Skip to content
Kulit Rubah – Relift Media

Kulit Rubah

Kulit rubah itu menjadi barang kesayangan Arni dari Bali. Setiap hari, ketika cuaca cerah, dia akan menggantungnya, setelah dilicinkan dan disisir rapih, pada tembok luar, dan saat meninggalkan rumah, dia menyimpannya hati-hati di tempat aman.


“Tak usah pusing-pusing mengunci pintunya,” kata Arni dari Bali bicara sendiri sambil melilit paku yang tertancap ke dalam kusen pintu kandang domba terpencil. Lantas dia berputar, mengeluarkan saputangan, dan menempelnya ke hidung, mengingus hebat. Setelah selesai, dia melipat saputangannya kembali, menyeka mulut dan hidung, dan mengeluarkan tanduk tembakau.

Cuacanya enak sekali, pikir Arni. Sekarang rubah jelek itu tidak akan mendekati kandang-kandang domba atau rumah-rumah. Persetan jangatnya! Ya, makhluk itu sudah membuat malam-malamnya terjaga. Semua petani tetangga punya keberuntungan konyol untuk menangkap seekor rubah setiap musim dingin. Semua kecuali dia. Dia bahkan tak mampu melukai rubah betina, dan seumur hidup belum pernah menangkap rubah apapun. Bukankah asyik membawa pulang kulit bulu cokelat gelap, dengan rambut atas halus? Ya, bukankah itu asyik? Arni menggeleng girang, mendehem penuh semangat, dan mengambil secubit tembakau.

Membelokkan langkah kakinya ke arah rumah, dia tertatih-tatih dengan tubuh setengah bungkuk, seperti kebiasaannya, dan tangan di belakang punggung. Saat mendongak, dia tidak berdiri tegak, tapi menekuk lehernya ke belakang sehingga kepalanya berada di antara kedua belikat. Terus mata merahnya seolah-olah mau meletup dari kepalanya, janggut merah gelapnya naik ke atas seakan berusaha membebaskan diri dari akarnya, dan hidung ungu dan tulang pipi merah tuanya menonjol.

Tanahnya lumayan bagus, pikir Arni. Sekurangnya tidak sulit untuk bepergian antara kandang-kandang domba dan rumah. Keadaan cukup sunyi sekarang. Domba-domba meng­urus diri sendiri pada siang hari, dan makan rumput berlimpah sepanjang pantai dan di lereng bukit. Tak ada alasan untuk tidak mengintai sampai larut malam, sesekali, dengan harapan menangkap seekor rubah; dia tidak terlalu capek untuk itu. Tapi dia sudah meninggalkan aksi semacam itu. Itu hanya membawa kekesalan dan kesusahan. Lagipula, dia sudah bilang pada setiap orang, menurutnya tak ada gunanya membuang-buang waktu untuk hal-hal seperti itu dan mungkin menjemput ajalnya sebagai tambahan. Tuhan tahu itu cuma pura-pura. Delapan puluh crown untuk kulit rubah cokelat gelap nan indah adalah uang yang lumayan! Tapi orang harus mengarang sesuatu sebagai penjelasan, cara mereka mengungkit-ngungkit perburuan rubah: Bjarni dari Fell menangkap seekor rubah betina putih dua malam sebelumnya, atau Einar dari Brekka menangkap seekor rubah jantan cokelat kemarin. Atau kalau seseorang pergi sebentar ke rumah tetangga: Ada yang berburu? Ada yang menembak rubah? Si Gisli ini menangkap seekor rubah cokelat keabuan tadi malam. Ocehan tak putus-putus semacamnya!

Nafas Arni kepayahan. Tidakkah cukup seorang pria mencari nafkah dengan jujur? Toh, pekerjaan atau pencapaian yang tidak membawa kebahagiaan tidak diberkahi. Pada saat ini Samur melesat. Arni pikir anjing itu sudah meninggalkannya dan bergegas pulang. Sekarang ada apa gerangan dengan makhluk itu?

“Tak tahu malu kau, anjing kampung sial! Tak bisakah kau tenang sebentar, dasar hewan? Mau kupukul?” tanya Arni, membuat gestur mengancam pada Samur, anjing berbintik-bintik hitam dengan rambut jelek kusut. Tapi Samur melesat pergi, lari merengek; sesekali ia berhenti dan menoleh balik pada tuannya, sampai akhirnya ia menghilang di balik batu besar.

“Kemasukan apa binatang itu? Apa dia tak bisa menemukan jejak rubah?”

Judul asli : The Fox Skin ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2019
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment