Skip to content
Dua Pejabat – Relift Media

Dua Pejabat

Kedua Pejabat tertunduk. Apapun yang mereka jumpai, ada kaitannya dengan makan. Bahkan pikiran mereka sendiri gawat. Tak peduli seberapa keras mereka berusaha menjauhkan benak mereka dari daging bistik dan semacamnya, semua sia-sia.


Dahulu kala ada dua Pejabat. Dua-duanya berotak kosong, dan karenanya mereka merasa suatu hari tiba-tiba diangkut ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni, bagaikan di atas karpet ajaib.

Mereka telah melewati seluruh hidup mereka di sebuah Departemen Pemerintah, tempat arsip-arsip disimpan; lahir di sana, berkembangbiak di sana, menua di sana, dan alhasil tidak paham sama sekali tentang apapun di luar Departemen; dan satu-satunya perkataan yang mereka tahu adalah: “Dengan jaminan takzim tertinggi, hamba adalah pelayanmu yang hina.”

Tapi Departemen itu dihapus, dan karena jasa kedua Pejabat tak lagi diperlukan, mereka pun diberi kemerdekaan. Maka para pensiunan Pejabat ini bermigrasi ke Podyacheskaya Street di St. Petersburg. Masing-masing punya rumah sendiri, koki sendiri, dan uang pensiun.

Bangun di pulau kecil tak berpenghuni, mereka mendapati diri mereka berbaring di bawah selimut yang sama. Tentu saja awalnya mereka tak mengerti apa yang telah menimpa mereka, dan mereka bercakap-cakap seolah tidak terjadi sesuatu yang luar biasa.

“Aku mimpi aneh semalam, Paduka,” kata Pejabat satu. “Seolah-olah aku berada di sebuah pulau tak berpenghuni.”

Baru saja mengucapkan kata-kata itu, dia lompat berdiri. Pejabat lain ikut lompat.

“Astaga, apa maksudnya ini! Di mana kita?” teriak mereka keheranan.

Mereka meraba satu sama lain untuk memastikan mereka tidak lagi bermimpi, dan akhirnya yakin akan kenyataan pilu itu.

Di hadapan mereka terhampar samudera dan di belakang mereka terdapat sebintik tanah kecil, yang di baliknya terhampar lagi samudera. Mereka mulai menangis—pertama kali sejak Departemen mereka ditutup.

Mereka memandang satu sama lain, dan masing-masing melihat bahwa rekannya hanya berbalut baju tidur dengan tanda jasa tergantung di leher.

“Harusnya kita sedang minum kopi sekarang,” tinjau Pejabat satu. Lalu dia kembali memikirkan situasi aneh itu dan untuk kedua kalinya berderai air mata.

“Apa yang akan kita perbuat sekarang?” isaknya. “Kalaupun kita menyusun laporan, apa gunanya?”

“Kau tahu, Paduka,” sahut Pejabat lain, “kau pergi ke timur dan aku akan pergi ke barat. Menjelang malam kita akan kembali ke sini dan, bisa jadi, kita sudah menemukan sesuatu.”

Mereka mulai memastikan mana timur dan mana barat. Mereka ingat, kepala Departemen pernah bilang, “Kalau kalian ingin tahu di mana timur, palingkan wajah kalian ke utara, dan timur akan ada di sebelah kanan kalian.” Tapi pada saat mereka coba menemukan mana utara, mereka berpaling ke kanan dan ke kiri dan melihat ke segala sisi. Setelah menghabiskan seluruh hidup mereka di Departemen Arsip, usaha mereka sia-sia belaka.

“Menurut pikiranku, Paduka, sebaiknya kau pergi ke kanan dan aku ke kiri,” kata Pejabat satu, yang telah mengabdi bukan saja di Departemen Arsip, tapi juga menjadi guru menulis di Sekolah Tentara Cadangan, dan karenanya sedikit lebih pintar.

Diucapkan, dikerjakan. Pejabat satu pergi ke kanan. Dia menjumpai pepohonan, yang menghasilkan segala jenis buah-buahan. Dengan gembira dia ingin memetik sebuah apel, tapi mereka semua bergelantung terlalu tinggi sehingga dia harus memanjat. Dia coba memanjat dan gagal. Yang berhasil dia lakukan adalah mengoyak baju tidurnya. Lalu dia menemukan selokan. Penuh dengan ikan.

“Betapa indahnya kalau semua ikan ini ada di Podyacheskaya Street!” pikirnya, dan mulutnya berliur. Lalu dia masuk ke hutan dan menemukan ayam hutan, burung belibis, dan kelinci.

Judul asli : How a Muzhik Fed Two Officials
Повесть о Том, Как Один Мужик Двух Генералов Прокормил
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, October 2017
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment