Skip to content
Misi Moore – Relift Media

Misi Moore

Dia melukiskan dirinya sebagai pecundang, padahal pahlawan. Imajinasinya memperbesar bahaya tak kasat mata, tapi daya cipta ini juga yang mengajarinya momen tepat untuk menyerang.


“Mampus, mampus, mampus, mampus. Isterimu pengantin. Isterimu pengantin. Mampus, mampus, mampus, mampus. Isterimu pengantin, isterimu pengantin.”

Lirik geram dipalu berulang-ulang ke dalam otak Newton Moore oleh gemerincing dan gemuruh lintasan mengkilat. Corengan emas dan merah tua, diselimuti awan uap, melaju di atas logam putih perak—jalur berapi-api yang orang sebut South East European Express.

Suara mesin kompon besar berkata demikian kepada Newton Moore. Bagaimanapun dia akan mampus, dan bukan­kah isterinya masih pengantin? Abdi British Secret Service Fund paling berharga dan terpercaya ini telah mengecup bibir isterinya satu kali, lalu memalingkan paras pucatnya ke Timur atas perintah pimpinan.

“Ini tugas tersulit yang pernah kau dapat,” kata Sir Gresham Welby kepadanya. “Tapi apapun yang terjadi, kau harus urus ini sampai tuntas, atau akan bernasib seperti Rigby, Long, dan Mercer. Kau leluasa, dan seluruh sumber daya Secret Service Fund mendukungmu.”

Moore merinding. Dia pria yang dikutuk dengan imajinasi gamblang. Teror gaib senantiasa mematahkan keberaniannya. Tapi saat berhadap-hadapan dengan bahaya dia menjulang jaya di atas keadaan. Dia melukiskan dirinya sebagai pecundang, padahal pahlawan. Imajinasinya memperbesar bahaya tak kasat mata, tapi daya cipta ini juga yang mengajarinya momen tepat untuk menyerang.

“Apa kau pantas untuk tugas ini?” tanya Sir Gresham tiba-tiba.

Di matanya Moore tampak kurus dan pucat. Kacamata jepit memberinya kesan keringanan.

“Setahuku tak ada staf lain yang mampu melakukannya,” sahutnya. “Dan ini bukan perkara biasa. Tiga orang terbaik yang kita miliki dibunuh secara misterius, dan kita belum dapat solusi. Tapi tak banyak yang bisa dicaritahu.”

“Aku sependapat denganmu, Moore. Kita hampir siap men­jamin integritas Pangeran Boris dari Contigua, tapi kita tahu Rusia memanfaatkan Istana dan provinsi untuk menimbulkan ketidakpuasan di perbatasan India, dan mengirim senjata kepada rakyat Mancunis. Kalau ini tak dihentikan, tak lama lagi kita akan menghadapi masalah amat serius di India. Isyarat-isyarat juga tak menghendaki rakyat Contigua dihasut melawan Pangeran Boris. Kalau ada revolusi, Rusia punya dalih bagus untuk masuk dan menganeksasi provinsi itu. Dan kita tahu apa akibatnya nanti.”

“Ya,” timpal Moore, “dan aku hafal betul negeri itu. Novel terakhirku didasarkan pada perpolitikan Contigean. Puteri Natalie senang sekali dengan buku tersebut. Dan aku yakin dia di pihak kita.”

“Kau punya karakter aneh,” kata Sir Greshman. “Semoga imajinasimu menemukan solusi untuk masalah ini. Kita tak ingin ada tragedi lagi. Dan ingat, kau diberi keleluasaan. Lapor­kan pada kami siapa yang melakukan kejahatan ini, dan kami tak minta lebih. Untuk sementara kau adalah penjelmaan Secret Service Fund.”

Moore hampir sampai di tempat tujuan. Tiga rekan pem­berani telah binasa dalam misi yang sama, tewas secara misterius, sampai-sampai Pemerintahan Ratu tak mampu melempar tuduhan pada siapapun. Mereka dirobohkan satu persatu, sebelum sempat menginjakkan kaki di Tenedos, ibukota Contigua. Dan, sepanjang yang dia ketahui, nasib sama menantinya 20 mil lagi.

Sementara ini dia sangat ketakutan. Ancaman pasif selalu membuatnya nyaris sakit fisik. Imajinasi menggetarkannya. Dia tak mau makan, dia tak mau melakukan apa-apa selain mengisap rokoknya yang mudah dijumpai.

Judul asli : By Woman's Wit ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, February 2016
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment