Skip to content
Pengakuan – Relift Media

Pengakuan

Sebagian orang terlahir untuk digantung, sebagian ditimpa hukuman gantung, dan sebagian (seperti yang kuharapkan) menggapai hukuman gantung. Rasanya berabad-abad sejak aku mulai menanti-nanti kesempatan seperti ini.


Aku akan mengangkat selubung misteri yang hampir tujuh tahun menyelimuti kisah Mary Ware. Meski ini akan menelanjangi kelemahanku sendiri, atau kebodohanku, atau apapun kau menyebutnya, aku takkan surut dari penyingkapan ini.

Tak ada selain aku yang sanggup melakukan tugas ini. Memang ada seseorang yang bisa melakukannya lebih baik daripada aku. Tapi dia menempuh jalannya sendiri dalam kebungkaman. Aku suka orang yang bisa menjaga lidahnya.

Di simpang Jalan Clarke dan Jalan Crandall, New York, berdiri sebuah rumah papan kumal. Rumah yang sangat tua. Gaya bangunan usang sudah cukup memberitahumu. Tam­pilannya murung, sengsara, meski dahulunya pasti pernah menjadi mansion. Kupikir, rumah-rumah, layaknya manusia, pada akhirnya menjadi sedih atau gembira, sesuai pengalaman mereka. Hawa beberapa pintu depan menceritakan sejarah mereka.

Rumah ini, kuulangi, saat ini memiliki tampilan murung, sengsara, dan disewa oleh keluarga-keluarga Irlandia yang tak terhitung jumlahnya, sementara sebuah toko barang antik yang mencolok dan berkapasitas penuh berada di besmen. Tapi pada waktu aku menulis ini, tempat tersebut menjadi asrama kelas dua, lebih dihormati, dan sebagian besar menjadi langganan sastrawan miskin tapi jujur, aktor-aktor drama tragedi, anggota paduan suara, dan orang-orang semacamnya.

Apartemenku di Jalan Crandall berseberangan dengan bangunan ini. Perhatianku langsung terarah padanya segera setelah menempati kamar, dengan ditemukannya fakta-fakta berikut:

Pertama, seorang nyonya cantik bermukim di muka lantai dua, dan bernyanyi bagai kenari setiap pagi.

Kedua, namanya adalah Mary Ware.

Ketiga, Mary Ware adalah seorang danseuse, dan memiliki dua kekasih—cuma dua.

Mary Ware adalah nyonya besar di The Olympic. Setiap malam mendapatiku di bangku teater. Kupikir tak ada yang menyamai keringanan dan keluwesan tariannya. Dia seperti menyatu dengan musik. Dia salah satu pusat perhatian terbaik waktu itu. Rambut emas mengkilapnya menjuntai sampai ke pinggang, menaungi salah satu wajah gesit yang mengingat­kanmu pada lukisan Beatrix Cenci karya Guido—ada kesegaran dan pesona di mulutnya. Mata oval berkilauan, memandang dari bawah rumbai-rumbai yang terkulai, menjadi kesenangan sekaligus kesengsaraan para pemuda.

Ah! Dikau mengusik pikiran di malam-malam kejayaanmu, tatkala buket-buket mendekap pergelangan kakimu yang lentur, dan ciuman kastanyetmu membuat jantung berdebar; tapi aku ingat saat kau berbaring di ranjang surammu, di siang bolong, dengan kejayaan yang memudar dari alismu, dan “tak ada seorang pun yang menghormatimu”.

Waktu itu aku membungkuk dan menciummu—tapi tidak sebelum waktu itu.

Bagiku Mary Ware adalah bahan pelajaran yang lebih menyenangkan dibanding kekasih-kekasihnya. Dia punya dua kekasih, seperti sudah kubilang. Salah seorang dari mereka cukup biasa-biasa saja—tegap, berpakaian rapi, dangkal, lembek. Alam, ketika habis kesabaran dengan karya-karya terbaiknya, menanggalkan hal semacam itu dengan kasar, alih-alih berserapah. Dia seorang letnan, kukira di Angkatan Laut. Kancing keemasan punya pesona untuk menenangkan dada yang ganas.

Pria satu lagi berpotongan berbeda, dan entah mengapa waktu itu menarik perhatianku. Pertama kali melihatnya seperti bukan baru pertama. Tapi barang kali ini cuma kesan susulan.

Judul asli : Out of His Head ()
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, December 2014
Genre :
Kategori :
Unduh :

No comments

Post a Comment