, anak paling terlantar, boleh jadi punya suatu kebanggaan puncak, tapi dia tak punya apa-apa, tidak sama sekali. Dia adalah orang yang miskin mimpi, orang yang bangkrut secara emosi.

Dengan sedu-sedan dia mengosongkan brendinya dan menyuruh pelayan membawakan satu lagi. Dulu ada satu masa dalam hidupnya ketika dia sanggup menemukan setakar kepuasan sentimentil dalam kelenger kemabukan. Pada hari-hari itu, menembus selubung ilusi yang alkohol tutupkan pada otaknya, dia sanggup mengenali kejijikan para pria sebagai keakraban persahabatan, cemoohan para wanita sebagai gelak-tawa cinta gampangan. Tapi kini minum tak memberinya apa-apa selain pengertian tajam akan morbiditas, yang mengiris jiwa busuknya bak keju. Tapi malam demi malam dia datang ke tempat ini, untuk disiksa sekali lagi oleh ejekan para pengunjung kotor, dan oleh musik orkestra serampangan yang menceritakan sebuah musim semi tanpa bunga dan sebuah pagi tanpa harapan untuknya. Emosi terakhirnya terletak dalam rasa sakit bikinan sendiri ini; dia hanya bisa bernafas bebas di bawah lecutan kejijikannya sendiri.

Judul asli : Blue Blood ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, August 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment