Skip to content
Duel Andalusia – Relift Media

Duel Andalusia

Mereka berdua sudah membelah udara beberapa kali dengan lanset tersebut; mantel mereka terbelit pada lengan kiri; pertama mendekat, terus mundur, kini lebih berani dan melambung.


Melintasi alun-alun kecil St. Anna, menuju sebuah kedai minuman di mana anggur terbaik di Sevilla ditenggak, berjalan dalam langkah terukur dua pria yang gelagatnya jelas-jelas menjelmakan tanah tempat mereka lahir. Dia yang berjalan di tengah-tengah jalan raya, lebih jangkung sekitar satu jari dari yang lain, memamerkan topi slouch Ecija lebar sambil pura-pura cuek, dilengkapi rumbai-rumbai manik kaca dan pita sehitam dosa-dosanya. Dia memakai mantel yang dilipatkerut di bawah lengan kiri; bagian kanan, timbul dari pelapis biru kehijauan, menyingkap kulit domba meriono dengan gesper perak. Sepatu penggembala (putih, dengan kancing-kancing Turki), celana berkilat merah dari bawah mantel dan menutupi lutut, dan terutama penampilan tangguh dan tegapnya, rambut keriting gelapnya, dan mata bagai batu bara merah pijar, mengumumkan dari kejauhan bahwa semua kombinasi ini milik salah satu dari mereka yang menghentikan kuda di antara lutut dan melelahkan banteng dengan lembing.

Dia berjalan terus, berdebat dengan rekannya, yang secara fisik agak hemat ketimbang boros, tapi ajaibnya luwes dan supel. Orang kedua ini beralaskan sepatu rendah. Ikat garter menyatukan stoking dengan celana biru cerah. Rompinya berwarna rotan, ikat pinggangnya hijau cerah, dan simpul bahu yang wah, juga kelepak, dan barisan kancing menghiasi jaket Carmelite. Mantel terbuka, topi yang ditarik ke kuping, langkah pendek ceria, dan manifestasi pada semua tungkai serta gerak tangkas dan lenturnya menunjukkan bahwa di gelanggang, dengan kain merah tua di tangan, dia akan memperolok banteng Jarama paling kesetanan, atau hewan bertanduk terbaik dari Utrera.

Aku—yang memuja dan mati demi orang-orang semacam itu, meski pujian tidak akan berbalas—berjalan pelan-pelan di belakang para Yang Mulia ini, dan, tak sanggup menahan diri, masuk bersama mereka ke kedai minuman yang sama, atau lebih tepatnya rumah makan, karena di sana mereka menyuguhkan minuman keras selain anggur, dan aku, seperti pembaca simak, suka menyebut benda-benda sesuai nama sebenarnya. Aku masuk dan langsung duduk sedemikiran rupa agar tidak mengganggu Oliver dan Roland, dan agar mereka tidak menyadari keberadaanku. Lalu aku melihat, seolah-olah merasa hanya berdua, mereka saling merangkul dengan gestur bersahabat, dan mengawali percakapan mereka:

“Pulpete,” kata si jangkung, “karena kita akan saling berpisau—kau di sini, aku di sana—satu, duasiap—triz, trazambil ituterima ini dan sebut saja sesukamu—ayo minum dulu segelas bir untuk musik dan irama beberapa lagu.”

“Señor Balbeja,” jawab Pulpete, memalingkan muka dan meludah dengan sangat rapi dan elegan ke arah sepatu, “aku bukan tipe pria untuk La Gorja atau urusan duniawi lain, atau karena lidah baja tersarung di tubuhku, atau esofagusku tergorok, atau gara-gara hal sepele lain, untuk terhasut atau kesal oleh teman semacam Balbeja. Bawakan anggurnya, dan kemudian kita akan bernyanyi; dan habis itu darah—darah sepuas-puasnya.”

Perintah diberikan, mereka bersulang, dan, sambil menatap satu sama lain, menyanyikan sebuah lagu Sevilla.

Sesudah itu, mereka melepas mantel dengan anggun, dan menghunuskan pisau untuk saling menusuk. Yang satu adalah pisau Flandria bergagang putih, yang satu dari Guadix dengan pengaman sampai ke pangkal. Kedua bilah menyilaukan, ditajamkan dan digerinda cukup jeli untuk membedah katarak, jangankan merobek perut dan usus. Mereka berdua sudah membelah udara beberapa kali dengan lanset tersebut; mantel mereka terbelit pada lengan kiri; pertama mendekat, terus mundur, kini lebih berani dan melambung—tapi tiba-tiba Pulpete mengibarkan bendera untuk rembukan, dan berkata:

Judul asli : The Andalusian Duel
Pulpete y Balbeja
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, November 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment