Skip to content
Jejak Gorne – Relift Media

Jejak Gorne

Ada salju di sini, menceritakan kejadiannya; dan salju itu jelas-jelas mengatakan, pasca pergulatan, pasca tiga tembakan, seseorang berjalan sendirian dan meninggalkan perkebunan, satu orang saja, dan jejak kakinya bukan jejak Mathias de Gorne.


Kau pasti berpikir aku tak tahu terima kasih. Sudah tiga pekan aku di sini; dan kau belum terima satu surat pun dariku! Belum ada kata terima kasih! Tapi akhirnya aku sadar kau telah menyelamatkanku dari kematian gawat dan aku paham rahasia urusan gawat itu! Tapi sungguh, sungguh apa boleh buat! Kondisiku lesu setelah semua itu! Aku butuh istirahat dan kesendirian! Apa aku akan tinggal di Paris? Apa aku akan meneruskan ekspedisi bersamamu? Tidak, tidak, tidak! Sudah cukup aku bertualang! Petualangan orang lain sangat menarik, kuakui itu. Tapi kapan seseorang menjadi korban dirinya sendiri dan nyaris tidak selamat?... Oh, sobat, betapa buruknya itu! Aku takkan pernah lupa...

Di sini, di La Roncière, aku menikmati kedamaian teragung. Sepupuku yang perawan tua, Ermelin, menimang dan memanjakanku seperti penyandang cacat. Kudapatkan kembali warna hidupku dan aku sangat sehat, secara jasmani...bahkan aku tak pernah terpikir lagi untuk memperhatikan urusan orang lain. Tak pernah lagi! Contohnya (kuceritakan ini hanya karena kau keras kepala, tetap penasaran seperti wanita tukang sapu, dan selalu siap menyibukkan diri dengan hal-hal yang bukan urusanmu), kemarin aku hadir di sebuah pertemuan aneh. Antoinette membawaku ke losmen di Bassicourt, di mana kami minum teh di ruang publik, di antara para petani (waktu itu hari pasar). Lantas kedatangan tiga orang, dua pria dan satu wanita, menyebabkan percakapan terhenti seketika.

Salah satu dari pria tersebut adalah petani gemuk dengan blus panjang. Wajahnya merah riang, berbingkai jambang putih. Pria satu lagi lebih muda, bersetelan korduroi dan berparas kurus kuning dan degil. Masing-masing menyandang senapan di pundak. Di antara mereka terdapat gadis pendek langsing, bermantel cokelat dan bertopi bulu. Mukanya agak tipis dan amat pucat, luar biasa lembut dan tampak mulia.

“Ayah, anak lelaki, dan menantu perempuan,” bisik sepupuku.

“Apa! Mungkinkah sosok mempesona itu isterinya si jelek?”

“Dan menantu Baron de Gorne.”

“Pak tua di sana itu seorang baron?”

“Ya, keturunan sebuah keluarga ningrat kuno yang di zaman dulu punya kastil. Dia selalu hidup seperti petani: pemburu hebat, peminum hebat, penggugat hebat, selalu berperkara dengan seseorang, kini nyaris hancur. Puteranya, Mathias, lebih ambisius dan kurang tertarik pada tanah dan belajar untuk menjadi barister. Terus dia pergi ke Amerika. Kekurangan uang membawanya pulang ke desa, lalu jatuh cinta pada seorang gadis belia di kota terdekat. Gadis malang itu bersedia menikah dengannya, tak ada yang tahu kenapa; dan selama lima tahun ini dia menjalani hidup petapa, atau lebih tepatnya tawanan, di rumah manor mungil dekat-dekat sini, Manoir-au-Puits, Well Manor.”

“Bersama ayah dan anak lelaki itu?” tanyaku.

“Tidak, ayahnya tinggal di ujung desa, di perkebunan sepi.”

“Dan Tuan Mathias pencemburu?”

“Harimau sempurna!”

“Tanpa alasan?”

“Tanpa alasan, berhubung Natalie de Gorne wanita paling lurus di dunia ini, dan bukan salahnya jika seorang pemuda tampan berkeliaran di sekitar rumah manor selama beberapa bulan terakhir. Namun, keluarga de Gorne tak bisa mengatasi­nya.”

“Apa, sang ayah juga?”

“Pemuda tampan itu keturunan terakhir keluarga pembeli kastil dahulu kala. Ini menjelaskan kebencian lama de Gorne. Jérôme Vignal—aku kenal dia dan sangat menyukainya—adalah pria rupawan dan kaya; dan dia sudah bersumpah untuk minggat bersama Natalie de Gorne. Pak tua itu sendiri yang bilang, setiap kali terlalu banyak minum. Nah, dengar!”

Judul asli : Footprints in the Snow
Des Pas sur la Neige
()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, May 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment