Skip to content
Pembunuhan Kingscote – Relift Media

Pembunuhan Kingscote

Saku-sakunya diram­pok, arloji dan rantainya hilang, beserta satu atau dua barang kecil lain yang berharga. Pada malam tragedi, seorang teman duduk merokok bersamanya di ruangan tempat pembunuhan, dan dia orang terakhir yang melihat Tn. Kingscote.


Aku sudah bekerja dua kali lipat selama sebulan: malam­nya mengerjakan koran pagi seperti biasa, dan paginya mengerjakan koran malam sebagai pengganti sementara untuk seseorang yang berlibur. Skema kerja ini melelahkan, walaupun sebetulnya hanya mengharuskan enam jam hadir per hari, atau kurang, di dua kantor. Aku tiba di kantor pusat suratkabarku sendiri pada pukul sepuluh malam. Selepas menjumpai editor, menyeleksi tema, menulis kepada pimpinan, meralat naskah, berbincang, merokok, dan seterusnya, lalu pergi, biasanya waktu menunjukkan pukul satu. Ini berarti tidur jam dua atau bahkan tiga usai makan kudapan di klub.

Ini semua tak apa-apa di masa biasa, saat aku bisa bangun jam berapa saja di pagi hari. Tapi saat aku harus bangun lagi jam tujuh, dan hadir di kantor koran malam jam delapan, tentunya wajar aku sedikit letih dan muak dengan segalanya menjelang tengah hari, usai dua jam menulis editorial ringkas dan menyusun paragraf, muak dengan serba-serbi yang meng­iringi.

Tapi ketegangan itu sudah berlalu. Di hari santai pertama, aku memperturutkan hasrat dengan sarapan di tengah hari dan untuk pertama kalinya melirik koran pagi tanpa rasa muak. Aku agak tertarik oleh sebuah pemeriksaan resmi, yang dimulai kemarin, terhadap jasad seorang pria yang sedikit kukenal sebelum aku mulai tinggal di flat.

Namanya Gavin Kingscote. Dia seniman tipe iseng dan tak menentu. Kalau tak salah dia punya sedikit harta pribadi. Sebetulnya, dia indekos di rumah yang sama dengan tempatku tinggal selama beberapa waktu. Tapi karena waktu itu aku sering pulang larut, bangun lebih awal, dan jarang makan di rumah, kami tak pernah saling kenal. Setahuku, sejak saat itu dia membuat beberapa spekulasi Bursa Saham yang bijak, dan telah mendirikan rumah di Finchley.

Kini tersebar berita bahwa dia ditemukan terbunuh pada suatu pagi di ruang merokoknya, sementara ruangan itu sendiri dan lainnya dalam kondisi kacau-balau. Saku-sakunya diram­pok, arloji dan rantainya hilang, beserta satu atau dua barang kecil lain yang berharga. Pada malam tragedi, seorang teman duduk merokok bersamanya di ruangan tempat pembunuhan, dan dia orang terakhir yang melihat Tn. Kingscote masih hidup. Seorang tukang kebun lepas, yang menata taman dengan pekerjaan tak tetap dari waktu ke waktu, ditahan akibat jejak kaki yang sama persis dengan sepatunya, yang ditemukan di petak bunga dekat jendela Prancis ruang merokok.

Aku sudah selesai dengan sarapan dan koran. Ny. Clayton, pengurus rumah, datang untuk membereskan meja. Dia adik dari pemilik rumah di mana aku dan Kingscote pernah tinggal. Melalui koneksi inilah aku mendapatkan flatku. Aku belum bertemu dengannya sejak kejahatan tersebut pertama kali diberitakan. Maka aku berkata:

“Kabar Tn. Kingscote ini mengejutkan sekali, Bu Clayton. Apa kau mengenalnya?”

Rupanya dia sudah menunggu teguran ini untuk meng­hamburkan informasi apapun yang dimilikinya.

“Ya, tuan,” serunya, “memang mengejutkan. Anak muda yang malang! Kami sering bertemu saat aku berada di tempat kakakku, dan dia selalu bersikap baik, tenang, beda sekali dari yang lain. Kakakku, dia sangat sedih, tuan, kujamin. Dan menurutmu apa yang terjadi, tuan, Selasa lalu? Kau ingat kamar Tn. Kingscote di mana dia melukis kayu-kayu rumah begitu indahnya dengan bunga-bunga emas, biru, dan merah muda? Dia biasa berkata pada kakakku bahwa lukisan itu akan selalu mengingatkannya. Well, dua pemuda, entah siapa nama mereka, datang dan menyewa kamar tersebut (yang memang disewakan), lalu menggores semua lukisan dengan jailnya, dan memotong-motong semua panel! Sungguh baik mereka itu! Mereka kabur di pagi hari, kurasa takut diminta membayar ganti setelah memperlakukan properti milik janda malang dengan cara seperti itu. Kejadiannya baru Selasa lalu, dan esok harinya anak muda itu tewas, dibunuh di rumahnya sendiri, padahal dia akan menikah! Kasihan, kasihan! Aku ingat, dia pernah bilang—”

Judul asli : The Ivy Cottage Mystery ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, March 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment