Skip to content
Kamar Siluman – Relift Media

Kamar Siluman

Aku merasa sendirian sekaligus ditemani. Keterpencilan tempat itu cukup nyata dalam keheningan, yang hanya dibuyarkan oleh gema dangkal langkahku, meski gema-gema ini mengilhamiku perasaan tak pasti bahwa aku tidak sendirian.



Cuaca hangat tak tertahankan. Matahari sudah lama pergi, tapi rasanya meninggalkan suasana panasnya yang vital. Hawanya tenang; dedaunan akasia yang menyelubungi jendela-jendelaku bergelantung seperti bandul pada tangkai rapuhnya. Asap cerutuku hampir tidak melayang ke atas kepala, tapi ber­gantung di sekitarku dalam kepulan biru pucat, yang terpaksa kububarkan dengan lambaian lesu tanganku. Kemejaku terbuka di leher, dadaku turun-naik susah payah demi menangkap sedikit udara segar. Hiruk-pikuk kota nampak terbungkus dalam tidur, dan dengingan nyamuk jadi satu-satunya suara yang memecah keheningan.

Selagi aku berbaring pada sandaran kursi dengan kaki ter­angkat, hanyut dalam kerangka berpikir khas itu di mana pikiran memikul sejenis gerakan tanpa nyawa, keinginan aneh mencengkeramku, keinginan untuk melakukan inventarisasi ogah-ogahan atas barang-barang perabot utama di kamarku. Tugas yang pas sekali dengan mood yang kurasakan. Wujud mereka remang-remang dalam cahaya senja redup yang melayang suram di kamar; tidak susah untuk mencatat dan merincinya satu persatu, dan dari tempatku duduk, aku bisa melihat semua barang milikku bahkan tanpa perlu memutar kepala.

Ada, pertama, litograf seram itu karya Calame. Hanya berupa noktah hitam di dinding putih, tapi mata batinku menyelidiki setiap detil gambar tersebut. Padang heather liar terpencil di tengah malam, dengan sebatang pohon ek angker di tengah-tengah latar depan. Angin berhembus kencang, dan dahan-dahan geriginya, dibalut tipis dengan dedaunan yang tumbuh buruk, terus tersapu ke kiri oleh kekuatan besarnya.

Arak-arakan awan tak berbentuk melintasi langit kelam, hujan menyapu hampir sejajar dengan cakrawala. Selebihnya, padang membentang menuju kegelapan tak berujung, yang di titik terjauhnya, entah angan atau seni telah membangkitkan wujud-wujud asing yang tampak naik ke angkasa. Di dasar ek raksasa itu berdiri sesosok berselubung. Mantelnya terbelit ketat pada tubuhnya karena hembusan keras, dan bulu ayam jantan panjang di topinya tertiup tegak lurus, sampai terasa seolah-olah berdiri ketakutan. Romannya tak kelihatan, dia mencengkeram jubah dengan dua tangan, dan ditariknya dari tiap sisi ke wajahnya. Gambar itu nampaknya tak mengandung maksud. Ia tak menyampaikan kisah, tapi ada kekuatan aneh darinya yang menghantui, dan untuk itulah aku membelinya.

Selain gambar ini ada bintik bulat yang bergantung di bawahnya; aku tahu itu topi merokok. Lambang keluargaku dibordir pada bagian depannya, dan karena itulah aku tak pernah memakainya; tapi bila dipasang sebagaimana mestinya di atas kepalaku, dengan rumbai sutera biru panjangnya bergelantung dekat pipiku, aku yakin itu cocok denganku. Aku ingat ketika barang itu dalam proses pembuatan. Aku ingat tangan-tangan mungil yang begitu cekatan menyusupkan sutera-sutera berwarna ke kain teregang pada bingkai bordir—aku ingat kesusahan yang kualami untuk mendapatkan tiruan berwarna dari emblem perisaiku untuk karya heraldik yang akan menghias bagian depan stripnya—kerutan mulut kecil, kernyitan dahi muda, saat si pemilik mulut dan dahi terjun ke dalam laut renungan bagaimana sebaiknya menggambarkan awan yang darinya tangan bersenjata, yakni jambulku, muncul—aku ingat momen surgawi ketika tangan-tangan mungil meletakkannya di atas kepalaku, dalam posisi yang tak sanggup kupikul lebih dari beberapa detik, dan aku, bagaikan raja, segera mengemban hak prerogatif kerajaan usai penobatan itu, dan seketika itu juga memungut pajak dari rakyatku yang tak mau dibayar. Ah! topinya di sana, tapi bordiran sudah lenyap; sebab Atropos memotong jaring kehidupan di atas kepalanya sambil merajut naungan sutera itu untukku!

Judul asli : The Lost Room ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2020
Genre :
Kategori :

Unduh

No comments

Post a Comment