Skip to content
Sendok dan Cambuk – Relift Media

Sendok dan Cambuk

Ada seorang pria beristeri dua: yang satu melahirkan dua anak, yang satu lagi tidak beranak, kecuali anak orang lain yang tinggal bersamanya. Dia tidak menyukai si isteri yang melahirkan, tapi menyukai si isteri yang tidak melahirkan.


Ada seorang pria beristeri dua: yang satu melahirkan dua anak, yang satu lagi tidak beranak, kecuali anak orang lain yang tinggal bersamanya. Dia tidak menyukai si isteri yang melahirkan, tapi menyukai si isteri yang tidak melahirkan.

Suatu hari kelaparan menimpa mereka. Maka dia pergi ke semak-semak dan menemukan makanan. Dia menolak berbagi dengan isteri beranak dan memberikannya kepada isteri tak beranak. Mereka berdua makan; dan selalu demikian. Suatu hari dia pergi ke semak-semak dan menemukan telur ayam guinea, jumlahnya dua puluh butir. Kemudian dia memanggil isteri yang tidak dia cintai dan menyuruhnya memilih telur paling besar. Maka sang isteri mengambil satu, lalu pergi merebusnya, dan memberikannya kepada anak-anak untuk dimakan. Dan pada hari itu dia juga pergi ke semak-semak, dan menemukan jagung, dan mengaduknya menjadi bubur sumsum.

Lantas dia memanggil suaminya dan berkata, “Coba periksa kuku-kukumu. Masukkan yang paling besar ke dalam periuk, terus jilat. Habis itu kau bangun dan tinggalkan selebihnya untuk anak-anak.”

Maka dia mulai memeriksa kuku-kukunya. Dia membolak-balik mereka, berkata, “Yang mana yang harus kumasukkan?” dan dia terus-menerus bilang, “Inikah atau itukah?” Tapi selama itu satu tangannya sedang berada di antara dua kakinya untuk melonggarkan penutup pinggang kulit. Lalu cepat-cepat dia membukanya, dan mencelupkan tangan ini ke dalam bubur di periuk ketika mata isterinya berpaling ke arah lain.

Lalu dia berdiri dan bilang, “Aku sudah masukkan satu kuku.”

Sang isteri berkata, “Kau akan dihinakan karena ini,” dan menahan diri dari berkata apa-apa lagi. Lain hari dia pergi ke semak-semak, dan melihat sebuah sendok dan terus berlalu. Tapi si sendok berkata, “Kenapa kau terus berlalu tanpa memberi salam padaku?”

Maka dia berkata, “Salam untukmu.”

Sendok menyahut, “Salam.”

Lalu wanita ini hendak meninggalkannya, dan terus berlalu, tapi sendok berkata, “Kau tidak mau tanya namaku?”

Maka dia berkata, “Siapa namamu?”

Sendok menjawab, “Namaku adalah Tolong Aku.”

Sang wanita tidak berbicara lagi dan hendak berlalu, tapi sendok berkata, “Kau tak mau tanya namaku?”

Maka dia berkata, “Siapa namamu?”

Sendok menjawab, “Namaku adalah Tolong Aku.” Dan melanjutkan, “Ucapkan juga, ‘Tolong aku agar aku bisa mencicipi.’”

Dia ikut berkata, “Tolong aku agar aku bisa mencicipi.”

Maka sendok berkata, “Bawa calabash milikmu.”

Jadi dia membawa calabash-nya. Kemudian si sendok terus mengisinya dengan makanan; ia menuanginya sampai penuh.

Dia pulang, mengeluarkannya, dan memberikannya kepada sang suami, dan sisanya dimakan oleh dia sendiri dan anak-anaknya.

Keesokan hari suaminya datang dan berkata, “Demi Allah, di mana kau dapat makanan itu?”

Dia menjawab, “Aku dapat uang, aku lihat padi-padian, aku membelinya, menumbuknya, dan membuat makanan.”

Dan si suami berkata, “Baiklah.” Lantas dia berdiri dan pergi meninggalkannya.

Dia ikut bangkit, mengangkat calabash dan pergi menuju semak-semak di mana sendok berada. Dia datang ke sana dan berkata kepadanya, “Siapa namamu?”

Sendok menjawab, “Namaku Tolong Aku.”

Dia berkata, “Tolong aku agar aku bisa mencicipi.”

Maka sendok mulai menuangkan makanan untuknya hingga calabash penuh.

Judul asli : How the Whip and the 'Maara' Spoon Came to the Haunts of Men ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, September 2018
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment