Skip to content
Duel – Relift Media

Duel

“Andai aku pegang komando, aku pasti sudah merebut Paris, membakar semuanya, membunuh semua orang. Tak ada lagi Prancis! Dalam dua puluh tahun, seluruh Eropa, seluruhnya, akan jadi milik kami. Prusia bukan tandingan buat mereka semua.”


Perang sudah usai. Jerman menduduki Prancis. Seluruh negeri berdebar-debar seperti pegulat takluk di bawah lutut lawannya.

Kereta-kereta pertama dari Paris, Paris yang linglung, lapar, putus asa, sedang melaju menuju garis-garis perbatasan baru, pelan-pelan melintasi distrik-distrik dan desa-desa. Lewat jendela, para penumpang memandang ladang-ladang binasa dan dusun-dusun terbakar. Prajurit-prajurit Prusia, dalam topi baja hitam berpakis kuningan, sedang mengisap pipa sambil mengangkang di atas kursi di depan rumah-rumah yang masih berdiri. Yang lain bekerja atau bercengkerama seolah-olah mereka anggota keluarga. Saat melintasi kota-kota kecil, kau lihat seluruh resimen sedang berlatih di alun-alun, dan, terlepas dari bunyi gerabak-gerubuk roda kereta kuda, setiap saat kau bisa dengar kata-kata serak komando.

M. Dubuis, yang sepanjang pengepungan bertugas sebagai anggota Garda Nasional di Paris, hendak bergabung dengan isteri dan puterinya, yang dengan bijaknya telah dia kirim ke Swiss sebelum invasi.

Kelaparan dan kesulitan tidak mengurangi perut gendutnya yang sangat mencirikan saudagar kaya cinta damai. Dia sudah melewati peristiwa-peristiwa buruk setahun ini dengan pasrah dan keluhan getir akan kebuasan manusia. Kini saat melakukan perjalanan ke garis perbatasan di pengujung perang, baru kali ini dia melihat orang-orang Prusia, meski sudah bertugas di benteng-benteng dan berjaga di banyak malam dingin.

Dengan takut bercampur marah dia memelototi orang-orang bersenjata berjanggut yang ditempatkan di seluruh tanah Prancis seolah-olah mereka sedang di rumah sendiri, dan dalam jiwanya dia merasakan semacam demam patriotisme tak bertenaga, serta perlunya insting kehati-hatian baru yang sejak saat itu tak pernah meninggalkan kami.

Dalam gerbong yang sama terdapat dua orang Inggris, yang datang ke negeri ini sebagai pelancong dan sedang mengamati sekeliling mereka dengan tatapan penasaran. Mereka berdua juga begap, dan terus mengobrol dalam bahasa mereka sendiri, kadang merujuk pada buku panduan, dan membaca nyaring nama-nama tempat yang ditandai.

Tiba-tiba kereta berhenti di sebuah stasiun desa, dan seorang perwira Prusia melompat naik dengan gemerincing mandaunya ke atas papan ganda penyeberang gerbong. Dia jangkung, mengenakan seragam ketat, dan bercambang sampai ke mata. Rambut merahnya tampak menyala-nyala, dan kumis panjangnya berwarna pucat, menonjol pada kedua sisi wajah, yang dibelahnya menjadi dua.

Judul asli : A Duel
Un Duel
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, June 2019
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment