Skip to content
Restoran Berhantu – Relift Media

Restoran Berhantu

Selagi aku duduk melamun di sana sambil terus makan, satu dua wajah mengkilas di depanku, kenangan demi kenangan terputar ulang dalam teater anganku. Begitu banyak di sekitarku menghadirkan kembali masa lalu dengan kejelasan menyakitkan.


Andai seseorang bilang kepada para pemilik restoran makmur dan flamboyan yang sedang kupikirkan bahwa itu berhantu—ya, bahwa para hantu duduk di meja-meja ber­perabot bagus, dan suara-suara lenyap itu tertawa dan meratap dan bersenandung di ruang-ruangnya—boleh jadi mereka akan menganggapnya orang gila, seorang pelayan rembulan.

Sudah pasti, secara penampilan, banyak tempat terasa lebih membisikkan kata “berhantu” dibanding restoran ini tatkala kita jumpai di salah satu jalan tersibuk London, yang menyebarkan silaunya pesta muka bangunan berhias elektris sejauh berblok-blok bagaikan kebakaran besar. Tapi tak ada mansion rusak, dengan rembulan menyorot masuk lewat atap retak, burung hantu bersarang di aula perjamuan, dan ular berlalu di antara kamar-kamar tidur, yang didiami lebih banyak hantu ketimbang istana makan malam riang berseri-seri ini, bergemakan gumaman gembira para peserta makan malam, nada sukaria orkestra penuh semangat, benturan redam pisau-pisau dan garpu dan piring rapuh, desiran gaun wanita dan musik peri suara wanita. Bagiku, serambi portico-nya—menyala seperti pusaran cahaya memusingkan, yang di lantainya, sebagaimana di arus deras, pria dan wanita riang turun dari motor dan taksi kuda—terbentang ke dalam hingga meja-meja gemerlap bertaplak seputih salju, cantik oleh bunga-bunga. Bagiku, mulut kuburan tidak kurang menyeramkan, dan dinding-dinding makam tidak terlalu berlukiskan wajah orang mati atau berpahatkan kenangan pedih. Aku bisa habiskan semalaman di Père-la-Chaise dan tetap kurang menyadari kehadiran orang mati dibanding beberapa saat lalu, ketika, dengan nekatnya, kulintasi ambang pintu yang dulu begitu akrab sambil merinding.

Sudah dua belas tahun berlalu sejak aku datang ke London. Jadi aku sendiri merasa seperti hantu, dan aku tahu betul tak ada gunanya mencari wajah-wajah lama. Ya, tiada sudah si bongsor penjaga pintu baik hati, yang dulu sering membukakan bagian depan taksi kami dengan kecekatan penuh takzim setibanya aku bersama sang kembang manusia, dan sewaktu kami pergi, menyingsingkan daun-daun rok milik kembangku dengan lembut, seraya memasang senyum pemberkatan penuh hormat atas prospek kelanjutan petualangan malam kami. Seseorang telah mengisi posisinya, dan memperhatikan kedatangan sendiriku dengan sikap acuh tak acuh. Melirik ke dalam jendela kantor bendahara di sebelah kanan lobi, terlihat seorang sosok tak familiar sedang duduk di meja, di mana dulu begitu banyak cek diuangkan untukku dengan sikap bersahabat. Kini aku berpikir, sedikit pengenalan diperlukan untuk transaksi yang dahulunya santai. Betul, aku disambut dengan sopan-santun oleh kepala pelayan, tapi celaka, sambutan untukku adalah sambutan untuk orang asing. Dan pada saat naik tangga bertembok marmer dan penuh hiasan yang menuntun ke selasar tempat duduk kesukaanku, aku sadar topi dan tongkatku harus beralih ke penjagaan asing, dan tak ada wajah pelayan yang akan berbinar begitu melihatku menyusupi jalan menuju meja sakral, terpencil di pojok balkon, di mana aku bisa lihat dan dengar semuanya, berpartisipasi dalam keributan dan suasana khalayak ramai, tapi tetap terpisah.

Ah! Tidak. Si ramah Cockney yang dulu menyambutku dengan rangkulan kebapakan digantikan oleh orang yang bahasa Inggris-nya jelek dan logatnya kurang bersahabat. Seorang pemuda Yunani sopan berdiri menanti pesananku dengan penuh hormat, tidak tahu apa maknanya bagiku—aku—duduk di meja itu lagi. Sebaliknya, andai dia salah satu dari setengah lusin pelayan tahun kemarin, tentu tahu “memoar rahasia” meja itu, hampir sebanyak yang kutahu.

Judul asli : The Haunted Restaurant ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment