Skip to content
Tawanan Muslim di Bizantium – Relift Media

Tawanan Muslim di Bizantium

Mereka akan tahu bahwa tidak sepatutnya raja-raja budiman memperlakukan tawanan dengan cara ini. Kita harus buat jelas kepada mereka bahwa mereka akan dianggap bertanggungjawab atas kelakuan buruk para penguasa Bizantium.



Aku diceritakan kisah ini oleh Abu Bakar Muhammad bin Abdul Rahman, yang mendengarnya dari Mukarram bin Bakran, yang menyebut ini diriwayatkan kepadanya oleh Abu Yahya, putera dari hakim Ibnu Mukarram:

Aku salah satu penasehat untuk wazir Abu al-Hassan Ali bin Isa, yang sering meminta nasehatku. Suatu hari aku masuk ke kantornya dan mendapati dia agak tertekan, dan aku curiga dia baru dapat teguran dari Khalifah al-Muqtadir. Menjurus ke situ, aku bertanya ada masalah apa.

“Bukan itu penyebab kegelisahanku,” ungkapnya. “Apa yang membuatku cemas jauh lebih serius.”

“Maukah kau cerita padaku?” tanyaku. “Mudah-mudahan aku punya saran untukmu.”

“Baiklah,” katanya. “Agen kita di garis perbatasan mengirim laporan tentang para tahanan Muslim di tanah-tanah Bizan­tium. Sampai belakangan ini mereka diperlakukan dengan baik dan manusiawi. Kemudian, beberapa saat lalu, dua anak muda menerima kekuasaan dan memulai kebijakan penindasan, pelaparan, perampasan hak dasar, kekakuan terhadap saudara-saudara Muslim kita, bahkan berupaya mengkristenkan mereka secara paksa. Saudara-saudara kita sekarang dalam kondisi susah dan berat, dan kita tak bisa berbuat banyak untuk menolong mereka. Kita tak punya kekuasaan atas tanah-tanah itu. Aku sudah berusaha, tanpa hasil, untuk membujuk khalifah agar mengeluarkan dana dan menyiapkan tentara kita untuk menaklukkan Konstantinopel.”

“Wazir agung,” kataku, “kuusulkan cara lain dalam memecahkan persoalan ini.”

“Apa itu, semoga Allah merahmati jiwamu?”

“Umat Kristen,” kataku, “memiliki seorang pemimpin senior di Antiokh, yang mereka sebut Patriark, dan seorang lain di Baitul Maqdis, yang disebut Uskup. Mereka berdua punya pengaruh atas penguasa Bizantium. Mereka bahkan bisa menempatkan penguasa atau menurunkannya. Tidak ada raja yang dapat dinobatkan tanpa restu mereka, dan itu pun setelah dia berikrar setia, tunduk, dan hormat pada mereka. Bangsa Bizantium percaya, siapapun yang menentang salah satu dari dua ketua ini patut dinyatakan sebagai pelaku penistaan. Kedua kota itu ada dalam kekuasaan kita, dan kedua pemimpin keagamaan itu termasuk warga kita. Maka, maukah wazir menulis kepada para penguasa dua provinsi ini, meminta mereka mengutus seseorang kepada ketua-ketua berpengaruh ini, agar kita bisa memberitahu mereka bagaimana keadaan tawanan perang kita? Mereka akan tahu bahwa tidak sepatutnya raja-raja budiman memperlakukan tawanan dengan cara ini. Kita harus buat jelas kepada mereka bahwa mereka akan dianggap bertanggungjawab atas kelakuan buruk para penguasa Bizantium. Terus, kita lihat bagaimana mereka menangani masalah ini.”

Judul asli : The Byzantine Rulers and the Muslim Prisoners ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, July 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

  • Unduh

    Tawanan Muslim di Bizantium

  • Unduh

    Koleksi Sastra Klasik (2020)

No comments

Post a Comment